10 Out Of 10 Movie


One of my friend asked me right after we finished this movie, "from 1 to 10, how was the movie?" And I answered clearly, "it was ten!!"

Banyak orang yang menggembar-gemborkan film ini sejak kemarin-kemarin. Di instastory berseliweran orang-orang mereview, mulai dari selebgram sampai rakyat jelata pun ikutan mereview. Makin lama aku penasaran juga, apalagi ada yang mereview sampai benar-benar detail. Dua review yang bikin aku kepingin banget nonton film ini: "filmnya waw banget padahal mostly cuma liatin layar hp sama layar komputer", sama review yang bilang kalau ini film bikin mewek. Iya, Mei mah gitu, harus antimainstream dulu reviewnya baru ikutan kebelet nonton. X'D

Dari opening music nya aja entah kenapa aku udah ada feeling kalau ini film pasti bagus. Entah sugesti karena udah dicekoki review di mana-mana, atau karena lebay, atau gimana lah teu ngarti. Wkwkwkwk 

Awal cerita, aku dan para penonton lain disuguhi oleh sebuah potret keluarga kecil bahagia. Papa, mama, dan anak perempuan. Mereka selalu mendokumentasikan semua hal. Mamanya masak divideoin, anaknya pertama belajar piano divideoin, lalu selalu ada foto mereka bertiga pada setiap hari pertama anaknya bersekolah. Mungkin manusia jaman now juga begitu, apa-apa divideoin, tapi trend dan feel nya beda. Video dan foto dalam film ini dibuat untuk dijadikan kenangan yang murni yang punya rasa, bukan untuk diupdate di Instagram atau bahkan diviralkan kayak jaman sekarang.

Semua peran dalam film ini benar-benar nyata, maksudku, film ini seolah dibuat untuk membuat diri kita berkaca, "oh, kita begini juga lho di kehidupan nyata."

Hubungan Margot Kim dan ayahnya seolah terlihat baik-baik saja. Padahal masing-masing dari mereka jelas merasakan sesuatu yang hilang sejak mamanya masuk rumah sakit dan gak pernah pulang lagi ke rumah. Masing-masing menyimpan luka hati yang tidak mau diperlihatkan kepada orang lain. Kita di real life juga begitu. "I am fine," seolah menjadi sebuah pembenaran diri walau diri ini sebenarnya tahu bahwa kita gak baik-baik aja.

Ada scene di mana papanya menelusuri semua account social media anaknya setelah anaknya dinyatakan hilang, lalu dia menemukan bahwa gak ada 1 teman pun di Facebook, dll yang benar-benar menjadi teman Margot. Lalu, kasus hilangnya Margot malah disalahgunakan oleh beberapa manusia nakal. Ada anak cowok yang bilang kalau Margot ada sama dia, lalu papanya langsung nyamperin dan naik pitam. Ada juga 'teman' Margot yang mengaku gak kenal dekat dengannya tapi malah mengupload video YouTube tentang kesedihannya karena Margot hilang, "she's my best friend", lalu acting sesegukan, lalu jadi viral. Lah elah, minta ditempeleng amat.

Tapi menurutku, film ini seolah berkata, "this is how social media works!" Satu suara berkata di social media, maka semua suara mengikuti seolah-olah suara itu adalah fakta, padahal kenyataannya bukanlah begitu. Satu suara bilang kalau ayahnya gila, akhirnya ayahnya yang dituduh membunuh anaknya sendiri, padahal kenyataannya ayahnya sampai gila nyariin anaknya itu.

Film ini juga seolah membuat perumpamaan kalau social media mempunyai salah satu efek samping seperti ganja. Membuat orang terbuai dan ketagihan untuk berspekulasi yang engga-engga, tanpa mau tahu kebenaran itu apa; bikin orang latah mau ikut-ikutan viral dan akhirnya ketagihan terus dan terus gak berhenti padahal entah yang diviralkan itu berfaedah atau engga, orang-orang pikir yang penting eksis dulu biar kayak selebgram.

Teman-temanku mengaku seperti ini habis nonton, "aku nontonnya kayak ditektok lho pikiran aku." "Iya, awalnya aku pikir 'fix adeknya yang ngapa-ngapain' eh taunya bukan." Nah, kan. Aku pikir mustinya film ini bisa menyadarkan orang-orang yang sekiranya senang berspekulasi atau senang ngejudge di social media. Mungkin ngeliat foto selebgram jalan-jalan mulu, lalu berspekulasi "dia asik banget jalan-jalan mulu, jadi simpenan kali", padahal aslinya dia bekerja sebagai content writer siang malam yang memang mengharuskan dia pergi ke banyak tempat.

Ayah Margot belakangan menyadari bahwa spekulasinya malah menuntun ke masalah yang lebih besar, maka selanjutnya dia mulai mencari bukti sebelum mengeluarkan emosinya. Nah, kita dikasih liat tuh perbandingan antara orang yang langsung berspekulasi dan naik pitam terhadap suatu hal itu jadinya gimana dan orang yang mencari bukti dulu sebelum berspekulasi lebih jauh itu jadinya gimana. Wahai para netijen yang baik, pilih aja tuh kalian maunya jadi yang mana.

Lalu, mungkin kalau di film-film akan selalu ada peran yang bertentangan, ada karakter baik ada karakter jahatnya. Tapi sekali ini, aku gak bisa benar-benar bilang kalau karakter antagonisnya itu jahat. Mungkin, bagi para orang tua akan timbul sebuah pro kontra atas hal yang dilakukan oleh detektif Vick. Tapi, mungkin kalau kita sendiri yang berada di posisi seperti itu, kita juga akan sulit memilih, mana hal yang bisa disebut sebagai tindakan benar karena katanya, orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya, kan. Seorang ibu yang berusaha untuk melindungi anaknya itu gak bisa dikatakan jahat.

Poin terakhir tentang film ini yang membuatku ternganga-nganga adalah ide ceritanya. How can somebody have a great idea like that?! Gimana bisa hampir 2 jam ngeliatin layar hp dan layar komputer orang doang tapi filmnya seru?! Barangkali ini adalah salah satu film paling low budget. Tapi itu lah yang aku amazed. Dari ide '''ngeliatin layar hp dan komputer doang" bisa jadi cerita yang brilian. Wow, it's beyond amazing sih menurutku!!

So, that's the reasons why I give 10 out of 10 for this amazing movie!!

Comments

  1. Aah jadi pengen nonton juga!!!! Tapi ga sempet-sempet huhu
    Keburu turun dah ni film wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. download aja udah wkwkwk tapi salah satu tontonan wajib sih menurut g pik

      Delete
    2. wkwkwk iya ini mah alamat aku tunggu torrentnya hahaha

      Delete

Post a Comment

Popular Posts