Along With The Gods: The Last 49 Days

Berbekal dari film sebelumnya, Along With The Gods: The Two World, yang kuberikan nilai sempurna, aku menonton sekuelnya dengan ekspektasi yang cukup tinggi. Tapi sayangnya ekspektasiku menurun drastis sejak setengah jam pertama. Sejujurnya aku berusaha keras untuk menonton sekuelnya ini hingga habis dan ditengah-tengah film aku sempat bosan. Bukan karena filmnya jelek, hanya saja film kedua ini berbeda dari film pertamanya. Seperti yang direview oleh CNN, unsur melankolis pada film kedua ini berkurang drastis. Kalau pada film pertama, fokus cerita ada pada kisah hidup Kim Ja Hong dan bagaimana ia diadili di 7 persidangan, pada film kedua ada banyak cerita yang dihidangkan.

https://koreanarea.com/

Tokoh utamanya bergeser, bukan lagi tersorot pada manusia yang diadili, tetapi juga ke 3 Malaikat Pelindung yang sebelumnya muncul pada film pertama sebagai Malaikat Pelindung Kim Ja Hong. Awalnya aku bingung dengan banyaknya masa lalu dari setiap karakter yang diceritakan, terutama masa lalu dari 3 Malaikat pelindung (Ganglim, Hewonmak, dan Deok Choon) yang ternyata saling terhubung dan menjadi sebuah rahasia terpendam sekaligus penyesalan terdalam selama 1000 tahun. Tapi, makin medekati akhir cerita ini semakin terasa menarik untuk diikuti.

Kematian yang tidak jelas dari Kim Su Hong, yang merupakan adik dari Kim Ja Hong, adalah sebuah bentuk lain dari masa lalu yang dialami oleh Gang Lim, Hewonmak, dan Deok Choon yang lebih kompleks dan lebih rumit. Menonton film ini butuh kemampuan berpikir dan imajinasi untuk menghubungkan kejadian yang satu dengan kejadian yang lain. Dan aku sarankan untuk menonton film pertamanya dulu sebelum nonton film yang kedua. Karena hanya secuil aja flashback dari film pertama yang ditampilkan pada film kedua, kalau gak nonton yang pertama pasti bingungnya tambah-tambah, deh. Terutama cerita mengenai Kim Su Hong yang sudah diceritakan intronya pada film pertama.

Dewa Rumah, Seongjo, menjadi tokoh baru yang membantu menarasikan masa lalu Hewonmak dan Deok Choon. Ia juga menjadi salah satu tokoh kunci yang menghadirkan kesimpulan dari film ini. "Tidak ada manusia yang jahat sejak lahir, hanya keadaan yang buruk." Selain itu ada juga sentilan-sentilan terkait dengan topik perekonomian dan kesejahteraan hidup di Korea Selatan. "Jika kau hidup jujur dan bermoral, kau akan berakhir hidup di jalanan." Kalimat itu seolah menjelaskan bahwa hidup sebagai orang baik adalah hal yang sulit di Korea Selatan.

Oh iya, D.O EXO pun muncul dan memainkan peran sebagai Won Deong Yeon di film pertama dan kedua. Dia berperan sebagai anak buah Kim Su Hong sekaligus tokoh kunci dari kematian Kim Su Hong. Perannya sebagai orang dengan tubuh dan mental yang lemah patut untuk diacungin jempol. Aku cukup suka dengan aktingnya pada film My Annoying Brother yang memerankan seorang pemain judo yang kehilangan penglihatannya saat bertanding. Lalu di film ini lagi-lagi D.O muncul dengan karakter yang berbeda. Waah, aku cukup salut sama idol yang selain bisa nyanyi dan nari tapi juga piawai dalam berakting.

Secara keseluruhan ku beri nilai 8/10 untuk film kedua ini. Walau unsur melankolisnya menurun drastis, tapi film kedua ini tetap menyajikan cerita antara orang tua-anak, serta hubungan antar manusia yang sudah dianggap seperti saudara. Sang sutradara, Kim Yong Hwa, mengaku bahwa ia menganggap kalau emosi adalah unsur terpenting dari sebuah karya. Berdasarkan pengakuannya itu, aku jadi semakin menantikan sekuel-sekuel selanjutnya dari film ini. Ditambah lagi ada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di film pertama dan kedua. Tapi, sayangnya film selanjutnya baru akan digarap pada tahun 2021. Hmm sebwah penantian panjang ya rupanya.

Comments

Popular Posts