Kekaguman Yang Tidak Bisa Tidak Aku Suarakan

Setiap kali membaca novel dengan genre young adult, garapan John Green terutama, aku menemukan tokoh-tokoh jenius yang aku ragukan eksistensinya dalam dunia nyata. Terutama Augustus Waters. Tokoh fiksi jenius pertama yang aku baca, yang akan menjadi tokoh fiksi jenius favoritku sepanjang aku hidup, buah dari isi kepala John Green yang jenius karena berhasil menciptakan lelaki jenius dengan cara yang jenius.

Augustus Waters jenius dalam merangkai kata yang merupakan manifestasi dari gairah hidup dalam 'selamanya' yang begitu singkat dan padat atau semata-mata hanya kesenangan duniawinya akan dirinya sendiri yang menawarkan kerupawanan.

Aku selalu merasa kecil jika menyandingkan diriku di antara tokoh fiksi dengan pemikiran yang sepertinya di luar nalar manusia hidup kebanyakan. Walau sebenarnya aku belum berkenalan dengan semua tokoh fiksi jenius yang hidup di dalam ketak terhingaan buku-buku yang beredar di muka Bumi. Maka akan ku katakan sekali lagi bahwa aku meragukan eksistensi tokoh-tokoh fiksi jenius itu dalam kehidupan nyata.

Apakah ada orang yang terobsesi dengan segala macam metafora yang tersebar di sekelilingnya hingga akhirnya ia berhasil menghubungkan hasil kejeniusan manusia lain yang ditunjukkan melalui gambar piksel dengan perpanjangan waktu kehidupan yang tak terduga-duga seperti Augustus Waters?

Apakah ada orang yang membuat kita bertanya-tanya bahwa hidup itu adalah sebuah labirin yang membuatmu menghabiskan seluruh hidupmu untuk mencari cara keluar dari labirin yang seolah tak pernah memiliki ujung seperti Alaska Young?

Apakah ada orang yang membuat kita ikut memikirkan analogi bahwa setiap orang terbuat dari cawan yang tak tembus pandang kecuali ketika cawan itu retak dan akhirnya kita bisa mengintip sedikit mengenai apa-apa saja hal esensial dari setiap individu seperti yang dikatakan oleh Margo Roth Speigleman?

Aku mengaggumi serangkaian metafora yang seringkali tak terpikirkan, aku suka menenggelamkan diri dalam hal-hal yang bersifat filosofis, aku suka membuat analogi untuk hampir semua hal di sekitarku. Tapi, apalah aku jika dibandingkan dengan semua tokoh fiksi jenius yang entah bagaimana caranya tercipta dari daya khayal yang kemudian menghasilkan sebuah ciri dengan sedemikian rupa yang menginspirasi dengan cara menarik yang tidak lumrah.

Maaf saja ya kalau kesannya aku ini meracau karena terus menerus membandingkan diri dengan orang-orang yang eksistensinya dalam dunia nyata ku ragukan. Tapi aku tidak bisa tidak mengatakan kekagumanku yang selalu muncul seperti penyakit musiman.

Aku juga jadi tergelitik untuk membaca ulang tulisan-tulisanku yang jadi terkesan seperti debu di atas lemari. Tapi, nyatanya aku juga mempunyai ciriku sendiri yang mungkin menarik walau aku akui bahwa hal itu tetap disampaikan dengan cara yang lumrah yang tidak akan membuat orang terpesona karena mereka membaca kata-kata yang luar biasa walau mereka tidak tahu arti persis di balik kata-kata itu, hanya semata-mata karena penggunaan kata yang tidak lumrah maka terkesan menarik. Tapi, sayangnya pemilihan kataku sangatlah lumrah karena sebenarnya aku hanya sedang berbicara melalui kata.  Mungkin salah otakku karena hanya menyimpan perbendaharaan kata yang terbatas. Tapi, aku mengakuinya sebagai ciriku, yang siapa tahu akan berkembang menjadi lebih tidak lumrah seperti keinginanku entah bagaimana ceritanya nanti.

Aku menikmati segala ciri yang disuguhkan lewat rangkaian kata yang aku tulis dalam serangkaian purnama yang telah berlalu dan akan berlalu. Sederhana dan begitu apa adanya. Iya, aku mengakui kalau itu adalah ciriku.

Comments

Popular Posts