Sumba - Indah Pada Tempatnya

Due to high intensity of DEADlines (dead nya dicaps lock karena literally I am dead XoX #lebay) please be advised that the Sumba story has been abandoned. Jadi mari kita lanjutkan sahaja perbincangan kita yang sedikit tertunda tentang sebongkah surga yang dijatuhkan Tuhan di Tanah Humba. Barangkali orang mikirnya kalau tempat wisata tuh cuma bagus di spot-spot tertentu aja. Kayak misalnya Jakarta, yang jadi highlight ya Monas nya, Kota Tua nya, Ancol dan Dufan nya, dan sekian banyak mall nya. (Walau sebenarnya spot di Ibu Kota ada banyak juga yang udah bagus-bagus dan udah lebih terawat macam Lapangan Banteng dan Sunda Kelapa). Tapi, gak gitu cara mainnya di Sumba, Sahabat. Semua tempat di Sumba ini memukau dan bikin gak mau pulang, gak cuma 1-2 tempat aja. Sekali lagi, semuanya MEMUKAU. M.E.M.U.K.A.U. Kemarin aku udah cerita sedikit tentang Danau Weekuri yang begitu menawan dan menggoda untuk nyebur dan Pantai Bawana yang begitu menenangkan hati, kali ini aku mau cerita sisi lain dari Sumba Barat. Kalo belom baca yang kemarin, monggo dibaca di sini. Aku udah pamer sedikit, sekarang mau pamer lagi. Ahahahaha

Cerita kali ini di mulai dari Deku Watu atau Waikelo Sawah. Ceritanya waktu itu, begitu turun dari mobil, sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan sawah.
"Mana air terjunnya, Bang?" salah satu dari temanku bertanya pada guide kami, Abang Dedy.
"Jalan aja ke sana," jawabnya sambil menunjuk melewati hamparan sawah.
Sejenak kami bingung, harus ngelewatin sawah banget? Wkwkwkwk Tapi, ada yang bilang 'Beauty is Pain', begitu juga di Sumba. Untuk sampai ke tempat yang luar biasa cantik, tentu perlu perjuangan sendiri untuk melihat kecantikan itu. Ini macam pencari harta karun modelnya. Musti ngelewatin berbagai rintangan dulu buat nemu harta karun. Tapi gak pake acara ngelawan ular atau naga, sih. Rintangannya cukup jalan di pinggiran sawah lalu naik turun sedikit sampai kaki ngejeblos-jebelos dan lecet-lecet dikit karena kena ilalang. Dan setelah berjalan di hamparan sawah sekian lama di bawah teriknya mentari Tanah Humba, di situlah dia, Si Cantik Deku Watu yang memamerkan keindahannya dengan begitu gamblang. Perpaduan warna hijau pohon dan jernihnya air terjun yang mengair ke hilir tuh cantiknya sing ada lawan. Suara air terjunnya langsung bikin lupa sama acara naik turun sawah sampai ngejeblos dan lecet. Airnya adem, suara airnya adem, anginnya adem, perpaduan warna hijau pohon dan biru langitnya pun adem. Benar-benar memanjakan hati. Seriously, you must go and see it yourself!!




 Welcome to Deku Watu. Another Heaven on Earth!!

Waktu kami bilang ke guide kami, Abang Dedy, kalau kami mau ke Deku Watu, si abang malah bengong-bengong bingung.
"Di mana itu?" tanyanya.
"Itu lho, yang air terjun ada sawah-sawahnya gitu."
Sejenak dia berpikir. "Oh, Waikelo Sawah kali."
"Deku Watu, ah."
"Itu yang benar Waikelo Sawah, kenapa disebut Deku Watu? Waikelo Sawah itu."
Entah yang mana yang benar Waikelo Sawah atau Deku Watu yang jelas kecantikan tempat itu rasanya gak pernah salah.



Perlu diketahui, kalau sekiranya mau jalan di atas bebatuan, mau foto nih misalnya, disarankan gak pakai sendal, sendal gunung, apalagi sepatu. Licin bok!! Batunya berlumut kan karena terus-terusan terendam air. Jadi daripada terpeleset lalu nyebur lalu diketawain, amannya sih gak usah pakai alas kaki. Kita jadi bisa meraba dulu kan permukaan batunya licin atau engga.



Selanjutnya, ke mana kita sekarang? Tanyakan pada peta!! *lalu direport blognya*

Next spot setelah Deku Watu atau Waikelo Sawah, kami meluncur ke Lapopu. Main air terus kami hari itu. Ahahahahaha Akses menuju ke Lapopu gak sechallenging spot-spot sebelumnya. Gak perlu tracking turun macam di Bawana atau naik turun hamparan sawah. Cukup jalan (oke, jalannya masih tanah memang belum jalan setapak) sebentar lalu menyebrangi sungai yang gak begitu lebar pakai jembatan bambu yang hanya boleh dinaiki oleh 2 orang sahaja. Lalu sampe deh di air terjun lain di Tanah Humba. Seriously, gak cuma pantai aja yang bertebaran di mana-mana, air terjun di Sumba juga banyak betul rasanya.

Lapopu ini tempatnya agak terpencil. Di sekelilingnya banyak sekali pohon-pohon berdaun rindang sehingga kecantikannya agak tersembunyi gak seperti kecantikan Deku Watu yang terhampar begitu saja.

Kali ini aku dan salah satu temanku memutuskan untuk nyebur. Iya, keputusan kami sudah bulat. Gak bisa ditawar-tawar lagi, pokoknya di Sumba harus berenang di air terjun walau cuma sekali. Jadi, tanpa basa basi, begitu tiba di tempat tujuan, kami langsung masuk ke kolam alam itu. Airnya dingin tapi segar. Baru kali ini aku berenang di air tanpa kaporit. Wkwkwkwk Airnya gak sejernih air di Weekuri yang bisa kelihatan dasar danaunya, tapi cukup memuaskan hati. Aku pikir aku bisa seharian main air di situ. Aku berenang ke arah air terjun dan duduk di bebatuan, lalu berenang lagi ke arah teman-temanku menunggu, lalu nyemplung lagi pas sesi foto-foto. Sampai akhirnya salah satu temanku pun mendelik sambil melotot gegara aku gak mau pulang. XD XD

Setelah dipaksa puas berenang (karena aslinya aku gak akan puas berenang di sana, sih), aku dan teman-temanku menikmati air kelapa dan makan siang sebelum kami berpindah tempat. Btw, di Weekuri dan Deku Watu sudah disediakan kamar mandi untuk ganti baju bagi pengunjung-pengunjung yang mau merasakan berenang di kolam alam macam aku dan temanku.

Selanjutnya kami pergi mengunjungi Desa Adat Praijing. Aku pernah menyinggung di post sebelum ini bahwa rumah-rumah adat di Sumba gak dibuat secara asal, ada peraturan tersendiri mengenai tata letak rumah dan jumlahnya gak sebanyak dan sepadat rumah di kota. Ya jelaslah. Kalian pernah main virtual game yang membangun desa macam Town Village dan kawan-kawan? Nah, aku langsung kebayang game model gitu waktu ngeliat Desa Adat Praijing. Bentuk rumahnya macam village hut di game-game gitu. XD Tapi, katanya rumah-rumah adat di sana tahan gempa, lho. Hebat, ya!! Padahal membangunnya dari bahan alam.



Kalau ngeliat travel blogger atau vlogger gitu aku suka amazed dengan kemampuan mereka bercengkrama dengan warga lokal. Kenapa aku bilang kemampuan? Iya, bagi introvert macam aku, rasanya untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu tuh susah banget. I am not into small talks, tapi gak pinter nyari topik juga. Kalau mau memulai obrolan, yang ada malah kayak lagi interview jatohnya. X'D Walau sebenarnya aku penasaran juga dengan keseharian mereka, sih. Yah, mungkin memang aku harus membiasakan diri dulu untuk membuka obrolan ya, dari pada belum apa-apa udah jiper sendiri dan berujung menyesal kemudian. Hmm



Desa Adat Praijing menjadi pemberhentian terakhir kami di Sumba Barat. Iya, kami hanya menginap semalam di Sumba Barat, menginapnya di Hotel Sinar Tambolaka, btw. Hotelnya lumayan bersih lah (iya, buat aku yang orangnya gampang risih begini, kebersihan itu nomor satu), walau belum ada lift. :') Stay tune untuk post selanjutnya, ya. Nanti aku akan cerita tentang kecantikan Sumba yang lain. Still counting, karena memang kalau ngomongin keindahan Sumba gak akan ada habisnya. Kan ceritanya a piece of heaven. XD XD

Comments

Popular Posts