Second Sister - Chan Ho Kei [BOOK REVIEW]

Kali ini aku mau membahas tentang buku yang membuatku gak bisa move on selama berhari-hari. Judulnya Second Sister (Putri Kedua) yang ditulis oleh Chan Ho-Kei. Sebenarnya aku sudah lama galau mau beli buku ini. Banyak review di Instagram yang bilang buku itu bagus dan ratingnya di Goodreads pun 4.24. Sayangnya bukunya itu mahal banget, harganya 160ribu sekian kalau gak salah dan lagi tebal juga 600an halaman. Aku jadi takut kalau-kalau ternyata aku gak suka kan sayang banget ya bukunya mahal >.< Nah, setelah berbulan-bulan galau akhirnya aku nonton diskusinya Kak Aya yang sempat menjadikan buku itu sebagai buku yang dibaca bareng sofaliterasi bulan Juni 2021. Nah, di video diskusi yang durasinya lebih dari 2 jam itu dibahas tuh semua-muanya tentang novelnya Chan Ho-Kei. Oiya, dalam diskusi itu juga ada Mbak Reita Ariyanti, orang yang menerjemahkan buku Second Sister dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Diskusinya seru banget, penuh dengan spoiler juga wkwkwk Akhirnya aku memutuskan untuk baca bukunya dan kebetulan temanku ada yang ngasih info kalau saat itu buku Second Sister sedang diskon, harganya jadi <150 ribu di e-commerce (lupa aku belinya di tokped atau shopee). Yaudah deh tanpa mikir banyak-banyak aku langsung checkout bukunya (tapi, emang biasanya aku kalau online shopping itu gak pernah pake mikir, sih wkwkwk) Btw, kalau kalian mau nonton diskusinya Kak Aya bisa nonton di sini.




Second Sister ini bercerita tentang kasus bunuh diri Au Siu Man, seorang siswi SMA berumur 15 tahun yang lompat dari gedung apartemennya di lantai 22. Beberapa bulan sebelumnya, hidup Siu Man memang dirundung masalah terus menerus. Mulai dari kematian ibunya, lalu ia mendapat pelecehan seksual di kereta, setelah itu ia malah dirundung di internet karena ada orang yang mengatakan bahwa Siu Man itu cewek gak benar dan kasus pelecehan seksualnya di kereta hanya akal-akalannya saja. Dari semua hal yang menimpa Siu Man itu, Nga Yee, kakaknya, tak pernah membayangkan kalau Siu Man akan melakukan tindakan nekat untuk mengakhiri hidupnya. Nga Yee bersikeras untuk mengetahui siapa orang yang mendorong adiknya melakukan aksi nekat itu. Akhirnya Nga Yee mencari detektif yang bisa membantunya. Awalnya Nga Yee meminta bantuan detektif swasta "tradisional" yang merupakan paman dari rekan kerjanya, Wendy. Tapi, ternyata penyelidikannya mentok karena berada diranah yang bukan keahliannya. Akhirnya si detektif itu menyuruh Nga Yee untuk meminta bantuan N, seorang detektif yang memiliki kemampuan mumpuni dibidang teknologi dan internet. Sayangnya, pertemuan Nga Yee dan N tidak berjalan semulus yang ia kira. Di saat Nga Yee merasa bahwa hanya N yang bisa membantunya mencari jalan keluar, detektif eksentrik itu menolaknya mentah-mentah dengan mengatakan bahwa kasus Nga Yee terlalu mudah baginya. Eh, gimana sih..

Awalnya aku pikir buku yang tebalnya cocok untuk menggebuk orang ini isinya akan seputar upaya Nga Yee mencari orang yang membuat adiknya bunuh diri dan membalas dendam. Tapi, ternyata tidak selurus itu masalahnya. N yang pada mulanya menganggap bahwa ia bisa menyelesaikan kasus Nga Yee dengan mata terpejam pun akhirnya berubah pikiran setelah ia mencoba mengulik kasusnya. Akhirnya N bersedia membantu Nga Yee menemukan siapa yang menjadi biang keladi dari tindakan Siu Man. Sebagai ahli dalam bidang teknologi dan internet, N "mengacak-ngacak" dunia maya untuk mencari petunjuk. Selain itu, N juga mendatangi langsung para saksi dan orang-orang yang ia curigai, dengan penyamaran tentu saja. Aksi N di beberapa bagian dan sikapnya yang eksentrik dan juga sombong mengingatkanku dengan aksi-aksi detektif klasik seperti Sherlock Holmes.

Nga Yee yang bekerja sebagai pustakawan dan memiliki pengetahuan terbatas tentang teknologi dan internet pun langsung membuat N geleng-geleng kepala. Aku juga sempat geleng-geleng, sih. Karena masa udah tahun 2015 (FYI, buku ini settingnya di Hongkong tahun 2015) tapi masih ada yang gak paham cara buka email. Tapi, ini juga salah satu hal yang menjadikan buku ini menarik. Di beberapa bagian, ada saat di mana N menjelaskan hal-hal tentang internet kepada Nga Yee. Walau N itu sombong wkwkwk tapi dia menjelaskan segala hal dengan cara yang mudah dipahami orang awam seperti Nga Yee dengan cara membuat analogi tentang buku dan perpustakaan. Misalnya saat ia memanipulasi halaman web yang dilihat oleh orang yang duduk di cafe, ia menganalogikan wifi cafe seperti pustakawan dan orang yang berselancar di internet adalah orang yang hendak meminjam buku. Tapi, N berpura-pura sebagai pustakawan itu dan mengambilkan "buku" yang lain untuk orang yang datang. Metode seperti itu adalah metode meretas yang dikenal dengan serangan man-in-the-middle (MITM). Dan dari penjelasan N yang ini, aku dibuat terngaga-nganga karena ternyata meretas itu mudah sekali. Mungkin ada beberapa orang yang akan parno setelah membaca buku ini karena selain cara meretas dengan serangan MITM dijelaskan juga cara meretas kamera handphone atau kamera laptop bahkan ketika fitur kameranya tidak dinyalakan. Aku pernah bertanya-tanya kenapa laptop kantorku ada slot untuk menutup kamera di atas layar karena kan kalau sedang online meeting dan aku gak menyalakan kamera ya kameranya gak akan nyala jadi menurutku slot itu gak berguna, dan setelah membaca buku ini aku jadi tahu apa fungsi sebenarnya.

Cerita pencarian N dan Nga Yee rasanya berjalan lama sekali. Benar-benar seperti bermain kucing-kucingan karena orang yang menggunakan akun palsu untuk menyerang Siu Man di internet memiliki "rekan" yang pintar menghapus jejak. N perlu waktu lebih lama dari yang ia kira hanya untuk menemukan ip sebenarnya yang digunakan oleh orang itu. Tapi, petunjuk-petunjuk yang bermunculan malah membuat N dan Nga Yee berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka kira. Kasus Siu Man yang diberitakan di mana-mana hanya seperti gunung es yang terlihat puncaknya saja, sementara bagian bawahnya tersimpan tragedi dan luka yang tidak pernah sembuh.

Disclaimer: Bagi yang belum baca mungkin cukup baca reviewku sampai sini aja, ya. Karena selanjutnya aku akan membeberkan impresiku lebih lanjut tentang buku ini yang sepertinya mustahil ku tulis tanpa spoiler. Kalau kalian gak keberatan dengan spoiler ya monggo dilanjut. Hehe

Dari kasus bunuh diri Siu Man, aku diarahkan untuk melihat dunia anak-anak SMA yang rapuh dan penuh tipu muslihat, lalu aku juga ditunjukkan cara-cara orang meretas dan bagaimana agar bisa menghilangkan jejak setelah memposting suatu hal di internet, dan juga sisi lain Hongkong yang tampak gemerlap sekali di luar tapi ternyata sangat tidak stabil. Di beberapa bab awal, diceritakan tentang keluarga Nga Yee yang merasakan sulitnya hidup di Hongkong. Kakek dan Nenek Nga Yee yang merupakan imigran dari China Daratan sulit untuk memiliki penghasilan yang stabil di Hongkong. Belum lagi terjadi kebakaran besar juga demonstrasi dan krisis keuangan di Asia. Ayah Nga Yee yang meninggal akibat kecelakaan kerja pun tidak mendapatkan pesangon yang layak sehingga istrinya harus bekerja di banyak tempat untuk menghidupi kedua anaknya. Ini adalah ironi lain dari kehidupan mereka yang sebenarnya membuatku berandai-andai. Kenapa saat ayahnya meninggal, ibu Nga Yee menolak untuk mendapatkan dana dari pemerintah? Padahal katanya bantuan pemerintah jumlahnya lebih besar dari pada upah yang ia terima setelah bekerja keras di banyak tempat. Kalau saja ibu Nga Yee menerima bantuan pemerintah, mungkin keadaan mereka tidak akan semenyengsarakan itu. Nga Yee bisa melanjutkan kuliahnya dan akhirnya mendapat pekerjaan yang lebih baik dan ibunya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi Siu Man.

Aku bisa berempati dengan Nga Yee karena ada beberapa potong kehidupannya yang terasa serupa denganku. Tambahan lagi, kepribadiannya yang tertutup dan berusaha untuk kuat demi keluarganya pun amat sangat bisa ku pahami. Nga Yee berpikir bahwa adiknya, Siu Man pun bisa mengatasi semua hal sama seperti dirinya. Tapi, nyatanya kepribadian mereka berbeda. Nga Yee terbiasa memendam dan bisa "melarikan diri" lewat buku sementara Siu Man adalah anak yang ceria dan selalu butuh orang lain untuk diajak bicara.

Setelah sekian banyak penyelidikan via daring dan luring dan juga sekian banyak penyamaran, akhirnya N dan Nga Yee mendapatkan pencerahan. Dari sekian nama yang diduga N menjadi tersangka, akhirnya mengerucut menjadi tiga, sampai akhirnya menyisakan satu nama. Violet To.

Saat N dan Nga Yee akhirnya menetapkan Violet sebagai tersangka utama mereka itu rasanya menyesakkan sekali buatku, terlebih ketika masa lalu Violet yang berhasil ditemukan N dbeberkan secara gamblang. Violet adalah anak pendiam yang memilih buku dan menulis review di blog sebagai pelariannya. Masalah keluarganya pelik sekali. Ia tinggal bersama ayah tirinya karena ibunya pergi bersama lelaki lain dan ayah tirinya melarang Violet untuk berhubungan dengan kakaknya. Rasa kesepian Violet tergambar jelas dalam buku ini dan sama seperti Siu Man, Violet pun adalah korban perundungan di sekolahnya karena ia diduga menjadi tukang ngadu yang membuat salah satu siswi populer di sekolahnya dikeluarkan. Padahal bukan seperti itu jalan ceritanya. Kasus yang mendera Violet itu membuatku ngeri sendiri. Memang sudah ada banyak kasus perundungan anak sekolah yang muncul di berita dan berujung tragis, tapi aku gak menyangka bahwa manusia-manusia berumur belasan tahun itu bisa tega melakukan perundungan sampai segitunya terhadap teman satu sekolah mereka sendiri. Banyak dari mereka yang sikapnya seperti monster kecil yang siap memakan semua orang yang berlawanan dari mereka dan zaman sekarang mudah saja untuk menyebarkan kabar bohong dan kata-kata kasar lewat internet. Sayangnya, masih banyak pihak sekolah yang menganggap perundungan verbal itu bukan hal yang perlu mereka soroti, padahal mereka seharusnya paham bahwa anak remaja itu adalah anak-anak yang terlihat kuat diluar tapi sangat rapuh di dalam.

Kisah Countess, teman sekelas Siu Man yang lain, menjadi contoh lain bahwa anak-anak remaja sangat butuh pengakuan maka mereka mati-matian membuat image mereka terlihat baik di depan orang-orang yang seharusnya mereka jauhi. Menurutku ini ironis sekali. Aku yang tinggal di kota kecil dengan sekolah yang terdiri dari 3 kelas untuk 1 angkatan pun pernah merasakan bahwa pengakuan adalah hal yang paling penting agar aku bisa bertahan di sekolah. Saat itu sosial media belum sepopuler sekarang tapi ada banyak kejadian yang membuatku trauma, apalagi saat sosial media sudah menjamur seperti sekarang.

"Hanya sedikit anak-anak zaman sekarang yang bisa mengabaikan apa yang orang-orang lain pikirkan tentang mereka. Orang-orang dewasa seharusnya mengatakan kepada mereka untuk lebih percaya diri dan menjadi diri sendiri, tapi dalam masyarakat kita yang sakit, pendidikan hanyalah tentang menciptakan sekelompok demi sekelompok robot yang akan tunduk pada otoritas dan menyelaraskan diri dengan arus utama." - N

Kalimat yang dilontarkan N itu menurutku bisa relate juga dengan sistem pendidikan di negara lain, termasuk di Indonesia. Banyak sistem pendidikan yang masih mengacu pada nilai dan ranking sementara kecerdasan emosi dan hal-hal lain yang sebenarnya lebih penting daripada sekadar angka malah diabaikan. Maka, saat terjadi sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, seperti perundungan, banyak pihak yang kewalahan dan kaget karena ternyata apa yang selama ini diabaikan akibatnya sangat amat mengerikan.

Perundungan itu adalah hal yang serius, tapi aku selalu bertanya-tanya sebenarnya apa yang dialami pelaku sampai mereka sejahat itu pada orang lain. Cerita Violet, sedikit memberiku gambaran atas pertanyaan yang selama ini menari-nari dalam kepalaku. Sebelum-sebelumnya aku selalu merasa kesal sekaligus kasihan pada orang-orang yang memberikan komentar jahat di internet tapi setelah membaca buku ini rasanya rasa kasihanku akan lebih besar daripada sebelumnya. Entah kesakitan apa yang orang-orang itu alami sampai akhirnya mereka pun menyakiti orang lain untuk mengurangi rasa sakit mereka. Tapi, nyatanya mereka hanya membuat rasa sakit baru sampai akhirnya mereka terperangkap pada lingkaran rasa sakit yang tak berkesudahan.

Selain itu, di buku ini ada juga cerita yang awalnya ku kira adalah cerita lain yang secara gak langsung akan berhubungan dengan kasusnya Siu Man. Cerita tentang Sze Chung Nam, orang cerdas yang bekerja di perusahaan teknologi kecil. Suatu hari secara mencengangkan, perusahaan tempatnya bekerja itu mendapat kunjungan investor terkemuka, Szeto Wai, yang bisa dibilang sebagai salah satu legenda di bidang teknologi dan internet. Lalu, cerita selanjutnya bergulir dengan mencurigakan. Sekian banyak kebetulan menuntun Chung Nam bertemu secara pribadi dengan Szeto Wai. Mulai dari pertemuan di Hongkong Philharmonic, lalu undangan makan di restoran mewah, sampai sekadar hang out di bar. Buatku gerak-gerik Szeto Wai sama mencurigakannya dengan Chung Nam yang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai pembunuh Siu Man sebenarnya di awal cerita. Mana ada investor yang secara pribadi ngajak bertemu karyawan di perusahaan yang mau dia invest. Kalau bertemu CEO nya masih wajar, tapi Chung Nam bukan siapa-siapa walau ia memiliki lebih banyak bakat dan pengetahuan dibanding dengan bos dan rekan kerjanya yang lain. Dari kisah itu, secara perlahan Chan Ho-Kei memperlihatkan sifat manusia yang licik seperti rubah dan senang memberi makan ego dan ambisi untuk kepentingannya sendiri dan juga sisi gelap lain dari orang-orang yang terlihat cemerlang di bagian luar. Di akhir cerita ini terdapat plot twist yang mencengangkan yang bikin aku ber "Hah?' "Hah?" ria. XD XD

Kasus yang diangkat dalam buku ini juga seolah menjawab kegelisahanku selama ini tentang dunia internet. Menurutku, internet itu adalah alat yang canggihnya luar biasa tapi aku selalu merasa bahwa kita, manusia, tidak bisa menggunakan kecanggihan internet dengan semestinya. Bagaimana tidak, semua hal bisa ditemukan di internet, semua hal bisa dilakukan hanya dengan 1 kali klik. Internet adalah alat yang sebenarnya bisa memudahkan hidup manusia dan mendorong kita ke peradaban yang lebih maju, tapi nyatanya yang terlihat seperti gunung es juga. Permukaannya baik-baik saja tapi bawahnya kacau sekali. Orang-orang jadi semakin sering berbicara dan semakin sedikit mendengar. Banyak dari kita yang menganggap bahwa kita bisa mengatakan apa pun di internet karena kita semakin mudah bersembunyi di balik layar dan akun palsu setelah kita melempar batu untuk mencelakakan orang lain.

"Internet adalah tempat yang luar biasa untuk kita berbagi pengetahuan dan meningkatkan komunikasi. Tapi manusia pada dasarnya lebih suka mengekspresikan pendapat mereka dibandingkan mencoba memahami orang lain. Kita selalu terlalu banyak bicara dan sedikit mendengarkan, itulah kenapa dunia ini begitu berisik. Baru setelah memahami ini kita akan melihat kemajuan di dunia. Saat itulah umat manusia akan siap menggunakan Internet sebagai alat." - N

Selain itu, banyak sekali hal yang bergeser makna dan fungsinya karena internet. Salah satunya adalah berita. Dulu, berita muncul dalam media cetak atau disiarkan di TV. Sudah dikurasi dan sudah terbukti kebenarannya. Media yang menyiarkan berita salah akan dikenai sanksi. Sementara sekarang, media berlomba-lomba untuk menampilkan berita paling cepat, bukan paling benar. Semua hal dibuat dengan headline semenarik mungkin, banyak yang menggunakan judul click-bait, untuk memantik rasa penasaran warganet dan akhirnya menaikkan pageviews mereka. Di satu sisi berita-berita bohong harus dibasmi tapi di sisi lain media yang seharusnya punya kewajiban untuk menampilkan berita yang berkualitas pun malah menurunkan kualitasnya semata-mata agar banyak yang baca, perkara beritanya benar atau salah itu belakangan. Sungguh ironi lain dari kemajuan internet.

"Mata rantai paling lemah adalah manusia. Seiring waktu, sistem komputer akan semakin sempurna, tapi kelemahan manusia takkan berubah." - N

Di akhir cerita, Chan Ho-Kei berusaha memuaskan rasa penasaran pembaca tentang siapakah sosok N sebenarnya. Sepanjang halaman aku menangkap sosok N ini sungguh eksentrik sekali. Cerdas, lihai, negosiator ulung, pintar menyamar, baik hati, tapi geradakan dan kadang suka meremehkan orang. N adalah salah satu legenda di bidang teknologi. Kalau kalian membacanya dengan jeli mungkin bisa menebak siapa sosok N sebenarnya. Kalau aku kecolongan. XD XD Dan kisah hidup N benar-benar terasa sebagai pengingat bahwa kita, manusia, hidup untuk memenuhi apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup. We seek for fulfillment. Dalam kasus N, menjadi sukses dan bergelimpang harta bukanlah kehidupan yang ia inginkan.

Aku suka sekali dengan cara Chan Ho-Kei bercerita. Mulai dari penjelasan politik (seperti gerakan Umbrella Movement dan peristiwa-peristiwa bersejarah) dan gaya hidup orang-orang Hongkong yang penuh hedonisme, penjelasan tentang teknologi dan seluk beluk internet, dan juga cerita-cerita di balik perundungan. Rasanya, tulisannya enak sekali untuk dibaca. Belum lagi penokohan yang kuat, terutama N yang merupakan eksentrik sejati wkwkwk, dan peran setiap tokoh yang terasa pas di setiap bagiannya. OH! Dan plot twist yang bertebaran pun sukses membuatku ber "Hah? Hah?" ria XD XD Padahal sebelum baca buku ini, aku sudah menonton diskusi bukunya Kak Aya yang penuh dengan spoiler, tapi nyatanya aku masih saja terkaget-kaget. 250 halaman terakhir tuh kayak membuatku terguncang melulu pas baca. XD XD Buku ini juga sempat membuatku dilema, karena cerita seperti Siu Man dan Violet To itu banyak sekali terjadi di dunia nyata. Jika kalian sudah membaca buku ini mungkin akan merasakan hal yang sama denganku. Karena seperti yang dikatakan N, anak-anak berumur belasan tahun adalah anak-anak yang rentan dalam segala aspek dan mudah mengambil keputusan yang ekstrem. Lalu, lewat cerita Nga Yee pun aku kembali diingatkan apa sebenarnya arti keluarga bagiku. Kadang kita terlalu sibuk bekerja, mencari uang, memberikan yang terbaik dengan dalih "demi keluarga" lalu dunia pun jadi semakin mudah dan semakin cepat karena kehadiran internet. Kita jadi terlalu sibuk dan akhirnya keluarga yang menjadi tujuan kita mencari yang terbaik pun jadi terlupakan.

Ending dari buku ini pun melegakan sekali. Aku sudah bisa menduga bahwa Nga Yee tidak akan tega membiarkan Violet melakukan apa yang dilakukan Siu Man karena Nga Yee adalah orang yang mudah iba dan gak tegaan, Nga Yee juga merasa sedikit relate dengan Violet yang penyendiri dan senang membaca buku. Jadi, saat membaca bagian terakhir itu entah kenapa hatiku adem apalagi begitu akhirnya Nga Yee mengeluarkan semua kesedihannya dalam tangisan hebat. Ku rasa kalau bukan Nga Yee, mungkin Violet akan menyusul Siu Man dan akhirnya lingkaran setan di antara keluarga mereka gak akan selesai.

Pokoknya, kalau kalian suka baca wajib baca buku ini! Benar-benar aku rekomendasikan 100% Dan kurasa kalau buku ini dijadikan film pasti bakal keren banget, deh!

 

P.S: Untuk review buku lainnya bisa kalian baca di sini.

 

Comments

  1. runut sekaliii. berasa diceritain lagi. berasa throwback lagi :") kebetulan aku juga udah baca bukunya bulan lalu, dan suka banget! baca ulasan ini, rasanya kesan-kesan yang sama kurasakan tertuang dalam bentuk yang lebih komprehensif. >-< terima kasih untuk ulasannya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya sudah baca review panjangku sampai selesai.. 😆😆

      Delete
  2. Aaaaasahhh! Ini uda ada di keranjang tokped gw berbulan-bulaaann. Harganya sih 148 Mei. Cuma berasa sayang nih beli iniii. Selain karna mahal, ya sama alasannya dengan Mei-Mei; takut ga dibaca-baca, cuma beli doang WKWKWKW
    Beli jangan yaaa?!!
    Gw uda baca 2 review dari temen blogger yang lain… ini bacaan yang ketiga… rasa impulsif gw jadi bangkiittt ….

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayoloh makin galau dia wkwkwk.. Coba maksimalkan diskonnya pake point tokped sama voucher cashback dan gratis ongkir kalau ada XD XD
      Tapi baca buku ini dijamin gak nyesel deh, Pik! Mind-blowing banget soalnya!

      Delete
    2. waduh waduuuhhh Meimei bikin aku jadi impulsif niiihhhh

      Delete
  3. Novel ini best read aku tahun kemarin. Ya Ampun aku suka banget sama N. Sampe beneran gamon berhari-hari jadi males baca buku lan. wkwkkw.
    Baca blog ini seperti terkenang-dengan perasaanku saat baca novelnya. Mengingatkan kembali cintaku pada N. hahah..
    bentar lagi ada filmnya ni kak, yang main Kim Seon Ho ya, ampun aku gak sabar banget pengen nonton dramanya. huhu..

    Terima Kasih udah review novel ini. Reviewnya keren banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku juga sempet liat beritanya. Penasaran banget bakal kayak gmn dramanya 🤩🤩

      Btw, makasih ya udah baca blogku yg super panjang ini 😆😆

      Delete

Post a Comment

Popular Posts