Festival Buku Asia - Bincang Bareng Baek Se Hee

Beberapa waktu yang lalu aku sempat membahas bukunya Baek Se Hee, I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki dan I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki 2, dua buku yang mengubah hidupku secara langsung maupun gak langsung. Lalu, tanggal 4 Oktober kemarin aku berkesempatan untuk mengikuti acara Bincang Bareng Baek Se Hee yang merupakan salah satu acara dari Festival Buku Asia yang diadakan oleh Penerbit Haru dan Patjarmerah.

patjarmerah.com


Acaranya diselenggarakan lewat Google Meet. Ada dua orang narasumber, yaitu Baek Se Hee dan  editor bukunya yang pertama dan kedua, lalu satu orang moderator, dan satu orang penerjemah.

Pertama-tama, Baek Se Hee menceritakan tentang motivasi awalnya menulis buku, yaitu karena ia penasaran dengan pengalaman orang lain yang juga mengalami kondisi yang serupa dengannya. Setelah mendapat diagnosa, Baek Se Hee merasa kalau pasti ada orang lain yang mengalami penyakit mental seperti dirinya. Namun, banyak orang yang ia temui enggan bercerita tentang pengalamannya. Akhinya, Baek Se Hee mulai menulis tentang pengalamannya di blog dan ternyata ada orang yang berkomentar bahwa ia juga mengalami penyakit yang serupa. Karea Baek Se hee ingin bertemu dengan orang-orang yang mengalami penyakit serupa, maka ia menulis buku.

Baek Se hee sempat ditanya juga mengapa judul bukunya adalah I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki. Jawabannya, karena ketika distimianya sedang parah dan sampai berpikir untuk mengakhiri hidupnya, Baek Se Hee merasa ingin makan tteokpokki. Judulnya itu sangat harafiah ternyata, tidak ada maksud filosofisnya. Hahaha

Dalam sesi bincang-bincang itu pun Baek Se Hee bercerita bahwa dengan menuliskan kembali sesi konsultasinya, ia merasa seperti menyembuhkan dirinya sendiri. Dengan membaca tulisannya pun Baek Se Hee bisa berpikir, "Apa yang bisa aku lakukan dengan hal ini?" Setelah ia mulai sharing pengalamannya, banyak orang yang mulai terbuka tentang kondisi mereka dan orang-orang yang mengalami hal yang serupa itu saling menguatkan satu sama lain. Perasaan sedih dan depresi yang ia rasakan perlahan-lahan mulai menghilang.

Baek Se Hee bercerita juga bahwa di Korea Selatan, membicarakan kesedihan dan perasaan-perasaan negatif masih terbilang tabu. Apalagi membicarakan tentang masalah kesehatan mental. Di Korea Selatan, respon yang umum ditemui jika ada seseorang yang menceritakan kesedihan dan perasaannya adalah, "Aku juga sedih, semua orang juga sedih." Respon seperti itu malah membuat orang lain takut untuk shatring. Dan aku rasa bukan hanya di Korea Selatan aja, sih. Di Indonesia juga begitu. Masih banyak orang yang menyepelekan perasaan orang lain, boro-boro mau cerita yang lain-lain. Saat Baek Se Hee membicarakan hal itu, aku pun langsung mengangguk-ngangguk karena aku pernah berada diberi respon seperti itu. Alih-alih perasaanku saat itu divalidasi, malah dibilang kurang bersyukur dan kurang berpikir positif. Hmm..

Kemudian Baek Se Hee berpesan walau respon orang-orang masih menyepelekan begitu, tapi apa pun yang kita rasakan sebaiknya jangan dipendam. Baek Se Hee memberi saran untuk bercerita pada orang-orang terdekat, atau bisa juga dengan menulis dan melakukan hal-hal lain yang bisa membantu membuat diri sendiri merasa lebih baik. Baek Se Hee sendiri mengikuti komunitas yang terdiri dari orang-orang yang memiliki kondisi serupa. Aku pernah dianjurkan juga untuk mengikuti komunitas seperti itu oleh psikologku, tapi yah aku masih tidak yakin kalau aku bisa codok dan menjadi lebih baik di dalam komunitas mengingat aku sangat amat susah bergaul dengan orang lain. Yah, memang sih belum dicoba. Untuk hal ini, aku akui bahwa aku sangat amat pesimistis. Hahaha

Saat ditanya tentang, "Apa hal yang paling berkesan dari pertemuan dengan psikiater?" Baek Se Hee menjawab, "Saat psikiaterku bilang 'saat kita merasa kesulitan, kita yang merasa kesulitan itu tidaklah egois'." Saat aku mendengar kalimat itu rasanya ada kelegaan yang menjalar perlahan-lahan, yang membuat hatiku hangat dan sedih dalam waktu bersamaan.

"Rasa sakit dan sedih yang kita rasakan hanya kita saja yang tahu, orang lain tidak akan tahu walau mereka membuka hati kita sedemikian rupa. Tapi, kita juga tidak boleh menyepelekan perasaan yang dirasakan orang lain. Hal itulah yang dikatakan egois."

Baek Se Hee mengatakan bahwa di Korea Selatan, respon orang-orang terhadap buku yang ditullisnya terbagi dalam dua kubu yang sangat bertolak belakang. Ada orang-orang yang memberikan respon positif dan berkata, "Ini adalah buku yang sangat dibutuhkan saat ini", ada juga yang memberikan respon negatif karena gak bisa relate dengan apa yang dituliskan dalam buku. Jadi, respon orang-orang di sana terus naik secara progresif. Semakin banyak yang suka, semakin banyak juga yang gak suka.

Baek Se Hee bercerita bahwa ada komentar yang paling membuatnya sakit hati, komentar yang mengatakan bahwa buku yang ditulis oleh Baek Se Hee itu menjual depresi untuk mencari uang. Karena ada komentar seperti itu, ia jadi takut untuk mempromosikan bukunya. Tapi, Baek Se Hee kemudian mengingat kembali motivasi awal ia menulis buku. Yang pasti bukan karena uang, ia bahkan gak tahu kalau bukunya akan menjadi best seller. Setelah ada seseorang yang mengatakan bahwa bukunya membantu orang lain dan komentar-komentar positif lainnya, maka Baek Se Hee merasa yakin kalau bukunya bisa membantu orang lain.

Baek Se Hee juga mengatakan bahwa ia bukan ahli ataupun profesional, tapi dengan menulis buku ia ingin memberitahu pembaca bahwa orang yang depresi yang melulu merasa sedih. Orang depresi bisa juga terlihat senang, ceria, dan terlihat baik-baik saja. Tapi, ada satu titik di mana mereka merasa hidup mereka berat sekali. Lalu, untuk orang-orang yang mengalami depresi, Baek Se Hee berharap bahwa bukunya bisa membuat mereka gak merasa sendirian lagi.

Di sesi bincang-bincang tersebut, sang moderator, Mba Mega Aprillianty, pun bercerita bahwa ia mempunyai seorang teman yang memiliki penyakit mental dan sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. Lalu, temannya itu membaca buku I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki dan merasa bahwa ia masih bisa hidup. Lewat sesi bincang-bincang tersebut, Mba Mega mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung pada Baek Se Hee, "Buku ini gak cuma membuat banyak teman baru tapi juga menyelamatkan banyak nyawa." Aku pun kembali mengangguk setuju, karena merasakan hal yang persis sama. Karena membaca bukunya Baek Se Hee, akhirnya aku memutuskan untuk datang ke psikolog.

Lalu, seperti yang selanjutnya dikatakan oleh Baek Se Hee, saat ia didiagnosa mengalami distimia oleh psikiaternya, ia merasa lega. "Oh, ternyata ini penyakit, ya", "Oh, ternyata masih bisa sembuh". Kalau psikiaternya gak mendiagnosa Baek Se Hee mengalami distimia, ia akan berpikir, "Oh, ini adalah diriku yang sebenarnya dan aku harus hidup seperti ini selamanya." Dengan didiagnosis distimia, Baek Se Hee merasa bahwa ia masih bisa melakukan sesuatu. Dan mindset ini adalah mindset yang benar-benar baru buatku, mengingat responku saat mengisi tes kesehatan mental adalah ketakutan setengah mati sampai tanganku tremor tak berkesudahan dan saat psikologku mengatakan diagnosanya, bahwa aku memiliki gejala OCD dan trauma yang berat, aku merasa seperti aku tersambar petir di siang hari bolong. Well, aku belom pernah tersambar petir sih sebenarnya, tapi yang ku ingat saat itu adalah aku gak bisa berbicara sepatah kata pun. Antara kaget, mau nangis, nelangsa, kosong. Semua hal bercampur jadi satu. Padahal psikologku saat itu langsung berkata bahwa hal ini masih bisa disembuhkan, karena ia punya pasien yang mengalami OCD dan sembuh tanpa obat. Saat itu aku mengangguk-ngangguk saja, mencoba merangkul harapan itu walau rasa pesimis tetap mendominasi.

Tapi, setelah aku membaca dua bukunya Baek Se Hee, mengikuti acara bincang-bincangnya, dan bisa bertemu dengan Baek Se Hee yang menceritakan pengalamannya secara langsung, aku rasa aku pun masih bisa melakukan sesuatu. Aku tahu aku sedang tidak baik-baik saja, tapi aku gak sendirian. Aku tahu aku sedang sakit, tapi aku masih bisa sembuh. Aku masih bisa sembuh dan tetap hidup untuk diriku sendiri..

Comments

Popular Posts