The Silent Black Hole

Waktu kecil, mamaku membelikanku banyak sekali buku bacaan dan di antara buku-buku itu ada buku yang menjelaskan tentang tata surya. Hal yang menarik minatku dalam buku-buku tentang tata surya adalah sesuatu yang disebut dengan Black Hole, yang secara harafiah berarti Lubang Hitam, yang menurut Teori Relativitas diciptakan dari massa yang besar sekali (sebesar yang tidak bisa aku bayangkan) yang membuatnya memiliki gaya gravitasi paling kuat di alam semesta. Semua partikel di dekatnya akan tertarik ke dalam lubang misterius itu, bahkan cahaya yang digadang-gadang sebagai partikel paling cepat di alam semesta pun tidak bisa kabur dari lubang itu.

Aku tidak begitu tertarik lagi dengan Jupiter atau Neptunus dan berapa banyak bulan yang mengorbit mereka setelah aku membaca tentang Black Hole yang artikelnya tidak lebih panjang daripada artikel mengenai Pluto. Black Hole seolah dianak tirikan dari gugusan tata surya lainnya, baik dalam buku pengetahuan anak-anak yang aku baca ataupun buku pelajaran di sekolah. Buku-buku yang aku baca sebagian besar mengambil matahari, bulan, 9 planet dalam tata surya, dan Milky Way sebagai topik utama.

Sampai Nasa berhasil memotret Black Hole dengan alogaritma rumit dan bantuan dari kecerdasan buatan yang sudah pasti tidak bisa aku pahami, dan menyiarkan penampakan asilnya ke seluruh dunia, yang tentu saja berbeda dengan apa yang selalu ada di buku dan internet. Rupanya selama ini manusia hanya mengandalkan imajinasi mereka yang terbatas untuk menggambarkan sesuatu yang berada di luar batas.

Secara filosofis, Black Hole dalam diriku juga memiliki gravitasi yang sangat besar. Menarik semua kegembiraan, perasaan menyenangkan, dan hal-hal indah di sekelilingnya ke dalam kehampaan yang misterius. Bahkan rasa syukur pun tak luput dari gaya gravitasinya yang seolah berada di luar jangkauan nalarku. Semua senyum dan suka cita seolah tertarik ke dalam ketiadaan, begitu saja, tanpa ancang-ancang, tanpa tersisa sedikitpun.

Black Hole ini pun adalah lubang yang selama ini aku anak tirikan karena aku terus-terusan berfokus untuk mengembangkan standar bahagia dan mencari tahu lebih banyak hal tentang rasa syukur. Black Hole yang mengerikan ini seolah mengamati dalam diam dan menunggu waktu yang tepat untuk menyeruak ke permukaan, melahap habis semua hal baik yang ada di sekitarnya dengan semena-mena ke dalam kehampaan yang menyedihkan.

Yah, itulah yang aku rasakan akhir-akhir ini. Dan aku merasa bahwa Black Hole ini semakin hari semakin gencar memamerkan kekuatan gravitasinya.

Comments

Popular Posts