Tentang Diri Yang Ku Benci

Ada satu pertanyaan yang masih terngiang-ngiang saat aku bercengkrama dengan atasan lamaku tadi siang, "Kok sekarang udah gak pernah post instagram?" Lalu saat ku katakan kalau akun instagramku yang dulu sudah ku hapus mantan atasanku itu bilang, "Padahal tulisanmu bagus-bagus. Mei kan tipe pemikir banget." Hal serupa juga pernah dilontarkan oleh temanku saat ia tahu kalau aku menghapus akunku yang dulu. "Seriusan dihapus? Kenapa? Kan sayang tulisan-tulisannya," katanya waktu itu dengan raut wajah sedih seolah aku sudah menghilangkan sesuatu yang berharga sekali. Padahal "sesuatu" itu adalah jejak yang ingin ku hapus selamanya.

Ada masa di mana aku membenci diriku sendiri sampai di titik aku memiliki hasrat untuk mengakhiri hidup. Diri yang ku benci adalah diriku yang menurut orang-orang adalah sosok yang ceria, sangat ramah, selalu terlihat positif, dan penuh dengan gairah hidup. Image yang sungguh menawan dan ku yakini bahwa ada 1-2 temanku yang berpikir, "Gimana ya bisa jadi kayak si Mei yang hidupnya selalu happy kayak gak ada beban?" Tapi di balik "kulit"ku yang selalu tampak bahagia seolah tak punya beban hidup itu ada diriku yang berusaha keras untuk selalu membuat orang lain senang, ada diriku yang berusaha keras berbagi hal-hal lucu sampai orang lain tertawa, ada diriku yang terus mencobai diri sendiri dengan meremehkan segala emosi yang hadir agar selalu tampak baik-baik saja, dan ada diriku yang terlihat begitu semangat menjalani hidup dengan kenaifan sedemikian rupa yang akhirnya membuatku jatuh ke titik terendah saat hidup menyeret paksa ke arah realita.

Karena semua hal tak tampak di balik "kulit"ku yang menawan itu lah aku mulai mempertanyakan semua hal tentang diriku yang berujung pada kebencian yang terus menumpuk. Akhirnya aku menghapus semua tulisanku yang orang bilang bagus karena aku membenci aura kenaifan pekat dari setiap kata yang ku tulis, aku menghapus semua fotoku karena aku membenci senyum yang ku torehkan yang ku pertanyakan kemurniannya, dan aku pun berusaha menghapus sosokku yang ku sangat benci itu.

Tapi yang terakhir tidak jadi ku lakukan karena setelah pergulatan panjang dengan batin sendiri, akhirnya aku menyeret diriku ke ruang psikolog. Satu-satunya ruangan yang saat itu menjadi harapanku untuk selamat.

Setelah sekian bulan terlewati, aku merasa baikan dan gairah hidupku perlahan kembali. Tapi meski begitu, aku tahu bahwa di lubuk hatiku masih tersisa kebencian yang sepertinya sudah ku tanam terlalu dalam sehingga susah sekali hilang. Sekian purnama aku terus bertanya-tanya, "Kenapa dulu orang-orang senang membaca tulisanku yang terkesan sok tahu?", "Kenapa orang-orang selalu sumringah bertemu denganku yang dulu penuh kepura-puraan?", dan "Kenapa?" "Kenapa?" lainnya yang jelas tak ku ketahui jawabannya.

Tapi setelah ku pikir-pikir lagi, barangkali pertanyaan "Kenapa?" ku itu kurang tepat. Mungkin pertanyaan itu tidak seharusnya ku tujukan pada orang lain, melainkan pada diriku sendiri. "Kenapa aku sangat membenci diriku yang berusaha keras untuk membuat orang lain senang?", "Kenapa aku sangat membenci diriku yang selalu berusaha melakukan hal-hal positif?", "Kenapa aku sangat membenci diriku yang berusaha keras untuk selalu tampak baik-baik saja?" Apakah dulu aku melakukan semua itu semata-mata untuk ketenaran? Untuk menjaga image? Atau untuk menipu semua orang?

Kali ini tahu pasti bahwa jawabannya "bukan".

Saat SMP aku pernah berkata pada temanku kalau aku mau membuat semua orang senang dan keinginan tidak realistisku itu mulai ku eksekusi saat aku beranjak dewasa. Aku ingin membuat semua orang senang karena aku tahu dengan pasti bahwa rasa sedih dan kecewa itu menyakitkan. Aku ingin membuat semua orang senang karena dengan begitu mereka akan terus memiliki semangat hidup. Aku ingin membuat semua orang senang karena aku ingin mereka tahu bahwa banyak hal menyenangkan dalam hidup. Aku ingin membuat semua orang senang, tapi ternyata aku lupa bahwa diriku pun berhak menikmati rasa senang itu.

Setelah aku melontarkan banyak sekali "Kenapa?" kepada diriku sendiri, aku akui bahwa aku lah pelaku tunggal yang membuat hidupku terasa begitu menyesakkan. Dan setelah ku pikir-pikir lagi, sebenarnya sosokku yang begitu ku benci itulah yang membuatku belajar menjadi manusia yang bisa benar-benar merasa hidup.

Karena aku yang dulu terus-menerus ingin membuat semua orang senang, aku mulai sadar bahwa caraku salah dan bukan tugasku untuk membuat semua orang senang. Karena aku yang dulu selalu berusaha bersikap positif, aku mulai sadar bahwa rasa syukur dan rasa ingin mengeluh punya porsinya masing-masing. Karena aku yang dulu terus-menerus memendam emosiku, aku bisa belajar kalau sebenarnya semua emosiku itu valid dan bisa merasakan emosi adalah sebuah anugerahku sebagai manusia. Karena aku yang dulu selalu berusaha tampak baik-baik saja, aku mulai belajar bahwa saat aku menerima bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, saat itu lah aku belajar memanusiakan diriku. Karena aku yang dulu begitu naif dalam memandang realita, aku bisa menyadari bahwa kenaifanku itu membuatku bersedia belajar lebih banyak lagi tentang dunia.

Malam ini, aku berdamai dengan diriku sendiri..

Comments

Popular Posts