Don't Grow Up!! It's A Trap. Really?

Don't Grow Up
It's a Trap

Pernah dengar kalimat begitu? Kalimat yang disetujui oleh sebagian besar orang dewasa yang merindukan masa anak-anak. Yang jelas tidak disetujui olehku.

Hmm waktu kecil aku terlalu banyak berdiam diri dan menutup diri dari semua orang. Kalau image anak kecil tuh suka lari ke sana kemari, ngetawain semua hal dengan mudahnya, mudah juga dibuat senang oleh hal-hal kecil, aku gak termasuk anak kecil yang begitu. Aku lebih dikenal sebagai anak pendiam yang jutek dibandingkan dengan anak yang ceria. Malah aku lebih banyak tertawa lepas setelah aku beranjak dewasa daripada waktu aku masih kecil.

Lucu kan bayi banyak gaya ini? XD
Pernah suatu ketika, waktu aku masih SMP, aku lupa karena apa tapi yang aku ingat saat itu aku tertawa kencang sekali dan salah satu teman dekatku bilang, "baru kali ini gue liat Mei-Mei ketawa lepas banget." Komentar itu langsung menimbulkan pertanyaan dalam benakku, "sejarang itu kah aku tertawa?"

Ini kesannya masa kecilku suram banget, ya. Wkwkwkwk Engga, kok. Aku gak semenyedihkan itu. Aku punya beberapa teman juga, aku suka asik sendiri baca komik atau novel, aku suka ngikutin tren mainan kekinian juga. Tau tamagotchi? Nah, berarti kita seumuran. Wkwkwk Waktu SD aku punya 3-4 buah mainan itu yang aku pakein gantungan kunci berbiji-biji. Main lompat tali dan engklek pun sering, walau selalu berakhir dengan kekalahan. Main PS1, main The Sims, dan mainan-mainan lain yang ngetren pada jamannya. Walau aku gak suka-suka amat sama main game, sih.

Rasanya enak ya? Emang enak, kalau kita liat suka citanya aja. Kalau aku mau main game itu, aku masih bisa main sekarang, kok. Dengan kualitas yang lebih bagus malah daripada yang aku mainin dulu.

"Tapi kan enak dulu masalahnya cuma ngerjain PR sama ujian aja."

Ingat gak kalian pas masih jaman sekolah rasanya dapet PR tuh gimana? Waktu ujian dapat nilai jelek, gimana rasanya takut diomelin mamak? Belom lagi kalau telat masuk kelas atau ketauan bandel, dihukum guru sampai kena SP tuh gimana rasanya?

Aku masih inget rasa deg-degan aku pas suatu ketika kelasku ketahuan ribut saat gak ada guru dan ada tugas mencatat tapi gak ada yang mencatat. Semua anak yang ketahuan gak mencatat, bukunya dilempar dan disuruh lari di lapangan tengah hari bolong!! Aku gimana? Aku mencatat dengan kecepatan penuh (rekor menulis tercepat sejauh ini aku rasa hmm) dan sebelum si guru mendarat di samping mejaku aku sudah selesai mencatat, dengan tulisan acak adut yang gak terbaca tentu saja.

Dan lagi, kalau saat ini kalian membandingkan lebih enak dapat PR dan ujian pas jaman sekolah menurutku itu gak apple to apple. Aku, kamu, dia, dan mereka, udah gak berada di level "dapat PR dan ujian dari sekolah" tapi berada di level "dapat PR dan ujian dari kehidupan." Ibaratnya kayak main game, saat kamu level 1 tuh ngerasa susah tapi lama-lama skill nya naik lalu peralatan tempurnya pun nambah. Setelah berada di level 10 kamu balik lagi ke level 1, dengan skill dan peralatan tempur yang kamu punya, level 1 jelas terasa gampang banget, kan? Kalau main game, setiap level punya tingkat kesulitannya masing-masing, level kehidupan pun begitu adanya, Jo Yi Seo. (Masih belum move on dari Itaewon Class wkwkwk).

Berat ya kesannya? Yah, namanya juga hidup. Tapi tergantung kamu mau melihatnya berat atau dibawa ringan aja. Kalau aku sih mengakui betul kalau hidup itu berat. Tapi, sampai saat ini aku masih hidup, kan. Masih napas, kan. Masih bisa ngetik tulisan panjang ini tengah malam, kan. Walau aku tahu betul hidup seberat apa yang aku lalui, fakta bahwa aku masih ada di sini saat ini tuh udah cukup buatku merasa aku bisa melalui perjalanan yang lebih panjang lagi. Kalian yang baca tulisanku ini juga sama.

Jadi, kalau disuruh balik lagi ke masa kecil ya aku gak mau. Rasa gak sukaku dengan PR (apalagi kalau PR nya fisika) sama aja dengan rasa gak sukaku dengan tagihan kartu kredit yang bikin gajian cuma numpang lewat. Waktu kecil hidupku terasa lebih mudah kalau dilihat dari kacamataku yang sekarang karena semua "beban" masih dipikul oleh orang dewasa. Tapi, waktu kecil aku lebih banyak takut dan magernya daripada sekarang, waktu kecil aku gak punya otak yang bisa berpikir sejernih sekarang, aku gak punya ambisi untuk menjadi orang berguna, dan aku gak tau menau tentang bagaimana caranya merasa cukup dengan diriku sendiri.

So, what I wanna say is, "just grow up, it's not a trap"

Comments

Post a Comment

Popular Posts