Cerita Manusia Pikun

Waktu jaman sekolah aku didaulat sebagai salah satu anak yang ingatannya paling bagus. Simply, karena aku suka baca buku. Dan semua hal yang aku baca pasti gampang banget nempel di otakku, termasuk baca buku pelajaran. Maka, mamaku gak pernah khawatir setiap kali aku ada ulangan teori di sekolah (walaupun jadi langganan remedial kalau sudah menyangkut itung-itungan 🤣🤣).

Aku ingat, waktu SMP aku menjadi salah satu dari 3 murid yang lolos tes menghafal cerita di pelajaran Bahasa Indonesia. Bayangin, disuruh menghapal 2-3 halaman yang berisi cerita tapi cuma 3 orang yang bisa dari satu kelas. Well, aku gak bermaksud sombong atau merasa jumawa, sih. Cuma aku heran aja, secara yang disuruh dihapalin itu bukan bacaan teori semacam ngapalin peta buta beserta negara dan ibu kotanya atau cerita yang berat macam sejarahnya Nazi. Cuma cerita kayak cerpen anak-anak doang which is ringan banget, kan. Tapi, gak ada yang hafal. Oke, aku sebenernya gak menghafal juga, sih. Aku punya kebiasaan buat bacain hal-hal menarik di buku pelajaran, walau yang dibahas belum sampai bab itu. (Kayak anak rajin ya kesannya wkwkwk) Jadi waktu ada tes menghafal cerita, sebenarnya itu adalah cerita yang udah pernah aku baca dan masih aku ingat sampai ke titik komanya.

Nah, sayangnya kisah 'heroik'ku itu hanya bertahan semasa aku sekolah aja. Begitu sampai kuliah, 'penyakit' pikun mulai menjangkiti. Dan sekarang kayaknya gelar 'anak dengan ingatan bagus' sudah luluh lantak, rata dengan tanah. :') Oke, aku tambah tua. Tapi otakku kayaknya uzur jauh lebih cepat dari umurku. Aku ampe pernah dikatain pikun banget sama nenekku yang umurnya udah 70 tahun lebih. :')


Banyak banget kejadian yang pasti bikin kalian geleng-geleng kepala. Kejadian kecil tapi bikin geregetan. Yang terbaru adalah saat aku berencana untuk maskeran abis mandi beberapa waktu lalu. Sebelum mandi, aku udah mikirin masker apa yang mau aku pakai. Selama mandi, aku mikirin gimana enaknya maskeran sambil tiduran sambil baca buku atau nonton youtube. Setelah mandi, pikiranku masih seputar masker. Tapi aku mikirnya sambil pake serum yang biasa aku pake sebelum tidur. Bodoh sekali. :') Begitu sadar aku ngoceh sendiri lalu cuci muka lagi biar bisa pake masker bener.

Belum lagi kejadian-kejadian kecil macam ngetap busway pake KTP, mau bawa makanan tapi ketinggalan, mau beli barang tapi kelupaan, lupa bawa kunci kos, lupa temanku ngomong apa padahal dia baru ngomong kurang dari 5 menit yang lalu, deelel deelel. Yang paling parah adalah kalau udah menyangkut kerjaan. Gak jarang kalau lagi asik kerja lalu diajak ngomong dikiiit doang, aku langsung lupa lagi ngerjain apa. Lalu waktu nelpon ke cabang, begitu nelpon operator misalnya minta disambungkan ke cabang Malang, begitu tutup telepon aku lupa aku mau telepon cabang mana

Kalau kalian pernah nonton film Inside Out, mungkin akan tahu kalau di dalam otak Riley ada sebuah ruangan yang menyimpan sekian banyak bola ingatan sejak dia masih kecil. Ruang tempat penyimbanan ingatan itu ibarat sebuah perpustakaan yang rak nya penuh dengan bola penuh dengan ingatan. Nah, ada beberapa orang yang bertugas untuk membuang ingatan-ingatan yang sudah tak terpakai atau sudah lama gak pernah diingat-ingat lagi. Mungkin ya, dalam otakku, orang-orang seperti itu menjalankan tugasnya dengan semena-mena. Membuang-buang ingatan yang bukan hanya sudah tidak terpakai lagi tapi hampir semua ingatan yang masuk ke dalam ruangan itu langsung dibuang, semacam auto delete. Engga sih harusnya, aku terlalu halu aja anaknya. Wkwkwkwk

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, kebiasaan pikunku ini berawal sejak SMA. Setiap kali habis ulangan, teman-temanku kebiasaan untuk kembali mendiskusikan hasil kerja mereka dengan cara saling mencocokan jawaban. Nah, kadangkala jawabanku berbeda dengan jawaban kebanyakan teman-temanku, lalu aku stres sendiri. Akhirnya aku menyugesti diri untuk tidak mempedulikan diskusi mereka dan melupakan semua jawaban yang aku jawab di kertas ulangan. Mungkin sistemnya seperti menghapus ingatan yang gak mau aku ingat, sementara ingatan yang mau aku ingat akan tetap utuh di dalam kepala. Sayangnya, sepertinya sugesti itu kebablasan. Akhirnya ingatan yang penting dan seharusnya diingat pun malah dibuang begitu aja, sampai-sampai aku harus bergantung pada alarm untuk hal-hal sepele seperti masak nasi dan minum obat. Karena kepikunanku ini pun ide-ide yang muncul seringkali berceceran hilang entah kemana karena gagal memasuki ruang memori jangka panjang. Ide-ide yang selamat biasanya aku tuangkan di notes Hp, tapi gak jarang ide-ide itu hanya menjadi draft semata, karena aku lupa posting. Wkwkwkwk

Mungkin aku akan coba membiasakan diri untuk membaca buku lagi, sekalian merampungkan book challange aku yang belum mulai-mulai ya barangkali. Wkwkwkwk

Comments

  1. wkwkwkw kocak Mei :D
    Tapi emang makin tua jadi makin pikun yeee
    ada aja yang kelupaan ahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts