Laut Bercerita [Book Review]

Minggu lalu aku baru aja menamatkan buku Laut Bercerita yang ditulis oleh Leila S. Chudori. Sebenarnya aku sudah lama penasaran dengan buku itu, tapi entah kenapa maju mundur terus mau baca padahal setiap kali baca review tentang bukunya tuh pasti isinya positif semua. Trus, waktu iseng cek di Ipusnas pun antrian untuk pinjam bukunya mencapai 12 ribu! Antara makin penasaran sama makin mager gitu ya mau baca wkwkwk Lalu, aku juga ngeliat ada pengumuman acara diskusi dan nonton bareng film Laut Bercerita. Saat itu yang aku lihat adalah pengumuman batch 2 nya yang kalau gak salah diadakan akhir bulan Agustus. Nah, waktu aku mau daftar, hanya dalam 5 menit slotnya abis, dong! Wah.. parah.. Udah pertanda ini kalau aku harus baca bukunya, gak boleh engga. Eh, pas iseng buka Ipusnas lagi, ternyata ada dong buku yang bisa dipinjem. Langsung aku pinjem dan baca saat itu juga tanpa memedulikan lirikan tajam dari tumpukan TBR ku X'D X'D

Memangnya buku Laut Bercerita itu tentang apa, sih? Apa yang membuat semua orang berbondong-bondong mengincar buku itu untuk di baca?


Laut Bercerita berisi kisah perjuangan para aktivis, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan alumni, pada masa Orde Baru. Sesuai dengan judulnya, Laut Bercerita, tokoh utama sekaligus tokoh yang membuka babak pertama dari buku ini adalah Biru Laut, mahasiswa Sastra Inggris yang berkuliah di UGM, Yogyakarta. Dari sudut pandang Laut, aku diajak melihat masa-masa kelam di "kerajaan" Orde Baru, di mana banyak terjadi korupsi, ruang lingkup publik dibatasi, rasa ingin tahu dikebiri, dan banyak sekali buku yang dilarang untuk dibaca terutama buku-buku beraliran "kiri". Laut adalah anak yang pemalu dan pendiam, tapi dibalik diamnya itu ia menyimpan rasa ingin tahu dan juga keinginan yang membuncah ruah untuk keluar dari rezim yang menyesakkan itu. Laut kemudian bertemu dengan Kinan yang pada akhirnya menjadi orang yang membawanya terjun ke dunia aktivis. Dari Kinan, Laut berkenalan dengan Bram, Tama, Sunu, Alex, Daniel, Anjani, Julius, dan teman-teman sesama aktivis lainnya yang tergabung dalam komunitas aktivis bernama Winarta. Semua hal yang dilakukan oleh para aktivis muda itu diceritakan dengan sangat detail oleh Laut. Mulai dari saat mereka mencari "markas" yang aman (yang kemudian dilukis dindingnya oleh Anjani dan kawan-kawan); melakukan diskusi-diskusi buku berbau politik atau budaya, baik yang terjadi di dalam ataupun luar negeri; sampai membuat gerakan untuk membantu rakyat kecil yang hak-haknya dirampas oleh pemerintah. Laut menceritakan semua hal dengan detail sekali, sehingga aku merasa benar-benar terhanyut oleh ceritanya yang intens dan terasa sangat grafis, terutama saat Laut bercerita bahwa mereka beberapa kali ditangkap dan dipukuli, beberapa kali dijadikan kambing hitam lalu disiksa, sampai akhirnya mereka menjadi buron dan harus berpindah dari satu kota ke kota lainnya lewat jalur "bawah tanah".

Ada satu titik di mana aku mempertanyakan hal yang sama dengan Laut sesaat setelah ia ditangkap dan disetrum untuk pertama kalinya, "apa yang sebetulnya mereka kejar?" Karena aku merasa bahwa tindakan mereka itu .. hmm apa ya.. aku kesulitan untuk menemukan kata yang menggambarkan semua hal yang mereka lakukan, maksudku perlukah mereka berjuang sebegitunya sampai ditangkap dan disiksa berulang kali, sampai akhirnya meninggalkan keluarga dan menjadi buronan yang dikejar-kejar intel untuk mewujudkan negara penuh demokrasi? Oke, aku akui kalau aku memang buta dengan masa-masa Orde Baru. Aku tidak tahu kalau sebanyak itu hal yang dibatasi dan sekejam itu rezim Seoharto. Aku tahu bahwa pada masa pemerintahannya, Seoharto dikenal sebagai diktator yang bisa menghilangkan orang kalau orang itu melanggar "peraturan". Tapi, tetap aja aku terguncang saat mengetahui siksaan semacam apa yang diterima oleh orang-orang yang ditangkap seperti Laut, dkk. Sepanjang membaca buku ini, aku mati-matian berharap bahwa siksaan-siksaan yang mereka terima itu murni fiksi. Nyatanya tidak. Pukulan, tendangan, sundutan rokok, sengatan dari tongkat listrik, bahkan siksaan di atas balok es semua itu tidaklah fana dan benar-benar terjadi pada masa Orde baru. Masa yang sangat kelam bagi Indonesia, masa yang tidak pernah dibicarakan secara terang-terangan. Dan ku rasa, aktivis-aktivis seperti Laut paham sekali dengan konsekuensi atas tindakan yang mereka lakukan.

"Kita tak ingin selama-lamanya berada di bawah pemerintahan satu orang selama puluhan tahun. Hanya di negara diktatoral seseorang bisa memerintah begitu lama, seluruh Indonesia dianggap milik keluarga dan kroninya. Mungkin kita hanya nyamuk-nyamuk penggangu bagi mereka. Kerikil dalam sepatu mereka. Tapi, aku tahu satu hal: kita harus mengguncang mereka. Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas, dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini." - Kinan

Ada satu review yang ku baca entah di instagram atau di goodreads yang mengatakan orang-orang seperti Laut itu terkesan egois. Pernyataan ini sejenak membuatku mengernyitkan kening. Bagaimana bisa orang-orang yang mengorbankan diri mereka untuk membebaskan rakyat dari kediktatoran dikategorikan sebagai orang yang egois? Tapi, jika dipikirkan sambil melihat keluarga mereka, rasanya pernyataan itu bisa ku pahami, terlebih saat membaca babak kedua yang dituturkan dari sudut pandang Asmarajati, adik perempuan Biru Laut yang mencari kakaknya yang menghilang tanpa jejak selama bertahun-tahun. Dari kisah yang diceritakan Asmarajati, rasa sedih dan kekosongan yang menyesakkan tergambar dengan sangat jelas. Setelah Laut tak kunjung pulang, meja makan yang biasanya terisi oleh 4 orang, ayah, ibu, Laut, dan Mara, pun terasa kosong dan hampa. Di tengah kehampaan itu, ayah dan ibu Laut malah memilih untuk hidup dalam dunia penyangkalan. Mereka masih berharap bahwa suatu hari Laut akan pulang ke rumah dan berkata bahwa ia lapar, maka ayah tak pernah absen untuk menaruh piring Laut di tempat anaknya itu biasa duduk saat makan. Ibu juga sama, ia selalu merasa bahwa anak lanangnya itu akan pulang dan mereka akan memasak bersama lagi. Anjani, kekasih Laut pun merasakan kekosongan serupa. Sejak Laut dinyatakan hilang bersama 12 orang lainnya, Anjani seolah tidak paham bagaimana caranya untuk hidup. Tubuh dan rambutnya sudah tidak terawat dan setiap kali diajak berbicara, Anjani selalu tampak seperti tubuh yang terbungkus kulit tanpa jiwa. Selain itu diceritakan juga kisah dari keluarga teman-teman Laut yang bernasib serupa. Sepilu itu duka yang harus dihadapi oleh keluarga para korban penghilangan paksa. Mereka hidup dalam ketidak tahuan akan keberadaan orang-orang yang mereka sayangi. Dan seberapapun mereka meminta, pemerintah seolah buta akan keberadaan kasus yang belum selesai itu.

Buku dengan tebal 373 halaman ini ku tamatkan hanya dalam 3 hari. Cerita yang sangat intens membuatku berkali-kali ingin menyerah membaca, apalagi saat mengikuti cerita yang dituturkan oleh Asmarajati. Tapi, aku sudah kepalang penasaran dengan nasib mereka-mereka yang kembali maupun tak kembali dan juga nasib keluarga yang mencari kepastian dalam ketidaktahuan. Banyak juga peristiwa sejarah dari negara-negara lain yang disinggung dalam buku ini, seperti politik di Cile pada tahun 1973, Demonstrasi Gwangju tahun 1980, dan gerakan Plaza de Mayo Mothers pada tahun 1978.

Kalau sosok Biru Laut yang idealis itu beresonansi dengan lautan yang tenang tapi memiliki "debur ombak"nya sendiri, menurutku sosok Asmarajati yang pragmatis benar-benar seperti pohon yang tertancap kokoh. Ia tetap berdiri tegak di tengah kehampaan yang entah kapan akan hilang, menjadikan dirinya sebagai sumber kekuatan dan harapan bagi orang-orang di sekitarnya, terutama bagi orang tuanya yang seolah tidak bisa merasakan hidup lagi. Dalam salah satu wawancara, Leila S. Chudori mengaku bahwa pada awalnya ia berniat untuk menuliskan babak kedua dari buku Laut Bercerita dari sudut pandang ibunya Laut. Tapi, pada akhirnya niat itu ia urungkan karena ia tak kuasa menahan rasa sedih dan pedih saat menuliskannya dari sudut pandang ibu yang kehilangan anaknya. Kalau jadinya seperti itu pun sudah bisa ku pastikan bahwa aku tak akan sanggup membaca buku ini sampai habis. T.T

Kejadian yang diceritakan Laut pun ku buktikan dengan serangkaian artikel dan hasil wawancara dari orang-orang yang bersangkutan hidup di zaman Orde Baru yang juga mengalami langsung tragedi Mei 1998 yang ku tonton di youtubenya Menjadi Manusia (kalian bisa menonton videonya di sini). Nezar Patria salah satunya, ia adalah salah satu korban penculikan tahun 1998 yang kemudian dilepaskan. Sosok Biru Laut dalam buku Laut Bercerita bisa dibilang sebagai penjelmaan dari sosok Nezar Patria yang juga pendiam tapi kritis.

Leila S. Chudori meminta Nezar Patria untuk menuliskan kisah penculikannya pada tahun 2008. Nezar Patria menuliskan semua hal yang ia alami dan ia rasakan saat itu dalam artikel berjudul, "Di Kuil Penyiksaan Orde Baru" yang kemudian dimuat dalam Edisi Khusus Soeharto, Tempo, Februari 2008. Dari tulisan Nezar Patria itu, Leila S. Chudori akhirnya memutuskan untuk menulis buku Laut Bercerita yang digarap dari tahun 2013-2017. Selama masa penulisannya, Leila S. Chudori melakukan riset terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Orde Baru dan juga mewawancarai orang-orang yang berkaitan langsung dengan peristiwa naas itu, seperti aktivis yang melakukan aksi demokrasi, korban penculikan tahun 1998, keluarga dari korban penculikan yang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya, dan juga beberapa dokter yang membantunya membentuk karakter Asmarajati. Setelah 4 tahun, Laut Bercerita hadir untuk membuka mata sekian banyak orang atas peristiwa pilu yang tidak boleh terulang lagi.

Sepanjang membaca Laut Bercerita,  perasaanku tercampur aduk sedemikian rupa. Antara sedih, pedih, marah, kecewa, pilu, dan malu. Semua perasaan itu berlomba-lomba untuk menjadi yang paling menonjol. Berkali-kali aku meringis, berkali-kali aku merasa sesak, berkali-kali aku terisak. Aku seolah dilanda kekosongan yang seperti tidak bisa ditambal oleh apa pun. Aku merasa bahwa hal-hal yang aku dapatkan di zaman sekarang ini mahal sekali harganya. Kebebasan. Bebas berpendapat, bebas bersuara, bebas membaca buku apa pun, dan bebas juga mendiskusikan topik apa pun. Lalu, tentu aja aku gak pernah kepikiran kalau-kalau aku bisa dihilangkan karena mengikuti diskusi buku. Kebebasan semacam ini adalah kebebasan yang tak akan pernah dirasakan oleh Laut dan orang-orang lain yang dihilangkan pada zaman itu. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk merasakan Indonesia yang lain. Karena hal itu juga aku merasa malu. Aku jadi bertanya-tanya, sudah ku apakan kebebasan yang sudah diperjuangkan sedemikian rupa oleh para aktivis itu? Mereka semua bertaruh nyawa untuk mewujudkan kebebasan berpendapat dan kebebasan untuk memiliki rasa ingin tahu tapi apakah aku dan kalian sudah memanfaatkan kebebasan itu dengan semestinya? Apakah kita sudah cukup sering menstimulus otak kita untuk berpikir kritis dan mendiskusikan hal-hal yang memang patut didiskusikan? Lalu kadang kalau aku melirik media sosial, aku malah merasa miris juga. Memang benar kalau semua hal jadi bebas untuk dibicarakan dan diperdebatkan, tapi topik apa yang diperdebatkan? Topik tentang passion, topik tentang umur sekian idealnya punya uang sekian, dan yang terakhir ku dengar adalah topik tentang childfree. Bikin auto geleng-geleng gak, sih? Maksudnya apa tuh mengangkat topik yang sifatnya amat sangat personal yang pastinya gak akan ada habisnya kalau diomongin. Kita memanfaatkan kebebasan berbicara hanya untuk menimbulkan masalah baru yang kemudian menimbulkan keributan baru juga.

Selain membuatku merenung lama sekali, Laut Bercerita pun membuatku mengulik lebih jauh tentang sejarah dari negeri yang tanahnya ku pijak setiap hari ini. Masa-masa kelam di Orde Baru adalah sejarah panjang tersendiri yang makin lama menimbulkan efek domino. Bukan hanya serangkaian pembungkaman dan peristiwa politik yang mengguncang pemerintahan, tapi kejatuhannya pun menimbulkan trauma bagi etnis Tionghoa yang seolah menjadi kambing hitam saat kerusuhan Mei 1998. Seingatku, cerita Orde Baru pada buku-buku pelajaran Sejarah yang ku baca dulu hanya memuat serangkaian kebijakan pada masa awal pemerintahan yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang disegani pada masa itu. Ku pikir dulu aku yang tidak pernah fokus saat belajar Sejarah di kelas, tapi nyatanya memang hanya secuil "kisah baik" itu yang dipelajari dari tahun ke tahun. Maka, aku benar-benar berharap bahwa Laut Bercerita bisa dibaca oleh lebih banyak orang, terutama dibaca oleh anak-anak muda yang buta dan tuli akan sejarah bangsa sendiri. Laut Bercerita sangat layak untuk dibaca agar kita tahu bahwa zaman yang kita nikmati saat ini tuh mahal sekali harganya. Dari buku ini pun aku jadi makin giat untuk membaca buku-buku lain yang bertema sejarah, baik buku fiksi ataupun non fiksi (wishlistku kembali menggunung dalam beberapa hari).

Dan setelah selesai membaca kisah Laut, aku baru bisa memahami maksud dari puisi yang disematkan sebagai pembuka buku ini.

Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali....

Dan juga paham dengan kegigihan para aktivis seperti Laut dan alasan mereka mati-matian berjuang untuk membuat Indonesia menjadi negara yang lebih beradab.

"Menurut Sang Penyair, kita jangan takut pada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong, demikian ujarnya. Tapi jangan pernah kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputusasaan, dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia. Masih ada kebaikan yang tumbuh dan hidup di dalam gelap." - Laut

 

P.S: Untuk review buku lainnya bisa kalian baca di sini.

Comments

Popular Posts