It's Okay If People Don't Understand Me. But It Took Years for Me Until I Can Really Say, "It's Okay"

Suatu hari, di hari-hari pertamaku duduk di bangku kelas 2 SMP, guru Biologiku, sebut saja Bapak A, masuk ke kelas dan menyuruh aku dan teman-temanku membuka buku Biologi pada bab yang membahas Virus. Kemudian Bapak A menceritakan bagaimana cara virus memperbanyak diri, bagaimana cara virus menyerang mahkluk hidup, dan lain-lain sambil membuat ilustrasi di papan tulis. Dan menurutku penjelasannya itu menarik sekali. Sebenarnya aku tidak tahu pasti, yang menurutku menarik saat itu penjelasan tentang virusnya atau ilustrasi Bapak A di papan tulis (kalau tidak salah, Bapak A menggambar virus, yang lebih mirip robot laba-laba, yang naik mobil saat hendak menyerang mahkluk hidup) tapi setelah bel istirahat berbunyi aku langsung menghampiri satu-satunya teman dekatku kala itu, yang berbeda kelas denganku. Tanpa babibu aku langsung mengoceh, "si Bapak A tadi ngejelasin tentang virus, loh." Lalu aku mengulangi cerita si Bapak A, lengkap dengan ilustrasi virus naik mobil, tanpa jeda. Dari temanku keluar kelas, jalan ke kantin, memesan makanan, sampai menemukan tempat duduk dan menyantap makanannya. Saat itu menurutku cerita tentang virus menarik sekali, tapi ternyata temanku tidak memiliki ketertarikan yang sama. Aku tidak ingat dia merespon apa terhadap ceritaku, mungkin hanya mengangguk sambil lalu atau bahkan tidak menggubris sama sekali. Tapi mungkin momen itulah yang membuatku pelan-pelan berubah.


Bukannya sampai pada kesimpulan, "yang kurasa menarik belum tentu menarik bagi orang lain", tapi aku bertanya-tanya apa ada yang salah. "Apa ada yang salah dengan caraku bercerita?", "Mungkin aku cerita di timing yang salah", dan kebingungan-kebingunan sejenis lainnya. Aku tidak sadar bahwa saat itu diriku sudah peka, mungkin terlalu peka, karena aku bisa dengan mudah menangkap perubahan raut wajah dan nada bicara orang-orang sekitarku. Aku bisa langsung tahu jika orang yang ku ajak bicara tidak berkenan mendengar ucapanku, seperti yang dilakukan temanku itu. Lalu entah sejak kapan, akhirnya aku mulai mengamati orang-orang di sekitarku. Mengamati cara mereka berbicara, mengamati gestur tubuh mereka saat berbicara, dan topik-topik apa yang sering mereka bicarakan. Pelan-pelan aku belajar untuk mengubah cara bicaraku, gaya bicaraku, dan gesturku seperti mereka. Dan saat menulis cerita ini, aku jadi teringat dengan tokoh Keiko dalam buku Convinience Store Woman yang ditulis oleh Sayaka Murata. Saat membaca buku itu beberapa waktu lalu, aku merasa ada sebuah hal yang membuatku bisa relate dengan Keiko dan saat menulis tulisan ini aku tahu apa hal itu. Cara yang kulakukan untuk bersosialisasi sama dengan apa yang Keiko lakukan. Kami memiliki prinsip ATM; amati, tiru, modifikasi.


Aku ingat saat teman dekatku dan teman sekelasnya sedang hobi menggoda adik kelas, aku ada di samping mereka. Aku mengamati sambil sesekali meniru hal yang mereka perbuat, walau saat itu kusadari bahwa terdapat raut risih pada wajah si adik kelas di hadapan kami. Aku juga mengamati saat teman-temanku itu berusaha bersikap imut di depan kakak kelas yang juga pelatih Taekwondo kami. Tapi saat mencoba meniru mereka, wajahku malah tampak seperti orang yang sedang disiksa. Yah, secara teknis aku memang sedang menyiksa diriku sendiri dengan cara berbicara dan bertindak dengan gaya yang bukan aku dan juga melakukan hal-hal yang bukan keinginanku. Tapi tetap saja semua hal itu kulakukan layaknya sebuah rutinitas karena ada rasa takut di sana. Takut jika aku tidak mengikuti mereka maka aku akan berakhir sendirian sampai lulus SMP, atau bahkan sampai SMA! (Karena sekolahku adalah kompleks dari TK sampai SMA). Ada masa ketika aku ikut-ikutan mengambil eskul Keterampilan Putri dan akhirnya aku terus menggerutu karena disuruh menjahit sepanjang semester, ada masa ketika aku ikut-ikutan main ke rumah temanku padahal aku sejuta kali lebih suka baca buku di kamar, ada masa ketika aku ikut-ikutan bergaya sok dengan mengeluarkan kata-kata kasar agar aku "diakui" padahal dalam hati aku tidak berniat mengatakan kata-kata itu. Aku tahu bahwa aku dan teman-temanku itu tidak cocok karena aku jadi semakin malas belajar dan nilai-nilaiku semakin turun. Aku pun tahu bahwa aku tidak akan mendapat pengakuan yang ku idam-idamkan saat mereka membeberkan rahasiaku ke seantero sekolah. Tapi tetap saja aku mengekori mereka seolah aku baik-baik saja. Kenapa, ya? Mungkin karena saat itu aku berpikir bahwa remaja itu seperti mereka. Padahal kalau sekarang ku lihat lagi, mungkin memang aku saja yang salah memilih teman, karena tidak semua remaja seperti itu.


Dan akhirnya "rutinitas" yang aku coba pertahankan itu runtuh juga. Apakah kemudian aku tidak punya teman sampai lulus SMA? Rupanya tidak juga. Setelah aku menjauh dari teman dekatku (yang tidak lagi dekat) dan teman sekelasnya, aku bertemu dengan teman yang lain. Saat itu kupikir aku bisa bernapas lega karena aku kembali punya teman, tapi nyatanya pola itu kembali terulang. Aku tetap melakukan "rutinitas" mengamati teman baruku itu. Apa yang ia suka bicarakan, gaya bicaranya, tindak tanduknya. Kembali aku menirunya sampai aku masuk SMA tapi kemudian ia bertemu dengan teman lamanya di SMA. Lagi-lagi aku ditinggalkan dan lagi-lagi aku bertanya, "apa yang salah?"


Walau pada akhirnya temanku itu sadar bahwa aku merasa ditinggalkan dan akhirnya minta maaf, tapi aku melihat tingkah lakunya yang mulai semakin berhati-hati. Takut kalau aku marah lagi, takut kalau aku merasa ditinggalkan lagi. Sebenarnya pertemanan macam apa sih yang malah menimbulkan rasa takut?


Apakah saat itu aku sudah merasa baikan? Rupanya belum. Sampai sesaat sebelum aku masuk kuliah, aku ketakutan setengah mati kalau-kalau aku tidak punya teman dan harus menghabiskan 4 tahun masa kuliah sendirian. Iya, saat itu aku sangat takut dengan yang namanya "sendirian". Ada dorongan kuat untuk punya teman tapi aku tahu bahwa itu hanya kedok belaka, karena yang kuinginkan bukan teman tapi pengakuan. Respon dari orang lain, impresi dari orang lain, perkataan orang lain, semua itu sangat berarti bagiku. Maka aku pun semakin hati-hati saat berbicara, hati-hati saat bertingkah laku, hati-hati saat berekspresi, hati-hati saat bergerak. Aku berusaha membuat image yang baru. Aku juga sering mengatakan bahwa hobi orang lain adalah sesuatu yang ku senangi juga, mengatakan bahwa hal yang menarik bagi orang lain itu menarik untukku juga, bahkan mengatakan bahwa kepribadian orang lain mirip denganku juga. Padahal aku dan teman-teman yang kutemui saat kuliah sangat bertolak belakang.


Tanpa sadar aku pun membangun kebiasaan membuat skenario dalam otakku beserta segala macam kemungkinan. "Kalau aku ngomong topik A dengan cara begini kira-kira responnya gimana, ya?", "Kalau aku berekspresi begini nanti disangka caper gak, ya?" Aku terlalu sibuk memikirkan orang lain tapi dengan cara yang membuat diriku sekarang geleng-geleng kepala dan berkata, "kok sampai segitunya sih Mei kamu kepingin diakui? Memangnya buat apa sih pengakuan?" Iya. Buat apa sebenarnya pengakuan? Dulu aku pun tidak tahu. Tapi saat itu aku tidak berpikir ke sana, aku tetap gigih mengejar apa yang sebenarnya tidak ku ketahui.


"Kebiasaan" ini masih berlanjut sampai aku masuk kerja. Aku selalu bertanya-tanya, "apa yang salah?" saat ada hal yang tidak sesuai dengan skenario yang sudah ku buat. Aneh memang, kok aku jadi bersikap seperti Tuhan yang bisa mengatur-atur manusia. Tuhan saja tidak sampai mengatur bagaimana cara dan gaya manusia berbicara atau bertingkah laku. Akhirnya karena itulah aku mulai stress sendiri. Semakin tercebur ke dalam masyarakat, semakin banyak aku bertemu dengan orang-orang, semakin aku bingung aku harus bagaimana. Satu-satunya hal yang ku ketahui adalah kebiasaan ATM. Jadi aku kembali menerapkan hal itu dan kembali hidup dalam kepura-puraan. Dan kali ini lebih parah. Aku benar-benar menjalani hidup berdasarkan label yang orang lain sematkan padaku. Saat seorang temanku menganggap aku adalah anak yang selalu ceria, maka aku akan hidup seperti itu; selalu ramah pada semua orang, murah senyum, senang memuat orang tertawa, dan sama sekali tidak boleh menunjukkan ekspresi sedih atau kesal atau marah. Saat temanku berkata, "kamu suka ini, kan?" maka aku akan mengangguk dan memasang mode "pura-pura suka" padahal aslinya tidak. Saat temanku berkata, "aku tau kamu tuh pasti begini, deh", "aku tau kamu begitu", semua itu aku iyakan tanpa babibu dan juga aku lakukan tanpa babibu. Aku bertingkah seperti robot, "disetir" oleh apa yang ku percaya harus ku lakukan. Dan yang paling fatal: aku percaya bahwa aku tidak boleh menunjukkan bahwa aku punya sisi lemah.


Ternyata masalahku itu berkembang sedemikian akut sampai pada akhirnya aku mulai tak tahan. Lambat laun aku mulai membenci diriku. Aku membenci diriku yang terus berpura-pura, aku membenci diriku yang terus berusaha hidup berdasarkan apa yang dikatakan orang lain, tapi respon yang ku idam-idamkan tidak kudapatkan juga. Aku juga membenci diriku yang tersenyum dan selalu berusaha bersikap ceria sampai aku menghapus semua fotoku dalam galeri handphone (dan kebiasaan itu masih tersisa sampai sekarang). Aku mulai merasa diriku tidak berguna dan mulai berpikir untuk menghilang saja.


Karena satu dan lain hal yang pernah ku singgung dalam tulisanku yang ini, stressku semakin menjadi-jadi dan aku pun memulai kebiasaan baru yaitu menangis tanpa sebab, tiada henti sampai berminggu-minggu. Akhirnya aku mencari pertolongan profesional. Setelah menjalani tes kesehatan mental, diagnosa yang dikatakan oleh psikologku adalah aku memiliki OCD yang sudah berada pada level "gejala" dan juga kecenderungan menjadi People Pleaser. Aku terus-menerus terobsesi pada hal yang sebenarnya tidak ada tujuannya dan tidak masuk akal, dan juga terus-menerus takut dan cemas berlebihan jika aku akan mengecewakan orang lain. Psikologku pun berkata aku mengidap PTSD, yang jelas membuatku tercengang karena kupikir PTSD hanya diderita oleh orang yang pernah mengalami kejadian besar yang membuatnya trauma. Tapi, ceritaku yang berusaha untuk berbaur dengan manusia lain itu mungkin hanya sedikit dari hal-hal lain yang membuat psikologku mengeluarkan diagnosa-diagnosa itu. Sampai saat ini, aku merasa aku masih berhadapan dengan banyak sekali lapisan luka yang tak terlihat yang nampak seperti bawang. Tidak habis-habis dikupas.


Sesi terapi pun dimulai. Aku diajari untuk "membantah" pikiranku sendiri yang tidak masuk akal dengan pikiran-pikiran lain yang lebih rasional, aku diajak untuk berjeda setiap kali aku merasa takut dan cemas agar pikiranku tidak kalut. Dan pada salah satu sesi konsultasi, psikologku berkata, "memangnya kenapa kamu harus mikirin pendapat orang lain kalau kamu melakukan suatu hal yang positif?" Pertanyaan itu membuatku terdiam, seolah mendapat "aha moment" yang akhirnya bisa menarikku dari "lingkaran setan" yang selama ini menjeratku. Saat itu juga, pengakuan yang selama ini ku idam-idamkan tak lagi terasa penting. Aku mulai merasa ada beban yang perlahan-lahan terangkat dan kesadaran itu pula yang kemudian bergulung menjadi besar dan menjadi salah satu pemantikku agar tetap hidup.


Pelan-pelan aku mulai menghilangkan "rutinitas"ku yang didasari perasaan cemas, pelan-pelan aku mulai membuat boundaries, pelan-pelan aku mulai bisa bersosialisasi dengan caraku sendiri, pelan-pelan aku mulai bisa melakukan apa yang ku mau tanpa takut dengan perkataan orang. Pelan-pelan. Sejak saat pertama kali aku konsultasi, sekitar akhir tahun 2018, sampai sekarang, aku masih belajar untuk tampil sebagai diriku sendiri. Pelan-pelan. Terkadang "rutinitas" ku kembali muncul, tapi kali ini aku bisa mengambil keputusan dengan sadar dan pada beberapa hal kurasa aku memang perlu "rutinitas" itu. Terkadang aku masih merasa cemas dengan respon orang lain tapi kemudian ku ajak diriku berbicara dan bertanya padanya, "memangnya sepenting apa respon orang lain dibanding dengan hal yang ingin kamu lakukan?" Kalau memang keinginanku lebih penting, maka akan ku lanjutkan. Tapi kalau ternyata respon orang lain lebih penting, maka akan aku urungkan keinginanku. Ku sadari bahwa hal ini sangat membantuku menemukan balance yang selama ini ku pikir tidak penting dan juga menjadi cara yang paling efektif untuk mengenal diriku lebih dalam lagi.


Memang sih apa yang aku lakukan itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Maksudku caraku bersosialisasi dengan teknik ATM. Kadang kita memang perlu mengamati situasi dan kondisi orang lain, terutama orang yang baru kita temui, agar bisa bersikap thoughtful dan tidak seenaknya sendiri. Dan secara sadar ataupun tidak, kita pasti meniru cara bicara ataupun gaya orang-orang di sekitar kita. Dan kadang kita juga melakukan modifikasi untuk menemukan gaya kita sendiri. Yang menjadi salah adalah ketika motivasiku untuk berbaur didasari oleh rasa takut dan cemas yang membuat diriku sendiri "tenggelam".


Sekarang aku tahu bahwa aku tidak perlu hidup berdasarkan label yang disematkan orang lain, aku pun tidak perlu menjelaskan semua hal yang kulakukan. Aku bebas melakukan apa pun yang ku inginkan, aku bebas berbicara tentang apa pun yang menarik minatku. Tak apa-apa kalau orang lain tidak mengerti aku, yang penting aku mengerti diriku. Dan perlu diketahui bahwa saat akhirnya aku mengizinkan diriku sendiri untuk "tampil", aku perlu membekali diriku dengan self-awareness. Aku tidak mau keinginanku untuk tampil sebagai diriku apa adanya malah akhirnya kebablasan dan memunculkan sikap acuh tak acuh ataupun sikap egois yang menyebalkan. Perubahanku tak akan membawa hasil yang baik kalau begitu ceritanya. Self-awareness membuatku lebih menyadari intensi-intensi apa yang hadir pada setiap hal yang aku lakukan. Self-awareness membuatku merasakan emosi dan perasaan paling halus yang muncul di setiap tindak tandukku. Perlu waktu yang lama sekali untukku mempelajari semua hal ini. Proses bertumbuh memang tidak pernah sebentar, juga tidak pernah terasa mudah. Tapi tidak apa-apa, justru karena "waktu yang lama" itu aku jadi tahu bagaimana rasanya benar-benar hidup.


p.s. Psikologku pernah bilang kalau kejadian masa lalu yang tidak mengenakan bisa saja muncul tanpa diundang, apalagi secara teknis aku sedang berusaha menyembuhkan "luka" yang selama ini ku pendam. Psikologku bilang bahwa tugasku adalah memproses kembali kejadian yang muncul tanpa diundang itu agar aku bisa menyelesaikan apa yang belum selesai. Maka ketika kejadian pada masa kelas 2 SMP itu terputar kembali di otakku seperti film, aku mulai tersenyum. Dalam benakku, ku bayangkan ada diriku yang dulu, yang masih kebingungan akan hidup, berdiri di hadapan diriku yang sekarang. Aku menunduk dan mengusap pelan kepalanya seraya berkata, "gak apa-apa kalau orang lain yang tertarik dengan hal yang kamu anggap menarik. Kamu bisa kok menuliskan hal itu sepuasmu dalam diary setelah kamu pulang sekolah nanti. Terima kasih ya karena sudah berusaha bersosialisasi dengan cara yang kamu tahu. Kalau kamu takut gak akan ada yang mau jadi temanmu, aku mau kok jadi temanmu." Lalu ku bayangkan senyumnya pelan-pelan merekah dan awan hitam yang selama ini bergelung di atas kepalanya pun perlahan pudar.

Comments

  1. glad you're fine and find yourself πŸ’•

    jujur aku seneng banget kamu akhirnya bisa terlepas dari lingkaran setan itu
    kamu juga org yang berani karena udah memutuskan untuk ke psikolog ✨

    aku jadi inget dulu aku pun begitu
    selalu berpura-pura demi mendapatkan pengakuan di sekolah
    tapi syukurlah kita semua bertumbuh menjadi orang yang jauh lebih baik hehe

    semoga kamu selalu baik-baik aja yaaa. fighting! 🌻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membaca sampai habis, ya πŸ₯ΊπŸ₯Ί Membaca komentarmu rasanya aku jadi gak sendirian.. Mungkinkah memang nature nya anak remaja untuk mencari pengakuan, ya? Tapi kalau gak bisa manage hal itu maka jd stress sendiri πŸ₯²πŸ₯²

      Amiin.. Semoga kamu juga selalu baik-baik aja, ya.. ✨✨

      Delete

Post a Comment

Popular Posts