Mind Your Own Business

Ada satu hal yang sudah sejak kapan tertanam di benakku dan ku bawa-bawa setiap hari sebagai tongkat 'ideologi'ku. "Mind your own business." Aku bukan orang yang suka berbasa basi baso, bukan orang yang suka membuang-buang waktu buat kepo-kepo gak jelas (apalagi kepo sama orang yang gak benar-benar deket sama aku), dan juga bukan termasuk ke dalam spesies manusia yang peduli sama pikiran dan perkataan orang lain. Aku cenderung berpikir, kalau si A melakukan ini itu ya itu urusan dia, kalau si B ngomongin aku ini itu ya itu urusan dia, kalau si C suka atau gak suka sama aku ya itu urusan dia, kalau si D mau nyinyirin aku atau ngomong yang baik2 tentang aku ya itu urusan dia. Pernah ada temanku yang sampai geleng-geleng kepala karena aku gak tau kalau aku diomongin di belakang. Apa reaksiku begitu tau? "Oh," sambil lanjut ngunyah Pocky. So what? Mulut-mulut dia, yang buang-buang waktu kan dia bukan aku. Justru harusnya aku makasih kan karena ada orang yang repot-repot mikirin aku. 🤔🤔

Begitu juga caraku memperlakukan diriku sendiri. Kalau aku mau jalan kayak cowok atau kayak cewek, ya itu urusan aku. Aku mau pake make up atau engga, ya itu urusan aku. Aku mau nyinyirin orang atau engga, itu urusan aku. Aku mau suka atau gak suka sama orang, itu urusan aku. Semua hal yang aku lakukan, ya itu urusan aku. Orang mau menilai aku baik atau buruk, ya bukan urusan aku. Beginilah caraku memaintain hidup yang simpel. Karena hidup yang simpel begini pun banyak drama, apalagi kalau dibikin njelimet? 🤔🤔



Tempo hari aku makan bareng orang kantorku karena direkturku berulang tahun. Makan di Ita Suki dekat kantor, begitu kami datang makanan langsung disajikan di atas meja. Ada shabu-shabu, seafood, sayur, dan makanan-makanan lainnya yang jelas menggugah selera. Ooops, gak bermaksud buat bikin kalian ngiler sih. Wkwkwk Aku dan teman-temanku langsung menyantap makanan itu (setelah update instastory pastinya Hmm) dengan begitu khidmat. iya, biasanya kalau lagi makan kan orang diem ya, begitu khusuk menikmati makanannya. Apalagi gratis, makin nikmat kan, tuh. Wkwkwkwk

Aku bukan tipe orang yang 'tega' kalau ngeliat makanan gak habis. Merasa sayang dengan jerih payah koki yang masak dan orang yang bayar (apalagi kalau aku yang bayar hmm). maka, biasanya aku makan dengan rasa tanggung jawab. Apa yang aku ambil pasti aku habiskan, apa yang ada di atas mejaku pasti aku habiskan. Apa yang ada di atas piringku adalah tanggung jawabku, apa yang ada di atas piring temanku adalah tanggung jawab temanku. Tapi, gak semua orang berpikiran sama sepertiku, kan. Di beberapa meja masih terlihat piring-piring berisi makanan sisa yang gak termakan habis. Gak cuma waktu aku makan-makan kemarin aja. kalian juga kalau ke restoran pasti suka ngeliat kan orang yang gak ngabisin makanannya. Walaupun ngeliatnya berasa sayang, tapi gak cuma 1-2 orang yang menyisakan makanan di piring mereka. Akan terlalu banyak makanan yang sepertinya harus dilahap kalau aku melirik ke meja-meja lain, yang melebihi porsi makanku seharusnya.

Dan menurutku, ceritaku itu merupakan analogi yang cocok untuk menggambarkan kehidupan yang kita jalani sekarang. Makanan itu bisa berarti tanggung jawab. Entah ada masalah yang terkandung di dalamnya, beban moral, atau apa pun itu yang membuat si punya 'piring' harus bertanggung jawab atas apa pun yang tersaji di sana. Setiap orang punya 'piring'nya masing-masing yang harus mereka pertanggung jawabkan. Kalau kita terlalu memedulikan 'piring' orang lain, maka lama-lama akan ada terlalu banyak 'makanan' yang menjadi concern kita. Bisa jadi 'makanan' tersebut melebihi porsi 'makan' kita seharusnya atau mungkin saja kalau kita terlalu memerhatikan 'piring' orang lain, 'piring' kita sendiri pun terbengkalai.

Oh, dan satu hal lagi. I did everything in my own way. Seperti yang udah aku katakan aku mau begini aku mau begitu ya itu urusanku. Tapi kadang, mungkin ada beberapa tingkah lakuku yang membuat orang lain mengernyitkan dahi. Iya, aku ini dikenal sebagai anak anti-mainstream. Maka, aku menjelaskan sekali dua kali, kenapa aku begini kenapa aku begitu. Kadang ada orang yang mengerti, kadang ada orang yang senang berspekulasi dengan pikiran mereka sendiri. Satu hal yang perlu diketahui, aku ini orangnya malas menjelaskan. Menjelaskan sesuatu adalah hal yang sangat menyebalkan bagiku. Jadi kalau aku udah ngejelasin 1-2 kali tapi orang lain tetap berspekulasi, yaudah bodo amat, mereka ini yang berspekulasi. Walau mirisnya, (entah miris atau engga sih sebenernya) orang-orang yang seringkali berspekulasi adalah orang-orang terdekatku. 🙃🙃

"Mind your own business" is such a nice ideology for me and such a nice reminder to not waste your precious time for unimportant things.

Comments

  1. jadi keinget satu joke soal mind your own business yang kuliat di instastory
    ah jangan2 instastory lo deh :p
    yang cerita soal seseorang sedang melewati lorong di RSJ, dia mendengar dari balik kamar pasien2 sakit jiwa ramai meneriakkan "13...13...13..". Dia penasaran tapi jendela yang ada terlalu tinggi sehingga dia ga bisa ngeliat ke dalam kamar. Tapi ada celah di pintu sehingga dia bisa mengintip ke dalam kamar tersebut. Jadi dia pun mendekat dan mulai mengintip ke dalam. Ga lama salah seorang pasien sakit jiwa itu mencolokkan kedua jarinya pada mata orang yang sedang mengintip dari balik celah tersebut. Lalu dari dalam kamar pun mulai berteriak "14...14...14...." Yes mind your own business Hahaha

    btw kayanya ada yang salah tulis d mei. "Aku bukan tipe orang yang 'tega' kalau ngeliat makanan gak habis." Harusnya kata "bukan"-nya dihapus deh. Lebih pas. Hehe #grammarnazi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts