Unpopular Opinion

Saat pembicaraan tentang menikah dan punya anak diutarakan secara gamblang, aku kembali mempertanyakan, "kenapa aku harus menikah dan punya anak?"

"Sudah kodratnya begitu"

(Sayangnya) aku termasuk ke dalam kubu minoritas yang menyangsikan penggunaan kata "kodrat" dalam konteks pernikahan (dan semua hal yang terkait dengan pernikahan).

"Sudah turun temurun begitu"

"Sudah semestinya begitu"

"Semua orang juga begitu"

Begini, ya.. Apakah kalau semua orang melakukan A maka aku harus melakukan A juga? Apakah kalau semua orang suka makan indomie kuah maka aku harus ikutan makan indomie kuah juga padahal aku sukanya indomie goreng? Apakah kalau semua orang berlomba-lomba nyinyir di medsos maka aku juga harus terbiasa menghujat orang yang gak aku kenal di medsos juga?

"Mau sampai kapan kamu sibuk dengan hobimu?"

Aku tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu. Seolah-olah ia berkata bahwa hobi-hobiku menjadi distraksi dadi kewajibanku menjalankan kodrat. Persetan dengan kodrat.

Bagiku, menikah dan punya anak bukan perkara kodrat atau keharusan. Hal itu adalah pilihan. Yang menikah siapa? Aku. Yang melahirkan siapa? Aku. Yang membesarkan anak dan membentuk manusia siapa? Aku. Kalau semua itu aku yang melakukan, lantas kenapa aku harus ikut-ikutan orang lain salam menjalani hidup?

Aku egois katanya. Bukankah kalau aku memaksakan diri menjadi seorang ibu dengan pribadiku yang tidak siap maka itu baru egois? Bukankah kalau aku memaksa ingin punya anak hanya karena aku menganggap anak kecil itu lucu itu baru yang namanya egois? Perkara punya anak ini gak semudah memutuskan malam ini mau makan bakso atau kwetiau. Perkara punya anak sama dengan membentuk manusia dengan pribadi sedemikian rupa di tengah dunia yang rasanya sudah sulit sekali untuk ditinggali. Sekarang ini aku saja sudah cukup lelah dan muak tinggal di atas bumi. Akan menjadi ibu seperti apa aku kalau aku membiarkan anakku nanti tinggal di tengah dunia yang kemungkinan besar lebih kacau lagi?

Katanya pemikiranku terlampau jauh. Lalu, memangnya apa yang seharusnya aku pikirkan? Membiarkan diri mengikuti arus? Berharap dunia akan berubah lebih baik? Atau menutup mata saja karena semua hal sudah ada yang mengatur? Kehidupan seperri ini bukanlah kehidupan yang aku janjikan untuk diriku sendiri.

Comments

Popular Posts