Minoel - Ken Terate [BOOK REVIEW]

Minoel adalah cewek SMA yang tinggalnya di pelosok Gunung Kidul yang seringkali minder karena orang-orang sering mengejek kakinya yang pincang. Belum lagi ibunya di rumah pun suka sekali mencak-mencak dan bilang bahwa Minoel itu gak berguna. Minoel memang gak pintar sekolah tapi pintar nyanyi. Bakat menyanyinya itu satu-satunya hal yang dijadikan Minoel untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Bahkan ada yang bilang kalau suara Minoel layak untuk masuk ke acara Indonesian Idol. Tapi, sayangnya Minoel lebih memikirkan kekurangannya yang membuat dirinya masih aja suka minder walau sering menang lomba nyanyi di mana-mana. Apalagi dia gak punya pacar, yang menurutnya adalah kekurangan terbesarnya, karena teman-temannya sudah punya pacar. *nulis ini sambil menahan diri untuk gak sewot (lagi)*

Akhirnya Minoel bertemu Akang yang bikin dia klepek-klepek dengan kata-kata gombal dan janji manis, mereka pun berpacaran. Yola, teman Minoel yang cantik dan suka gonta ganti pacar, sering berkoar-koar dengan bilang Akang itu cowok begajulan yang tukang mabuk. Tapi, Minoel mana mau dengar. Baginya, Akang adalah segalanya karena hanya Akang yang mau menerima kekurangan Minoel, walau kenyataannya hubungan mereka hanya manis di awal. Setelah sebulan, Akang mulai melarang ini itu dengan alasan gak jelas. Gak boleh ngobrol sama cowok, gak holeh ikut kegiatan ini itu, kalau Minoel napas tanpa izin pun gak boleh. Lalu, sikapnya pun makin lama makin kasar dan makin manipulatif. Teman-teman Minoel sudah menyuruhnya untuk putus, tapi Minoel masih kekeuh buat bertahan, berharap Akang bisa berubah. Sampai akhirnya berujung pada hal yang tidak diinginkan.


Membaca buku 272 halaman yang dituturkan dari sudut pandang Minoel sendiri tuh membuat perasaanku kayak nano nano. Kadang aku geregetan, kadang kesal sampai ke ubun-ubun, kadang marah, kadang sedih. Capeklah pokoknya ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Oh, ada satu titik juga di mana aku merasa relate sekali dengan Yola waktu dia udah ngebantuin Minoel bersembunyi dari Akang yang ngamuk-ngamuk, sampai Yola minta tolong abangnya yang polisi, tapi besok paginya Minoel malah jalan berdua lagi dengan Akang. Aku tau gimana capeknya dirimu, Yol ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Buku ini mengangkat tema kekerasan dalam berpacaran (KDP) yang bisa menyentil para perempuan, terutama yang ngotot kudu punya pacar supaya eksis, supaya gak ketinggalan, dan "supaya-supaya" yang lain yang jelas gak masuk akal untukku. Dan gak jarang, mereka memilih bersama dengan orang yang salah, yang bikin mereka banyakan capek atinya daripada hepinya, dan juga berujung dengan KDP atau bahkan kehamilan tak diinginkan kayak yang dialami Lilis, temannya Minoel.


Setting ceritanya di Gunung Kidul sana karena sepertinya Ken Terate ingin memberitahu bahwa perempuan-perempuan di sana perlu lebih banyak edukasi dan uluran tangan karena banyak yang jadi korban KDP dan juga stigma masyarakat di desa itu lebih menusuk. Masih banyak perempuan yang nikah muda atau putus sekolah karena orang-orang masih menganggap bahwa perempuan itu tempatnya di rumah aja ngurus keluarga. Di Jogja ada Woman Crisis Center yang menerima 14-43 laporan kasus KDP setiap tahun selama 6 tahun terakhir (sampai buku ini ditulis tahun 2015) dan tentu aja angka kasus yang tidak dilaporkan bisa jadi lebih banyak.


Tapi, kurasa gak cuma perempuan-perempuan di daerah terpencil aja yang mengalami KDP (asusmsiku mungkin memang kasusnya lebih fatal di sana karena susah menemukan jalan keluar) tapi di kota besar juga pasri banyak yang mengalami kejadian kayak Minoel. Pacaran dengan orang yang salah yang bikin capek ati mulu, misalnya. Atau pacaran dengan orang yang posesifnya kebangetan atau bahkan manipulatif dan hobi melemparkan kesalahan. Dan kayak Minoel juga, banyak yang bertahan dalam ketidak bahagiaan, banyak yang berpikir pasangannya bisa berubah, dan alasan-alasan lain yang seringkali bikin aku mengernyitkan kening ๐Ÿคจ๐Ÿคจ (alasan yang paling sering ku dengar adalah karena udah terlalu terbiasa maka gak mau putus. Udah terlalu terbiasa gak hepi maksudnya? ๐Ÿค”๐Ÿค”)


Tapi, teman-temanku kalau kubilangin pun pasti menyerang balik dengan bilang, "lu kan belom pernah pacaran" atau "nanti juga lu ngerasain, Mei". Ngerasain apa? Jadi korban lelaki posesif atau jadi korban orang manipulatif? Enak aja! Lalu, memangnya kalau orang yang belum pernah ketimpuk batu maka gak tau kalau batu itu keras? It's just common sense dan kadang orang luar malah lebih bisa ngeliat kalau ada yang gak beres dalam sebuah hubungan, entah kenapa malah yang ngerasain langsung itu yang ngerasa hubungannya masih baik-baik aja. Apakah mereka terlalu takut kesepian? Atau apakah mereka terlalu malas mencari yang baru? Apa pun alasannya, bagiku kebahagiaan diri sendiri itu nomor satu. Kalau gak pacaran tapi bisa lebih bahagia dan lebih tenang hidupnya ya kenapa engga? Pacaran itu perlu waktu, emosi, dan energi ekstra, lantas kenapa harus mengorbankan sekian banyak hal itu untuk sesuatu yang malah menyiksa? Seperti kata Mbak Novi di buku Minoel, "pacaran itu harusnya bikin kita jadi lebih happy dan bikin kita jadi manusia yang lebih baik. Kalau gak begitu, berarti ada yang salah."


Aku sudah membaca hampir semua bukunya Ken Terate, dan kurasa buku ini adalah buku yang paling "bersuara". Buku ringan dengan topik yang berat ini perlu dibaca oleh lebih banyak perempuan. Agar banyak yang tersentil atau bahkan tersadarkan bahwa hidup mereka akan tetap baik-baik aja walau gak punya pacar, atau bahkan lebih baik.

 

P.S: Untuk review buku lainnya bisa kalian baca di sini.

Comments

Popular Posts