Masih Ada Orang Baik Di Dunia Yang (Kadang) Semerawut Ini

Tempo hari, sehabis aku nemenin temanku dan adikku naik MRT, di perjalanan pulanh melihat seorang nenek di jalan yang asik makan roti. Temanku berpikir kalau nenek itu pasti lapar lalu dia inisiatif mau ngasih roti yang dia beli untuk tambahan makanannya. Sementara aku adalah manusia yang gak penuh dengan spontanitas, aku melihat baju dan sepatu Si Nenek masih layak, maka aku takut Si Nenek tersinggung kalau dikasih makanan karena disangka pengemis. Tapi aku bilang sama temanku, "yaudah coba aja kasih kalau mau", akhirnya dia tetap nyamperin Si Nenek dan ngasih rotinya. Si Nenek yang lagi asik makan pun menoleh lalu bilang, "lho gak usah, ini saya dapat dari gereja, kok." Lalu ujung-ujungnya kami mengobrol singkat.

"Agama kalian apa?" Aku agak skeptis kalau ditanya agama, waktu itu aku udah berpikir macam-macam aja walau akhirnya menjawab juga pertanyaan Si Nenek yang berbeda agama dengan kami. "Gak apa-apa beda. Umur saya udah 82 tapi semoga kamu diberkati," ucap Si Nenek sambil menunjuk kami satu-satu, terutama temanku yang tadinya mau ngasih roti. "Semoga kamu diberkati, kamu udah ada niat baik mau ngasih saya roti, tapi saya udah dapat dari gereja. Kamu simpan aja." Begitu katanya. Lalu setelah mengucap selamat tinggal dan hati-hati, si nenek pun pergi.

Dari kerjadian itu aku menyadari bahwa gak semua hal terjadi seperti yang aku pikirkan. Aku udah berpikir yang engga-engga waktu Si Nenek menanyakan agama. Takut Si Nenek malah ceramah atau terlebih nyuruh pindah agama seperti kebanyakan stranger yang aku temui. Karena aku pikir topik agama di negara ini masih agak hmm apa ya agak sensitif untuk diperbincangkan apalagi sama stranger. Tapi nyatanya engga, lho. Malah dengan muka yang sumringah Si Nenek memberkati kami.

Cerita lain waktu aku pulang naik kereta. Aku dan adikku kala itu langsung dapat tempat duduk. Lalu di depan kami ada sepasang suami istri. Si Istri dapat duduk, Si Suami bersedia berdiri di samping istrinya. Kereta yang ku naiki adalah kereta ekonomi antar kota yang rame, banyak orang daerah naik dengan bawaan bejibun, dan jauh dari kata nyaman. Dapat duduk udah termasuk sebwah kemewahan disertai dengan resiko kaki kesenggol-senggol orang atau tempat duduknya goyang-goyang karena ada anak kecil gak bisa diam yang duduk di belakang. Waktu kereta belum jalan ada ibu-ibu yang masuk dengan bawaan banyak dan berjalan melewati Si Suami, sepertinya dia habis belanja entah di Tanah Abang atau Mangga Dua. Si Suami yang berdiri di samping istrinya dengan suka rela menawarkan bantuan. "Sini bu saya naikin barangnya ke atas," dengan sigap tanggannya mengangkat barang-barang si ibu dan menaruhnya di bagasi atas (yah apalah itu namanya), ada dua barang yang diangkut tapi si ibu asik ngedumel karena dia didorong-dorong orang belakangnya. Boro-boro bilang makasih ke Si Suami. Tapi Si Suami itu tampaknya bukan orang yang fakir ucapan terima kasih. Setelah dia mengangkut barang-barang si ibu dia kembali berdiri di samping istrinya. Lalu, tak lama ada anak kecil yang duduk nyempil di samping Si Istri dan bawa-bawa tas ransel. Lagi-lagi Si Suami menawarkan bantuan dengan begitu entengnya. "Sini tasnya om taro di atas."

Beberapa waktu lalu, sepupuku ada yang nulis caption di Instagram yang bunyinya kurang lebih mengatakan kalau orang pasti mau deketin kita atau mau bantuin kita kalau orang itu mendapat keuntungan dari kita. Kalimatnya itu aku jawab dengan kalimat, "berarti kamu mainnya kurang jauh." Aku bilang begitu bukan semata-mata aku sok bijak atau apa. Tapi, karena aku sudah lihat dan mengalami sendiri. Dua cerita di atas hanya segelintir bukti bahwa orang yang menolong tanpa pamrih itu gak hanya ada di buku PPKN (eh, masih ada gak tuh pelajarannya sekarang? 🤔🤔).

Ada lagi cerita saat aku tempo hari tertabrak motor waktu sepedaan. Selain aku bersyukur karena aku pakai helm jadi kepalaku gak sampai bocor atau (amit-amit) meninggal, aku bersyukur juga karena aku ditolong oleh orang-orang baik. Ada polisi yang mengamankan kejadian, lalu ada orang-orang lain yang bantu aku manggilin taxi saat aku bilang mau ke RS. Dan supir taxi beserta beberapa orang bersedia bantuin naikkin sepeda lipet aku ke dalam taxi dan anterin aku sampai ke RS. Kalau dilihat dari segi penampilan, lah elah aku lancai banget kalau naik sepeda. Cuma pakai kaos, celana pendek, dan tas pinggang yang udah sobek, tanpa bawa uang sepeser pun! Tapi, masih ada orang-orang yang mau bantuin sampai segitunya. Mungkin orang lain akan bilang, "yaiyalah dibantuin, masa dibiarin." Kalian tentu sering liat kan kejadian orang kecelakaan atau ada yang digebukin atau semacam itu tapi gak ada yang nolongin. Okelah anggap aja aku terlalu naif, menganggap semua orang yang menolong aku waktu itu baik banget. Tapi, kalau kalian mengalami kejadiannya sendiri, pasti kalian gak punya pilihan lain selain bersyukur, kan.

Mereka memang bukan Mesias, tapi perkataan Si Nenek, tindakan Si Suami, dan pertolongan dari orang-orang yang gak aku kenal (dan gak mengenal aku) itu cukup membuatku semakin percaya kalau masih ada orang baik yang tulus membantu orang. Walau gak terlalu terkespos seperti orang-orang yang sukanya main hakim sendiri, ribut di angkutan umum, julidin orang, atau orang-orang alay yang berulah di mana-mana.

Aku jadi ingat sebuah kalimat favoritku dari buku favoritku, Little Prince. "What is essential is invisible to the eye." "Apa yang terpenting tidaklah tampak." Ditambah lagi orang-orang kebanyakan terlalu fokus sama hal-hal yang tidak penting, entah kenapa.

https://imgur.com/r/QuotesPorn/LexgHs5

Comments

  1. Temenmu baik amat random ngasih roti ke nenek2?
    Btw itu kok bisa ditabrak Mei???

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts