Lesson Learned From S.Cov (alias Sarjana Covid)

Tanggal 4 Juli kemarin hasil PCRku positif covid dengan CT value 20 yang mana menurutku wajar karena aku ada gejala batuk, pilek, dan sakit tenggorokan, tapi karena aku udah vaksin booster jadi dengan CT value segitu gejalanya termasuk ringan. Jadilah aku "tahanan" kamar karena harus isoman di kos dan menjalani WFH. Minggu pertama berjalan biasa aja dan aku pun masih anteng karena aku memang termasuk spesies introvert yang sukanya menyendiri di kamar. Tapi dulu sepupuku pernah bilang kalau ada perbedaan antara menyendiri karena pilihan dan menyendiri karena terpaksa, dalam hal ini adalah isoman. Dan setelah lewat seminggu aku mengerti maksud dari perkataannya itu karena aku mulai uring-uringan dan mulai merasa bosan. Kalau aku menyendiri karena pilihanku sendiri kan pas bosan ya tinggal keluar mencari suasana baru atau makan makanan enak di mall atau nyari cafe untuk ngopi sambil baca buku. Tapi selama masa isoman ini tidak bisa begitu, ya..

Di hari ke 8-9, kebosananku semakin menjadi-jadi. Rasanya gak sabar banget buat sampai di hari ke-10 karena setelah itu aku sudah bisa PCR lagi. Dan setelah hari PCR keduaku tiba hasilnya aku masih positif. Dooh.. CT valueku udah naik dari 20 ke 34. Sungguh mepet, karena setahuku kalau CT valuenya udah 35 udah bisa dikategorikan sebagai negatif (meski standar WHO itu CT valuenya 40, kalau gak salah). Jadi, aku masih harus menjalani isoman 4 hari lagi. Tapi saat itu aku udah pasrah, "yaudahlah mau gimana lagi, jalanin aja. Toh kemarin 10 hari bisa terlewati," pikirku waktu itu. Dan setelah itu aku melewati 4 hari isoman lagi dengan kebosanan yang udah menguap, mungkin si bosan sudah bosan juga bermain-main denganku wkwkwk

Nah, setelah menjalani masa isoman 24/7 di kamar mulu, mau gak mau aku menilik lagi hidup yang saat ini ku jalani, terutama karena belum lama ini aku habis membaca buku Things Left Behindnya Kim Sae Byoul, dan ada beberapa hal yang ku sadari:

1. Aku Butuh Koneksi

Selama 1-2 tahun terakhir, aku mulai merasakan tanda-tanda bahwa aku kesepian dan butuh koneksi tapi selama ini aku masih denial. Aku masih berusaha tampak "kuat" dan memasang tampang "aku baik-baik saja". Bahkan pernah di satu titik aku merasa sanggup jika harus hidup dalam kesepian dan merasa kalau aku gak akan kenapa-kenapa kalau gak terhubung dengan orang lain. Nyatanya aku hanya memberi makan rasa percaya diri yang tidak perlu.

Masa-masa isoman ini membuatku mau gak mau mengakui kalau aku kesepian. Aku mulai merasa aneh saat melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan sendirian. Tau-tau aku merasa kesepian saat makan sendirian, padahal setiap pagi siang sore aku selalu makan sendirian. Aku makin sering overthinking saat malam tiba, yang biasanya udah overthinking sekarang makin overthinking. Lalu aku juga makin sering mencari distraksi. Makin ke sini aku memang merasa kalau aku makin susah fokus ke satu hal aja dalam waktu lama dan selama isoman aku semakin mengamati diriku yang seperti itu. Intinya, aku merasa kesepian. Aku butuh koneksi lebih dari yang aku kira.

Mungkin ini terdengar aneh bagi orang lain, terutama bagi orang-orang ekstrovert yang hobinya bertemu dengan orang lain. Tapi bagiku, "terhubung dengan orang lain" adalah hal yang perlu aku pelajari dan selama isoman ada urgensi untuk bisa merasakan keterhubungan itu. Beberapa hari sekali aku jadi video call mamaku saat aku makan biar ada yang nemenin meski hanya lewat layar hp, biasanya aku cuma video call sama mamaku kalau ada hal-hal yang sangat penting yang rasanya akan jadi miskom kalau aku ketik lewat chat.

Aku juga memberi kabar kepada keluarga, teman-teman dekat, dan juga teman-temanku di instagram kalau aku kena covid dan harus isoman dengan harapan mereka tau kondisiku dan mengirimiku pesan. Mungkin karena love languageku adalah words of affirmation, aku akan merasa "dianggap" dan bisa merasa terhubung dengan orang lain lewat kata-kata. Jadi, kalau ada dari teman-teman yang kemarin kirim pesan dan mendoakan kepulihanku, maaf ya karena sebenarnya aku punya maksud terselubung wkwk dan tentunya aku pun berterima kasih dengan DM-DM kalian karena pada akhirnya aku jadi tidak terlalu kesepian 💕💕

Setelah melewati masa isoman, aku berpikir kalau keterhubungan ini adalah sesuatu yang sangat aku butuhkan dan perlu aku pelajari karena mau se-introvert apa pun, aku ini kan tetap manusia yang perlu bersosialisasi.

2. Kamarku Ternyata Sumpek

Selama lebih dari 1 dekade menjadi anak rantau, aku hampir selalu tinggal di kamar 3x4 meter yang hanya cukup untuk satu orang dan selama pandemi aku akui kalau aku banyak sekali belanja, terutama belanja album KPop, album drakor, dan pernak pernik lucu yang kalau dilihat-lihat semuanya itu unfaedah. Dulu atasanku pernah berkomentar waktu memergokiku belanja album drakor Our Beloved Summer, "emang lagunya gak ada di spotify?" Sebuah pertanyaan yang saat itu menurutku "lucu" karena tentu aja lagunya ada di spotify dan platform musik lain yang gratis. Tapi saat itu pembelaanku adalah, "aku mau punya albumnya karena drakornya bagus banget".

Iya, awal mula aku beli album drakor adalah album drakor It's Okay to Not be Okay yang saat itu memberiku banyak sekali pelajaran berharga dan juga membantuku untuk belajar menyayangi diriku lebih baik lagi. Maka karena aku merasa aku mendapat banyak sekali, jadi kenapa gak aku beli aja albumnya sebagai rasa terima kasih pada semua orang yang terlibat di dalam dramanya (FYI, selain albumnya, aku juga beli buku dan pernak-perniknya). Dan setelah itu setiap kali menonton drakor yang menurutku bagus banget, aku selalu menggunakan alasan itu agar aku bisa beli album.

Sama halnya dengan album KPop. Aku merasa lagu-lagunya IU sangat membantuku dalam menjalani hidup, membuatku merasa ditemani di saat aku sedang merasa down, dan alasan-alasan lainnya yang kalau boleh jujur, setengahnya hanya alasanku aja biar aku bisa beli album. Aku pernah mengomentari fans-fans KPop yang memaksakan diri untuk beli album atau merchandise idolanya dengan alasan mau mensupport idola mereka tapi di satu sisi mereka tuh gak ada uang buat beli jadi mereka hidup dengan irit-irit, nabung berbulan-bulan, atau bahkan ngutang demi beli album atau merchandisenya itu. Intinya mereka maksa banget buat bisa album dan kurasa hal itu termasuk toxic ke diri mereka sendiri. Selang beberapa lama ternyata aku pun melakukan hal yang sama.

Awalnya memang aku beli album yang harganya gak mahal-mahal amat dan saat itu aku punya dana untuk foya-foya jadi kurasa gak apa-apa. Tapi makin ke sini, selain aku menggunakan alasan yang ku sebutkan tadi, setiap album IU yang baru pun aku beli bahkan dokumenternya yang harganya sampai 1 juta pun aku beli padahal sebenarnya ada barang lain yang lebih aku butuhkan. Lalu begitu barangnya sampai, albumnya gak pernah aku dengerin sama sekali karena aku dengerinnya di spotify dan dokumenter mahal yang ku tunggu-tunggu itu pun belum pernah ku tonton sampai saat ini. Aku juga sempat membeli album artis secara impulsif. Meski lagunya memang bagus-bagus dan autentik, aku gak merasa album mereka memberi sesuatu yang menjadi syarat aku membolehkan diriku beli album. Jadi, sebenarnya untuk apa aku membeli album-album itu? Belum lagi barang-barang lucu tapi unfaedah lain yang aku beli hanya untuk dipajang yang bikin setiap sisi tembok kamarku jadi penuh dengan barang.

Belum lagi dengan tumpukan buku yang hanya ku beli tapi gak aku baca-baca. Beberapa hari yang lalu, karena bosan isoman aku sempat membongkar rak bukuku dan mengikuti tipsnya Kak Aya untuk memilah-milah buku mana aja yang bakal aku baca, buku mana aja yang bakal aku relakan (entah dijual atau didonasikan), dan buku mana aja yang aku masukan ke dalam masa probation yang artinya kalau dalam 3 bulan buku itu gak aku baca maka harus ku relakan. Totalnya ada 13 buku yang masuk ke dalam daftar probation, buku-buku yang entah ku beli sejak kapan dan bertengger begitu aja di kamarku tanpa ada niat sedikit pun untuk ku baca. Huft~

Selama isoman pun aku jadi sering menonton videonya Ko Sam dan Ci Clau yang membahas tentang gaya hidup frugal living dan dari pembahasan mereka ada satu hal yang aku ingat saat Ko Sam menjelaskan bahwa ia dan istrinya tidak berpaku pada brand tertentu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga tidak merasa perlu hidup mewah meskipun secara finansial mereka mampu. "Apakah kalau saya pakai sabun mandi dari brand A atau beli tisu dari brand B akan membuat hidup saya lebih bahagia? Apakah pergi ke kantor naik mobil akan membuat hidup saya lebih bahagia jika dibanding naik kendaraan umum?" Ku rasa pertanyaan semacam itu yang harus aku latih juga sebelum aku membeli sesuatu, terutama membeli barang-barang yang unfaedah karena kalau beli barang yang fungsional justru aku mikir 1001 malam dulu sebelum beli. Dan meski rasanya aku tidak bisa seperti mereka yang punya target untuk mencapai financial freedom di umur 35, aku rasa aku tetap bisa punya target untuk tidak terus-terusan bekerja sampai mati. Habis ini aku akan mengulik segala hal tentang frugal living dan mungkin aja akan berguru pada Marie Kondo (suatu hal yang sebelumnya tampak mustahil bagiku wkwkwk)

3. Hidup Adalah Gabungan Dari Segala Emosi, Segala Suka Duka, Segalanya

Selama covid, selain batuk, pilek, dan sakit tenggorokan, aku juga mengalami anosmia atau hilang penciuman selama 3-4 hari. Aku bukan tipe orang yang senang membaui segala sesuatu malah sebaliknya, aku tidak suka membaui banyak hal. Sama seperti lidahku, hidungku pun termasuk picky jadi seringnya kalau ada aroma yang tidak aku sukai, aroma yang tidak akrab di hidungku, atau aroma yang sama sekali tidak sedap, aku akan langsung menahan nafasku dan hal itu sudah menjadi "rutinitas"ku sehari-hari. Berarti ada banyak sekali aroma yang tidak kusukai, maka awalnya aku merasa anosmia tidak akan berdampak apa-apa pada keseharianku. Sampai aku sadar bahwa aku tidak bisa menghidu aroma pisang dan aroma kopi, dua aroma yang sangat aku sukai. Jadi bagaimana? Apakah aku lebih suka penciumanku hilang jadi aku tidak perlu repot-repot menahan nafas jika "bertemu" dengan aroma yang tidak kusukai tapi aku juga harus merelakan aroma pisang dan aroma kopi? Atau aku lebih memilih penciumanku kembali dan aku kembali repot-repot menahan nafas jika "bertemu" dengan aroma yang tidak kusukai tapi bisa sepuasnya menghidu aroma pisang dan aroma kopi? Tentu aja aku memilih yang kedua.

Dari anosmia yang sebenarnya "tidak seberapa" ini, aku sadar bahwa bukankah seperti itu juga aku menjalani hidupku selama ini. Selama ini aku menghindar untuk terhubung dengan orang lain karena aku takut aku akan merasakan rasa sakit lagi karena kehilangan. Aku tidak bisa mencerna kalimat klise, "setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan". Aku malah berpikir, "kalau begitu tidak perlu bertemu sekalian jadi aku tidak perlu mengalami rasa sakit akibat perpisahan". Tapi karena pola pikirku yang begitu, artinya aku juga memilih untuk tidak bisa merasakan hal-hal menyenangkan yang hadir karena pertemuan. Jadi sebenarnya rasa sepi yang selama ini kurasakan adalah rasa sepi yang ku cari-cari sendiri hmm..

Di buku Thing Left Behind, Kim Sae Byoul banyak bercerita tentang orang-orang yang hidup dalam kesepian sebelum akhirnya mereka meninggal dalam kesepian juga. Beberapa di antara mereka berusaha untuk melampiaskan rasa sepi mereka kepada barang-barang. Ada seorang laki-laki yang "mengembangkan" kebiasaan mencuri meski ia hidup bekecukupan dan barang-barang yang dicurinya tidak ia pakai, bahkan tidak ia buka dari kemasannya, sampai akhirnya keluarganya menyerah pada dirinya dan ia sendiri pun menyerah pada hidupnya. Ada juga seorang nenek yang hidup dengan banyak barang bagus karena sepertinya ia tidak memiliki hubungan yang baik dengan anak cucunya yang tinggal serumah sampai ketika ia meninggal pun keluarganya baru menemukan jenazahnya setelah 3 hari. Cerita-cerita di buku itu membuatku melihat hidup seperti apa yang ku jalani saat ini dan mungkin memang udah saatnya juga aku kena covid jadi aku bisa lebih menelaah hidupku lagi.

Jadi begitulah hal-hal yang kudapatkan selama isoman kurang lebih 14 hari karena covid (FYI per hari ini aku sudah negatif dan masa isomanku resmi berakhir). Mungkin aku termasuk beruntung karena kena covidnya setelah vaksin booster jadi gejalaku termasuk ringan dan aku diperbolehkan untuk isoman di kamar kos jadi gak harus repot-repot packing baju untuk isoman di Wisma Atlet atau isolasi di tempat lain Dan ku pikir "gelar" ini adalah gelar yang aku dapatkan tanpa perlu belajar tapi ternyata banyak juga pelajaran hidup yang ku dapatkan selama 14 hari ini. Tapi tentu aku gak mau lanjut "S2", cukup sekali aja kena covidnya 😬😬

Comments

Popular Posts