SOUL [Movie Review]

Beberapa waktu lalu aku memutuskan untuk berlangganan Disney+ Hotstar di handphoneku untuk menonton film Soul. Iya, film animasi Disney Pixar yang dirilis akhir Desember lalu sukses membuatku mengeluarkan Rp. 199.000 untuk berlangganan Disney+ selama setahun! Padahal tadinya aku kekeuh cuma mau berlangganan Netflix aja. Ternyata saya ini mudah terhasut. Ckckck.. Untungnya film ini sama sekali gak mengecewakan, malah film ini seolah menjadi jawaban atas hal-hal yang seringkali aku cari-cari selama ini.

static.wikia.nocookie.net

Film ini bercerita tentang Joe Gardner seorang guru musik SMP honorer yang memiliki bakat bermain piano dan sangat menyukai musik Jazz. Joe selalu percaya bahwa tujuan ia datang ke dunia adalah untuk bermain piano, lalu pentas di mana-mana dan menjadi terkenal. Sayangnya, kehidupan yang dialaminya gak secemerlang harapannya (setidaknya baginya seperti itu). Ia bekerja sebagai guru musik dan mengajar sekelompok anak SMP yang sepertinya tidak punya minat memainkan saxophone mereka. Kecuali Connie, satu-satunya siswi yang terlihat sangat menikmati bermain saxophone. Joe akhirnya diangkat sebagai pegawai tetap di tempat ia mengajar. Ia mendapatkan gaji tetap, tunjangan bulanan, dan juga dana pensiun. Hal itu membuat ibunya senang tapi tidak dengan Joe. Ia tidak pernah memiliki mimpi untuk menjadi guru musik SMP, karena menurutnya itu bukan passionnya. Hmm

Suatu hari, mantan anak didik Joe, Curley, memberinya tawaran untuk ikut bergabung dalam grup musik Jazz Dorothea Williams. Tanpa pikir panjang, Joe langsung mengiyakan tawaran itu karena bermain diatas panggung bersama Dorothea Williams yang terkenal adalah hal yang selama ini menjadi mimpinya. Dorothea pun setuju setelah melihat Joe bermain piano dengan sangat memukau seolah ia sedang berada di dunianya sendiri. Tapi saking senangnya, Joe terjeblos ke dalam saluran air saat ia memberikan kabar itu pada temannya. Saat itulah jiwa Joe terlepas dan masuk ke dalam sebuah dunia yang bernama The Great Beyond. Joe sudah mati! Joe berusaha keluar dari The Great Beyond tapi akhirnya ia malah masuk ke tempat lain yang bernama The Great Before. Tempat itu adalah tempat di mana jiwa-jiwa baru dipersiapkan sebelum mereka siap turun ke Bumi. Mulai dari kepribadiannya, sifatnya, dan hal-hal yang menjadi minat dan bakatnya. Selain itu, mereka juga harus mendapatkan sesuatu yang disebut sebagai "spark" yaitu sesuatu yang dapat menjadi inspirasi dari setiap jiwa atau mungkin bisa disamakan dengan passion. Setelah semua hal itu terpenuhi, maka mereka akan mendapatkan Earth Pass yang menandakan mereka sudah bisa menjalani hidup sebagai seorang manusia di Bumi. Menarik sekali ya tempat pembuatan jiwa manusia yang satu ini..

Di sanalah petualangan Joe dimulai. Karena ia mau kembali ke dalam tubuh manusianya Joe mengemban misi menjadi seorang mentor untuk seorang jiwa bernama 22 yang sudah sekian kali menolak untuk pergi ke Bumi dan tidak pernah bisa menemukan sparknya walaupun ia sudah berguru dengan Mother Theresa, Abraham Lincoln, atau Muhammad Ali sekalipun. 22 merasa bahwa Bumi itu tidak menyenangka. Joe pun akhirnya menunjukkan kehidupannya di Bumi yang sebenarnya terlihat menyedihkan baginya. Hal tersebut membuat 22 bertanya-tanya, apa yang membuat Joe ingin sekali kembali ke Bumi padahal kehidupannya di Bumi gak bisa dibilang bahagia.

Akhirnya mereka pergi ke suatu tempat yang bernama The Zone. Di sana mereka bertemu dengan Moonwind yang bisa membantu Joe untuk kembali ke tubuhnya. Moonwind menjelaskan bahwa jiwa-jiwa yang ada di The Zone adalah jiwa-jiwa yang sedang berada di dunia mereka sendiri saat melakukan sesuatu yang mereka sebut sebagai spark, tapi ketika manusia sudah terlalu terobsesi pada hal yang mereka lakukan, mereka jadi tidak terhubung lagi dengan sekeliling mereka karena terus-menerus diliputi oleh rasa cemas dan takut.

Singkat cerita, Joe bisa kembali ke Bumi, tapi ia malah masuk ke dalam tubuh seekor kucing sementara tubuh Joe dihuni oleh jiwa 22. Hal yang jelas membuat Joe kalang kabut karena ia perlu mempersiapkan penampilannya bersama Dorothea malam itu. Mau tidak mau Joe dan 22 meminta bantuan Moonwind lagi di sana dan Moonwind berjanji akan membantu mereka setelah pekerjaannya selesai. Sambil menunggu, Joe mempersiapkan tubuhnya yang dihuni 22 untuk pementasannya malam itu. Dan hal-hal yang mereka lakukan malah membuka mata 22. Semua hal terasa menarik baginya. Saat ia bisa berjalan-jalan, saat ia bisa menikmati rasa pizza, saat ia melihat daun yang berguguran, saat ia bisa memakan lolipop dan bercengkrama dengan Daz di salon, saat ia melihat seorang pengamen di subway. Semua hal sederhana itu membuat 22 sangat bahagia dan membuatnya ingin menemukan sparknya di Bumi. Tapi, tentu hal itu jelas-jelas ditentang oleh Joe karena ia perlu tubuhnya untuk menggapai mimpinya malam itu. Joe bilang bahwa semua hal yang membuat 22 bahagia hanyalah hal-hal sepele yang dilakukan sehari-hari dan itu pun karena 22 berada dalam tubuh Joe.

Sedihnya, hal yang dikatakan Joe membuat 22 tenggelam dalam rasa cemas dan takut. Ia merasa tidak pantas turun ke Bumi karena ia tidak menemukan sparknya, ia juga tidak punya tujuan hidup. Melihat scene yang ini aku merasa sangat relate dengan 22, karena aku pun selalu bertanya-tanya, "Apa sih tujuanku hidup di Bumi?" Tapi, ternyata apa yang disebut spark itu bukan melulu hal besar yang menginspirasi, bukan berarti sebuah mimpi yang harus dicapai, bukan juga tujuan hidup yang harus dicari. Spark itu sesederhana hal yang membuat kita bahagia saat melakukannya, walaupun hal itu adalah hal-hal sehari-hari yang selalu kita lakukan.

Film ini menurutku bukanlah film yang ditujukan untuk anak-anak, karena jelas anak-anak pasti akan bingung menangkap pesan dalam film ini. Film ini sepertinya lebih ditujukan untuk orang-orang yang sedang mencari jati diri atau berada di persimpangan, mungkin bahasa kerennya adalah Quarter Life Crisis. Karakter Joe dan 22 yang sangat bertolak belakang adalah karakter yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada berapa banyak orang yang terus-terusan menolak pekerjaan karena mereka pikir itu bukan passion mereka? Sebuah fenomena yang terjadi belakangan ini dan terutama menyerang kaum milenial dan membuat kata "passion" itu menjadi overratted.

Aku jadi teringat suatu kejadian saat aku makan malam di salah satu tempat makan favoritku dulu, jauh sebelum negara api menyerang. Aku makan sendirian di meja untuk 6 orang dan karena tempat makan itu ramai maka aku perlu berbagi meja dengan orang lain. Saat itu yang duduk di sampingku ada 2 orang wanita. Jarak tempat duduk yang dekat membuatku bisa menangkap setiap pembicaraan mereka tapi ada satu hal yang jelas terngiang-ngiang di benakku sampai sekarang, saat salah satu dari mereka bertanya, "Sebenarnya passion itu penting gak, sih?" Sebuah pertanyaan yang belum juga ku temukan jawabannya hingga sekarang. Sebuah pertanyaan yang juga menjadi perdebatan tak berujung bagi manusia-manusia jaman sekarang. Passion itu penting gak, sih? Mungkin ya jawabanku adalah tergantung. Kita mau memakai definisi passion yang mana dulu untuk menjawab pertanyaan itu? Kalau memakai definisi passion yang overrated, menurutku gak penting-penting amat. Karena definisi passion yang seperti itu hanya akan membuat kita memilih-milih setiap hal dan mengejar hal-hal yang mungkin saja gak realistis seperti yang dilakukan Joe. Benar, mengejar mimpi itu adalah hal yang baik. Tapi, kalau sudah terlalu terobsesi pada mimpi itu, kita akan melupakan setiap hal kecil yang sebenarnya bisa kita nikmati. Si Joe itu mana pernah dia merasa begitu terharu mendengar seorang pengamen bernyanyi di Subway seperti yang dilakukan oleh 22. Tapi, setelah mimpinya tercapai pun Joe merasa tidak ada perubahan pada dirinya. Padahal selama ini  ia mengira bahwa mimpi itulah tujuan hidupnya, mimpi itulah yang menjadi passionnya.

Film Soul ini juga menarik karena memberikan pesan hidup yang sederhana (yang sering dibikin complicated oleh manusia-manusia Bumi (baca: kita)) dan dikemas dengan cara yang menarik dan mudah dipahami yang membuat orang yang menontonnya berpikir ulang tentang apa yang sebenarnya bisa membuat mereka bahagia dan apakah selama ini cara mereka mengejar mimpi mereka sudah benar. Dan yang menarik lagi adalah istilah spark yang dimunculkan dalam film ini yang seperti aku bilang mirip dengan istilah passion. Secarah harafiah, spark artinya percikan api, tapi percikan api itu bisa membuat hidup kita lebih bermakna. Peran spark dalam kehidupan kita memang sepenting itu, tapi bukan berarti jika percikan api yang kita idam-idamkan tidak tercapai atau hilang bukan berarti kita tidak bisa mencari percikan api yang lain.

Oiya, ada satu tempat lain yang juga menarik buatku selain The Great Beyond, yaitu tempat bernama The Zone yang sudah kusinggung tadi dan aku rasa setiap orang pasti pernah masuk ke tempat itu saat kita melakukan hal yang membuat kita seolah berada di dunia kita sendiri. Kalau aku tentu saat aku menulis, membaca, dan day dreaming. Haha Saat aku menulis aku hanya berkonsentrasi pada hal-hal yang ada di kepalaku. Mau aku bilang, "Gak tau mau nulis apa" berapa kali pun, begitu aku mulai menulis 1 kalimat, 1 kalimat itu langsung berkembang menjadi 1 paragraf, lalu 1 paragraf berkembang menjadi paragraf-paragraf lain, akhirnya menjadi tulisan panjang yang seolah gak habis-habis dibacanya. Wkwkwk Saat aku membaca pun aku asik dalam duniaku sendiri sampai mamaku pernah bilang, "Kalau Mei baca mah ada bom di sebelah juga dia gak sadar." Wkwkwkwk Lalu, saat day dreaming.. Aku punya pikiran yang super complicated, dan karena aku merasa mudah sekali menaruh minat pada hal-hal kecil seperti 22, aku bisa meluangkan waktu sekian menit untuk memikirkan hal itu dan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang menurut orang lain sepele tapi menurutku itu penting karena menstimulus rasa ingin tahuku. Aku bisa merasa senang sekali mencari tahu silsilah hidup Jengkhis Khan atau saat aku menjari tahu kenapa abjad pada keyboard komputer itu berantakan. Iya, hal-hal sederhana seperti itu adalah sparkku. Berkat film Soul aku sudah mengantongi jawaban atas pertanyaan, "Apa tujuanku untuk hidup?" yang menari-nari di kepalaku. Tujuanku untuk hidup? Untuk menikmati setiap hal yang ingin aku lakukan.

Comments

  1. Aku nonton ini sampai dua kali Mei!! Haha pertama karena belom nonton awalnya (diputar pas aku lagi sibuk ini itu), yang kedua saat adek ipar mao nonton ini juga... Hahaha Tapi tetep aja aku seru untuk mengikuti filmnya. Aku juga setuju kalo film ini tuh ga cocok untuk anak kecil karena memang makna film ini lebih ke untuk orang yang sedang mengalami quarter life crisis atau sedang dalam pencarian jati dirii hehehe
    Selamat Mei sudah menemukan sparkmu ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru ya memang nontonnya, visualnya juga memanjakan mata krn banyak warna & vibesnya dreamy gitu. Thank you, Pika. Hehe

      Delete
    2. iyaa seruu hehe warnanya biru-biru gimana gitu yaaakk bikin aku seneng liatnya uga karena suka biru hehehe

      Delete

Post a Comment

Popular Posts