Penance - Minato Kanae [BOOK REVIEW]

Setelah lebih dari satu bulan gak nulis di blog, aku kembali dengan review buku yang bikin aku tercengang beberapa hari terakhir ini. Judul bukunya adalah Penance, karya kedua dari penulis Jepang Minato Kanae. Buku ini adalah buku dengan psychological thriller dan seingatku ini adalah pertama kalinya aku baca buku dengan genre psychological thriller. Aku tau buku ini dari video youtube nya Kanaya Sophia, dia adalah seorang booktuber yang suka mereview buku lewat youtube. Aku nemu accountnya Kanaya Sophia dari instastorynya Dr. Jiemi Ardian. Lah, apa hubungannya seorang psikiater dengan booktuber? Jadi kemarin itu, Kanaya Sophia, yang biasa dipanggil Kak Aya, ini melakukan diskusi buku bersama Dr. Jiemi Ardian, Dr. Andreas Kurniawan, dan Andry Setiawan. Buku yang mereka diskusikan adalah buku Penance ini. Dr. Jiemi dan Dr. Andreas adalah psikiater sementara Mas Andry adalah penerjemah dari buku Penance. Mereka melakukan diskusi buku ini dengan sangat menarik. Walau udah ada disclaimer dari awal kalau diskusi mereka akan penuh dengan spoiler, tapi aku tetap hajar aja karena rasa penasaranku perlu dipancing dengan spoiler. Aneh memang, ya. XD

Tapi, baru beberapa menit pertama mereka malah langsung membahas pelakunya. Lah, spoilernya gak tanggung-tanggung rupanya. X'D X'D




Jadi, sebenarnya buku ini tuh tentang apa, sih? Sesuai dengan judulnya Penance, yang secara harafiah berarti, "penebusan dosa", buku ini berkisah tentang penebusan dosa dari tragedi 15 tahun lalu, saat seorang anak perempuan berumur 10 tahun, Emily, menjadi korban kekerasan seksual dan dibunuh oleh orang yang tidak dikenal. Yang menjadi saksi dari kasus mengerikan tersebut adalah teman-teman Emily yaitu, Sae, Maki, Akiko, dan Yuka. Sayangnya, mereka tidak bisa mengingat wajah si pelaku yang membawa Emily dengan berpura-pura meminta bantuan. Karena tidak ada kesaksian yang berarti dan bukti yang bisa membawa polisi kepada pelakunya, penyelidikan kasus itu pun terhenti.

Ibu Emily yang merasa sangat kehilangan dan tidak terima karena anaknya meninggal dengan tragis pun mengancam teman-teman Emily agar menemukan pelakunya. "Temukan pelakunya sebelum kasusnya kadaluarsa, atau ganti rugi dengan cara yang bisa aku terima. Jika tidak, aku akan membalas dendam pada kalian." Perkataan itu dilontarkan dengan marah tiga tahun setelah kasus itu terjadi, di depan anak-anak kelas 1 SMP.

Dari sinilah ceritanya dimulai dan semua hal terkuak satu demi satu, menuntun mereka menuju tragedi-tragedi lain yang tak kalah mengerikan dari kasus Emily.

Aku sangat salut dengan gaya berceritanya Minato Kanae. Dalam buku ini, Minato Kanae menggunakan sudut pandang masing-masing anak yang dipersilahkan untuk bercerita tentang diri mereka dan tentang kasus yang terjadi 15 tahun yang lalu. Saat itu, Sae, Maki, Akiko, dan Yuka sudah tumbuh dewasa. Yang tidak mereka pahami sepenuhnya adalah bahwa mereka tumbuh dewasa bersama dengan trauma masa kecil yang diperparah dengan tragedi mengerikan yang menimpa Emily. Kata-kata penuh amarah dari Ibu Emily pun merasuk ke dalam alam bawah sadar mereka yang membuat mereka terus ketakutan dan berusaha mati-matian untuk melakukan "ganti rugi" yang dirasa bisa diterima oleh Ibu Emily.

Bab pertama adalah cerita tentang Sae. Pertama-tama, Sae bercerita tentang kotanya yang memiliki udara paling bersih di Jepang, ia mengetahui tentang fakta itu karena perusahaan Adachi membangun pabrik mereka di Jepang. Saat itu banyak orang-orang Tokyo yang pindah ke kota itu dan saat itu pulalah Sae bertemu dengan Emily yang merupakan anak pindahan di kelasnya.

Awalnya aku bisa menikmati cerita Sae, karena ia menceritakan kisahnya di kota kecil yang menurutnya biasa-biasa itu. Sae menceritakan bahwa ia sering bermain dengan Maki, Akiko, Yuka, dan Emily. Lalu ia bercerita bahwa di kota itu terdapat kebiasaan menaruh Boneka Perancis di bagian depan rumah yang katanya merupakan lambang status sosial yang sudah punah. Lalu, setelah kasus itu terjadi, Sae hidup dengan ketakutan. Takut bahwa dirinya juga akan dibunuh seperti Emily. Ketakutan itu membuat dirinya tidak bisa mengalami menstruasi sampai umur 25 tahun. Semakin aku mengikuti cerita Sae, aku semakin terhanyut dan gak bisa berhenti. Setelah mendekati akhir bab, aku malah dikejutkan oleh sebuah kejadian yang mengerikan! Saat bab satu selesai, aku langsung berkomentar, "GILA!!" Entah komentar itu aku tujukan pada tokohnya atau penulisnya.

Kemudian, bab kedua adalah cerita tentang Maki. Di kota kecil itu, Maki yang merupakan anak paling tinggi diantara teman-temannya dan selalu menjadi anak yang paling diandalkan. Orang-orang di kota itu melabeli Maki sebagai anak yang bertanggung jawab. Karena ia adalah anak sulung, di rumah pun Maki selalu dilabeli seperti itu. "Kamu saja yang melakukan ini, kamu kan kakak", "Maki kan lebih tua daripada yang lain, maka Maki saja yang lakukan." Maki kecil menganggap semua itu wajar, maka ia terbiasa menjadi person in charge untuk segala sesuatu, ia senang jika semua orang mengandalkan dirinya. Sampai akhirnya Emily datang dan menggeser posisi Maki. Maki yang biasanya diandalkan oleh teman-temannya ini harus menerima saat teman-temannya lebih memilih ide permainan yang dilontarkan Emily. Mungkin karena faktor Emily adalah anak yang datang dari kota besar, maka anak-anak di kelas selalu mendekati Emily. Yang tadinya "apa-apa Maki" jadi "apa-apa Emily". Maki jelas sebal sama Emily. Sampai sesaat sebelum kasus itu terjadi pun Maki masih sebal sama Emily karena si orang tidak dikenal malah memilih Emily untuk membantunya. Andaikan saat itu Maki tahu hal apa yang akan menimpa Emily, apakah dia masih sebal?

Awalnya, aku pikir trauma yang dialami Maki tidak separah Sae. Karena ia mengartikan "ganti rugi" yang dimaksud Ibu Emily sebagai penggantian atas hal yang ia lakukan saat kasus itu terjadi. Saat ia dan teman-teman lain menemukan Emily sudah tidak bernyawa, Maki dengan sigap membagi tugas pada teman-temannya. Akiko disuruh pergi ke rumah Emily memanggil ibunya, Yuka ke kantor polisi, Sae berjaga di TKP, sementara dirinya pergi mencari guru. Semua temannya menjalankan tugas dengan baik, setidaknya itulah yang Maki pikirkan, sementara ia malah ketakutan dan mengurung diri di kamarnya. Saat Ibunya menemukan dia menangis di kamar, ibunya malah ngomel, "kenapa kau malah bersembunyi ketika ada kejadian seperti itu, dan tidak bilang apa-apa begitu pulang?" Lah, gimana? Anaknya habis menyaksikan temannya terbunuh loh itu, bukan ngeliat kucing mati di jalan. :l :l

Kejadian itu malah membuat Maki berusaha membayar "ganti rugi" dengan cara menjadi orang yang bertanggung jawab dan lebih bisa diandalkan dari pada sebelumnya. Ia merasa bahwa apa yang ia lakukan sudah benar, dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Tapi, ternyata hal itu malah membawa dia kepada malapetaka baru bertahun-tahun kemudian. Kembali aku berkata, "GILA!!" begitu aku selesai membaca kesaksian Maki. Oh, dan dalam bab ini, Maki membeberkan sesuatu yang mengarahkan aku kepada pelakunya. Hmm

Bab setelahnya adalah tentang Akiko. Aku mengambil jeda sebentar sebelum membaca bab ini, kalau-kalau cerita tentang Akiko kembali membuatku tercengang-cengang. Dan benar aja. Walau "kelihatannya" gak sehoror Sae dan Maki, tapi Akiko malah mengurung diri di dalam rumah sejak kasus itu. Akiko yang memang dasarnya pendiam dan insecure karena bentuk badannya yang lebih besar dari anak-anak lain pun semakin menutup diri dan menjadi hikikomori (istilah orang Jepang untuk menyebut orang-orang yang kerjaannya hanya berdiam diri di dalam rumah tanpa melakukan hal-hal berarti). Akiko bahkan menolak untuk masuk SMA dan hal ini membuat orang tuanya hilang harapan padanya. Akiko punya kakak laki-laki yang selalu menjadi support systemnya sejak kecil. Kakaknya ini diceritakan sangat menyayangi Akiko dan juga mengajarkan Akiko olahraga, maka walaupun Akiko badannya besar tapi ia cukup cekatan. Nah, aku pikir karena anak ini punya support system yang cukup maka hidupnya gak akan semengerikan Sae dan Maki. Tapi, ternyata dugaanku salah. Serangkaian kejadian yang terlihat wajar malah memunculkan kejadian mengerikan baru dan di dalam benak Akiko kembali terputar kejadian saat ia tidak bisa menolong Emily. Kasus 15 tahun yang lalu menggerogoti dirinya dengan rasa bersalah yang teramat sangat dan ia pun merasa harus melakukan "ganti rugi" seperti yang dikatakan oleh Ibu Emily.

Kali ini aku gak teriak lagi, karena aku udah speechless. Rasa gak nyaman yang aku rasakan setelah aku selesai membaca setiap bab semakin menjadi-jadi. Di Jepang, buku seperti ini dikategorikan sebagai iyamisu, yaitu buku yang memberikan rasa gak nyaman setelah kita selesai membacanya. Aku baru tahu sih ada genre buku begitu, tapi ya memang tepat kalau buku ini dikategorikan sebagai iyamusi. Hmm

Bab selanjutnya adalah cerita tentang Yuka yang mengaku bahwa kasus Emily tidak memberikan dampak apapun pada kehidupannya. Apa yang ia lakukan dan tragedi yang terjadi padanya pun bukan karena kasus itu. Yuka merasa bahwa ia tidak memiliki ketakutan berlebihan seperti Sae, tidak harus mengganti rugi seperti Maki, dan tidak merasa bersalah seperti Akiko. KATANYA begitu. Tapi, aku rasa kasus itu mempengaruhi Yuka dengan cara yang berbeda dari teman-temannya. Alih-alih rasa takut dan rasa bersalah, hal yang timbul dalam benak Yuka adalah sebuah obsesi.

Yuka adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Keluarganya cukup berada walau gak sekaya keluarga Emily, tapi kakaknya memiliki asma dan tubuh yang lemah, sehingga yang sering mendapat perhatian dari kedua orang tuanya adalah kakaknya. Yuka terbiasa menjadi orang yang "tidak terlihat" sejak kecil. Karena Yuka memiliki rabun jauh, ia memakai kacamata dan sering memicing-micingkan matanya untuk melihat sesuatu. Ia merasa karena matanya itulah ibunya sering menuduhnya yang tidak-tidak. Lalu, dengan alasan kakaknya memiliki tubuh yang lemah pula Yuka jadi lebih sering disuruh-suruh. Perlakuan orang tuanya sungguh gak adil, sih.

Mungkin benar, kasus itu gak secara langsung mempengaruhi Yuka karena sebenarnya trauma yang dialami Yuka berasal dari keluarganya sendiri. Saat kasus itu terjadi, Yuka malah disalahkan karena tidak bisa pulang sendiri sementara ibunya sedang merawat kakaknya yang katanya gak enak badan dan ayahnya tidur setelah bertemu dengan teman-temannya. Ibu macam apa coba ya pas ada kasus pembunuhan, yang bikin gempar satu kota, tapi malah gak cemas sama sekali karena anak bungsunya belum pulang, malah ngomel karena anaknya itu gak bisa pulang sendiri. Ckckck Saat itu Yuka menangis dan aku bisa merasakan rasa sedihnya yang teramat sangat, bukan karena temannya dibunuh tapi karena ia mulai berpikir kalau ia yang dibunuh pun ibunya gak akan datang mencarinya. *pukpuk Yuka-chan*

Saat itu Yuka diantar pulang oleh seorang polisi bernama Ando-san. Ando-san yang gak tahu apa-apa tentang Yuka malah menghibur Yuka dan mengatakan bahwa Yuka telah berusaha dengan baik untuk membantu penyelidikan. Setelah itu, Yuka selalu mencari perhatian dengan menjadi anak nakal, tapi Ando-san yang sadar akan perbuatan Yuka gak marah karena kelakuannya itu. Saat itulah obsesinya muncul, obsesi pada pekerjaan polisi, yang menjerumuskannya pada kejadian yang lagi-lagi tak terbayangkan.

Yang menarik dari buku ini, selain cerita yang disuguhkan dari masing-masing saksi teman main Emily, disuguhkan juga cerita dari sudut pandang Ibu Emily. Ibu Emily menceritakan masa mudanya yang aku pikir cuma pemanis aja tapi ternyata malah sangat berhubungan dengan kasus yang menimpa anaknya, plot twist yang memukau kalau ku bilang. Menarik banget karena Minato Kanae berhasil membedah perasaan dan pemikiran seorang ibu yang kehilangan anaknya dengan cara yang tragis.

Selain cara berceritanya yang belum pernah aku temui di buku-buku yang pernah aku baca sebelumnya, Minato Kanae juga mengemas setiap kejadian dengan sangat menarik seperti puzzle yang berserakan, tapi setelah aku menemukan benang merahnya, puzzle itu satu persatu tersusun menjadi cara yang masuk akal. Pantas aja Minato Kanae dikenal juga sebagai The Queen of Iyamisu. Cerita yang ia buat masih menempel di kepalaku, dengan begitu erat, dan membuat rasa cemasku berlipat-lipat dari biasanya sejak aku membaca buku ini. Cari gara-gara sih, Mei.. X'D X'D

Kalau aku baca sinopsisnya duluan sih aku pastikan kalau aku gak akan baca, karena issue yang diangkat dalam buku ini adalah issue yang sangat aku hindari. Kasus kekerasan seksual pada anak kecil. Aku gak pernah sampai hati membayangkan kronologi kejadiannya dan membayangkan bagaimana si anak kecil menangis tak berdaya karena diperlakukan dengan tidak semestinya oleh orang biadab yang gak dia kenal. Duuh.. Tapi, dalam buku ini, aku malah "dipaksa" untuk "melihat" kejadian tragis itu dengan jelas, maka saat aku baca buku ini aku malah ingin cepat-cepat selesai karena aku ingin cepat-cepat "keluar" dari ranah yang gak mengenakan itu.

Inilah akibatnya kalau aku udah kepalang kepincut sama diskusi bukunya yang penuh spoiler yang aku bilang ku tonton di youtube. XD XD Kalau kalian juga tertarik untuk mendengarkan diskusi bukunya, kalian bisa tonton di sini. Selain membahas isi bukunya, karena narasumbernya adalah psikiater, dibahas juga tentang apa-apa aja trauma yang dialami oleh Sae, Maki, Akiko, dan Yuka. Dari sisi psikologis, Dr. Jiemi dan Dr. Andreas menjelaskan bagaimana kejadian yang traumatis bisa membentuk kepribadian seseorang, baik secara sadar ataupun gak sadar, dan bagaimana trauma itu bisa melekat padahal kejadian itu udah berlalu 15 tahun. Lalu, salah satu yang paling ku setujui dari diskusi bukunya (setelah aku selesai membaca buku ini) adalah peran keluarga itu sangat SANGAT berpengaruh pada anak. Umur berapa pun, seorang anak pasti akan merekam kejadian dan perlakuan yang ia terima dari keluarganya. Apa yang ibunya bilang akan terekam dan mereka anggap benar, saat ibunya menyalahkan mereka maka mereka akan menganggap bahwa mereka memang salah, saat ibunya membandingkan mereka dengan anak lain maka mereka akan mengira bahwa mereka bukan anak yang cukup baik, deelel deelel. Selain itu, komunikasi pun sangat krusial untuk satu sama lain. Banyak hal yang disangka sepele tapi ternyata berakibat fatal dalam buku ini karena komunikasi yang mandek.

Hmm Apalagi ya yang aku suka dari buku ini, kayaknya udah aku tulis semua, sih. Selanjutnya, hal yang aku sayangkan adalah kejelasan kasusnya. Diakhir cerita, kasusnya ditutup dengan cara yang masuk akal dan Ibu Emily berusaha mengganti rugi apa yang telah ia perbuat. Pelakunya? Tertangkap. Tapi, dengan cara yang aku gak tau. Ini yang gak dijelasin, padahal ada serangkaian cerita dan plot twist yang akhirnya berhasil mengungkap pelakunya. Aku kan penasaran kenapa dia bisa-bisanya kenal Emily dan kalau dibedah dari sudut pandang si pelaku pasti menarik walau rasanya pasti mengerikan juga. Gimana coba ya rasanya mendengarkan cerita kekerasan seksuan dan kasus pembunuhan dari mulut pelakunya sendiri. *auto sakit kepala* Tapi, ya justru karena itu aku jadi kurang puas dengan eksekusinya. Apa karena memang pusatnya adalah ke anak-anak kecil yang tumbuh dengan trauma? Apa karena yang penting kasusnya selesai dengan cara yang bisa diterima pembaca? Atau karena Minato Kanae emang sengaja membuat open conclusion begitu biar pembaca sendiri yang menerka-nerka motif si pelaku? Aaaah malah ini yang bikin aku penasaran, kan. *hiks

Jadi, aku berikan 4/5 bintang.

Oh, selain dari sisi endingnya si pelaku, aku juga gak puas dengan cetakan bukunya. Cover buku untuk edisi Indonesianya bagus, sih, tapi menurutku terlalu unyu buat buku dengan genra psychological thriller, apalagi warna yang ditampilkan adalah warna warna yang cerah. Walau ceritanya dari kejadian yang terjadi saat anak-anak, tapi kan ceritanya bukan cerita anak-anak. Lalu, saat pertama kali aku buka bukunya pun aku langsung kesal. Kenapa? Karena cetakannya miring-miring, dong. Untung aja ceritanya berhasil menarik seluruh perhatianku, kalau engga aku bakal kesal dari awal sampai akhir. Bzz

Cover aslinya seperti ini.

goodreads.com

Kalau covernya kayak begini kan aku langsung percaya kalau genrenya psychological thriller. Walau kemungkinan gak jadi bacanya lebih besar karena dari covernya aja aku udah merasa terganggu. Tapi, cover ini bagus banget sih, sungguh menggambarkan apa yang ada di dalam bukunya. Kesedihan, rasa bersalah, dan penyesalan.

Nah, sekian review penuh spoiler dariku. Wkwkwkwk Semoga kalian bisa menikmati bukunya seperti aku, ya. Selanjutnya aku mau lanjut baca buku pertamanya Minato Kanae yang judulnya Confession, katanya lebih meledak-ledak alurnya dari buku Penance ini.

Comments

  1. Astaga jadi pingin beli dan baca buku ini.

    ReplyDelete
  2. aku udah beli buku ini versi indonesianya dan jepangnya, sekaligus jadi bahan skripsiku. terima kasih reviewnya yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah.. selamat membaca dan selamat membuat skripsi, semoga lancar, ya.. :D
      Anw, makasih udah baca reviewku, ya :D

      Delete
  3. Makasih kak review nya bagus ! Kak aku udah baca T_T jadi pembunuhnya ayahnya Emily kan. Aku speechless. Sekarang aku sadar sekecil/ setidak berarti apapun yg kita ucapkan pasti yang diterima orang lain berbeda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama.. Terima kasih sudah membaca, ya :D
      Iya, bener. Buku ini tuh bener2 ngasih tau kalau apa yg kita omongin kalau lagi emosi atau kalau ngomong tanpa pikir panjang tuh akibatnya bisa fatal, ya >.<

      Delete
  4. aku udah baca reviewnya, baru aja aku selesai baca, alasan ayahnya membunuh emily kan karena dendam dengan ibu emily yang menyembunyikan surat wasiat dari akie. mungkin ayah emily akhirnya tahu, dengan cara menyelidiki bahwa yang menyebabkan kematian akie adalah ibu emily. dan ayah emily bahkan tidak tahu bahwa dia punya anak dari ayako (ibu emily)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya? Akie itu siapa, ya? Kok aku gk inget ada tokoh Akie, ya. Atau lupa ya saking udah lama bacanya X'D

      Delete
    2. akie tu sahabat ibuknya emily jaman kuliah kak . orang yang disukai sama pembunuhnya

      Delete

Post a Comment

Popular Posts