Tentang Hal-Hal Sederhana yang Seringkali Terlambat Diucapkan

Ada satu hal selama ini terasa mengganjal di kepalaku yang seringkali membuatku bertanya-tanya. Hal itu terjadi ketika papaku meninggal. Saat itu di rumah duka, aku melihat papaku banyak kedatangan "tamu", jauh lebih banyak daripada tamu yang ia sambut saat jiwanya masih menyatu dengan raga. Dan selain para "tamu" hadir juga hal lain yang tak pernah kutemui sebelumnya, yaitu cerita tentang papaku semasa dia hidup yang dituturkan oleh mamaku dan keluarga besar papaku.

"Papi kamu tuh dari dulu pendiam anaknya. Waktu kuliah sukanya baca komik Kho Ping Hoo sambil ngerokok di kamar."

"Papi kamu tuh penurut anaknya, paling nurut diantara saudara-saudara yang lain."

"Papi tuh orangnya gentleman. Dulu pernah ongkang kaki di bioskop trus kena kepala orang dan langsung minta maaf. Sampai pas filmnya udah selesai pun minta maaf lagi sampai salamin orangnya."

"Pas pacaran, papi tuh orangnya lucu banget sampai mami kira bakal nikah sama badut."

"Papi tuh orangnya keras kepala banget, kadang suka ngeyel pula kalau dikasih tau."

Saat mendengar itu semua aku hanya mengangguk saja sambil mencoba membayangkan sosok papaku yang rasanya berbeda sekali dengan sosok yang selama ini ku kenal. Memang betul papaku pendiam, tapi seringkali pendiamnya kelewatan sampai aku tak bisa ingat kapan aku pernah ngobrol panjang dengannya. Memang papaku orangnya lucu tapi kurasa frekuensi melucunya tidak bisa dikatakan sering. Memang papaku suka baca, tapi yang kutahu bacaannya adalah buku-buku motivasi dan buku-buku bisnis. Memang papaku terlihat penurut, tapi rasanya "nurut"nya itu lebih ditujukan untuk menghindari konflik yang sepertinya tanpa sadar ku tiru. Aku pun baru tahu kalau adikku dekat dengan papaku, sepertinya aku pun dulu terlalu menutup diri.D an setelah bertahun-tahun lamanya, aku baru tahu betapa besar mamaku mencintai papaku dan betapa besar pula rasa sepi kehilangannya selama ini.

Hal ini membuatku banyak berpikir. Disatu sisi aku merasa lega karena akhirnya aku jadi lebih mengenal sosok papaku yang selama hidupnya malah terasa "jauh", disisi lain aku merasa miris karena aku malah mengenalnya setelah dirinya tiada. Dan lagi, banyak sekali kalimat yang ditujukan padanya tapi dirinya sudah tak lagi bisa mendengar yang membuatku bertanya-tanya, "kenapa baru sekarang?"

"Kenapa baru sekarang cerita-cerita itu diperdengarkan?"

"Kenapa baru sekarang rasa cinta itu diperlihatkan?"

"Kenapa baru sekarang semua hal itu diutarakan?"

Dan kurasa kesia-siaan semacam ini tidak hanya terjadi pada papaku tapi juga kepada banyak jasad lainnya. Berapa banyak orang yang meminta maaf sambil berurai air mata atau menyuarakan penyesalannya karena tidak melakukan sesuatu di depan jasad tak bernyawa? Berapa banyak orang yang akhirnya membawa rasa sesal itu dan membuat hari-harinya yang kosong semakin kosong? Kita selalu merasa terlalu percaya diri bahwa masih ada nanti, nanti, dan nanti. Merasa masih punya banyak waktu padahal nyatanya kehidupan sedang berhitung mundur. Merasa saat ini umur masih muda maka masih bisa menunda padahal di hadapan kematian, "tua" dan "muda" adalah fana.

Setelah aku sudah cukup dewasa, aku baru mengerti bahwa itu semua ironi dan aku tidak mau menjadi orang yang mengalami ironi serupa. Dan lagi selama ini aku pikir aku sudah cukup banyak berubah tapi ternyata perjalanan masih panjang. Maka aku pun ingin belajar untuk mengungkapkan semua hal sebelum rasanya terlalu terlambat.

Perlu diketahui bahwa aku ini seorang ahli dalam memendam perasaan. Perasaan senang, lega, terharu, sedih, marah, kecewa, kesal, iri, dan lainnya. Tak jarang perasaan-perasaan yang kupendam adalah perasaan-perasaan yang membuatku mempertanyakan diri sendiri dan akhirnya malah menjadi destruktif untukku dan juga orang lain. Di usiaku sekarang pun aku baru bisa benar-benar merasakan emosiku secara sadar dan memvalidasi segala hal yang hadir. Ada banyak sekali PR yang harus ku rampungkan tapi nyatanya tekadku sudah bulat. Aku akan mengatakan apa yang ingin ku katakan dan melakukan apa yang ingin ku lakukan.

Aku akan memuji orang di saat aku tahu kalau orang tersebut layak dipuji, begitu juga dengan kritik yang jelas perlu ku pelajari juga cara mengutarakannya; aku akan berterima kasih saat aku ingin dan akan minta maaf jika memang salah atau jika kata-kataku terlalu menyakiti; aku akan mengutarakan apa yang aku suka begitu juga dengan apa yang tidak ku suka; aku akan berkata jujur jika aku kesal dan mengekspresikan diri ketika senang; aku akan mengatakan apa yang benar-benar ingin aku katakan dan melakukan apa yang benar-benar ingin aku lakukan. Untuk mencapai itu semua, aku harus lebih giat lagi belajar memvalidasi semua emosi dan perasaanku, belajar lebih dalam lagi mengenal diriku sendiri agar tujuanku tidak menyimpang, dan juga menurunkan egoku sampai titik terendah. Tapi itulah hidup yang kuinginkan, hidup yang ku harap tak akan membuat hal-hal sederhana terlalu terlambat diucapkan, hidup yang tak akan membuatku meratap sesal di depan jasad orang-orang yang kucintai, hidup yang ku harap tak akan membuatku merasakan ironi di kemudian hari, dan hidup yang ku harap tak akan meninggalkan residu untuk orang lain dan juga diriku sendiri. Dan ku harap orang-orang terdekatku tahu bahwa tersimpan ketulusan di balik apa yang ku katakan dan ku lakukan.

Comments

Popular Posts