The Value of You

Tempo hari temanku pernah mengirimkan sebuah video singkat tentang self worth. Di video itu diceritakan seorang profesor masuk ke kelas dan menawari mahasiswanya selembar $20. Semua mahasiswa mengangkat tangan saat sang profesor bertanya, "siapa yang mau?" Lalu sang profesor bikin lecek uangnya lalu menanyakan hal yang sama, semua mahasiswanya tetap angkat tangan. Lalu sang profesor menginjak-nginjak uangnya sampai akhirnya $20 itu lecek sedemikian rupa, tapi semua orang tetap menginginkan uang $20 itu.

$20 akan tetap menjadi $20. Nilainya gak akan turun walau dilecekin atau diinjak-injak sedemikian rupa. Semua orang tetap tahu kalau selembar kertas yang lecek itu bernilai $20. Nah, you know what I mean, kan? Kalian tahu kalau tulisanku ini akan mengarah ke mana, kan?

Masih dalam episode Self Love, di post sebelumnya aku menulis tentang belajar untuk mencintai diri kita. Mencintai diri kita yang kata orang gendut, yang kata orang gak cantik, yang kata orang bodoh, yang kata orang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Tapi, bagaimana caranya kalau 'kata orang' itu malah sudah terpatri dalam ingatan, 'kata orang' itu seolah sudah mendarah daging, sampai-sampai bikin kita berpikir "oh iya, gue emang gendut", "oh, iya gue emang gak layak untuk didekati." Ini sudah termasuk ke dalam level Siaga 1 menurutku. Aku juga merasakan hal yang sama soalnya, karena aku juga berpikir "memangnya aku pantas dikagumi?"

Nah, maka ayo kita bareng-bareng, aku dan kamu, bareng-bareng kita belajar bagaimana cara mencintai diri sendiri setiap hari. Salah satu tips dari cici Jenny Jusuf adalah berdiri di depan kaca dan perhatikan semua bagian tubuhmu. Lalu tanyakan pada dirimu "Which parts of your body that you love, instead of focusing on what you hate?"

"Which part of your body that you love?" My answer is my eye. I love my eyes the most. Because it can be my tools to see how the world works, to see how beautiful human being is, to see kindness and happiness, and a tool that makes me realize that there's always something good in everything I see. So, what about you?

Lalu ku pikir, kita juga perlu sekali-sekali bikin list tentang sisi baik dari diri kita, selain fokus pada hal-hal yang 'kata orang' jelek. Atau bahkan sebenarnya, diri kita ini gak sejelek yang 'kata orang' gembar-gemborkan itu. Kita dibilang gendut, tingkat kepercayaan diri kita anjlok dan insecure kita meningkat. Apalagi kalau perkataan gendut itu merembet ke yang lain-lain. "Katanya aku gendut, kalau cewek gendut susah punya cowok." Giliran udah menikah dibilang lagi kalau cewek gendut susah punya anak. Giliran udah punya anak, dikatain lagi badan kayak mak-mak trus anaknya nanti gendut juga. Terus aja terus ampe ada perang bintang di langit ke tujuh, 'kata orang' itu gak akan ada abisnya. Lalu kalau kurus juga akan dikatain hal yang sama. "Nanti kurus ngelahirinnya susah." See, 'kata orang' gak akan ada abisnya. Padahal nih ya, mau badan kita gendut atau kurus tuh pengaruh apa ama orang-orang itu?

Kalau aku nih ya, aku punya mantra dari adek Kirana yang bilang "ndak papa I like myself." "Ndak papa gendut, I like myself." Ndak papa gendut, berarti mulutku dipake makan enak bukan dipake buat nyinyirin orang. Dan mungkin, mantra semacam ini juga bisa jadi membantu kalian untuk membela diri kalian dari perkataan orang-orang yang rasanya 'peduli' banget badan kita kurus atau gendut. Dan mantra ini berlaku juga untuk semuanya, gak cuma saat dikatain gendut atau kurus aja. "Mei, jalannya kayak cowok." "Ndak papa, I like myself." :D

Dan sebenarnya, kadang aku merasa amazed dengan para anak kecil. Tempo hari waktu aku mengejar matahari di Lapangan Banteng ada mamak-mamak yang bawa anaknya naik sepeda di situ. Anaknya masih kecil dan masih naik sepeda roda tiga. Nah, mamanya ini ceritanya mau foto dia kan, disuruh senyum. Setelah difoto, yaudah gitu aja. Si anak kecil itu gak ngerengek mau liat fotonya atau ngerengek minta apus fotonya lalu foto ulang kalau sekiranya fotonya jelek, seperti yang banyak dilakuin ama people jaman now, kan. Abis difoto yaudah, dia main sepeda lagi. Dia gak peduli waktu difoto dia keliatan gendut atau jutek atau apa, terlihat apa adanya aja gak apa-apa. Anak kecil itu selain menggemaskan memang selalu bikin amazed, kan? Btw, sekarang jadi tahu kan kenapa aku jauh lebih suka motret batu daripada motret orang (kecuali candid)? Karena kebanyakan orang itu ribet kalau difoto. Ahahahahaha



Cici Jenny Jusuf juga bilang begini, "tonight before you go sleep, I hope you choose to be a friend to yourself. Because, unconditional love is the biggest gift you could ever gift to yourself." Kamu gak harus menjadi seperti si A, si B, si C, atau si D. Gak perlu cantik seperti kata orang. Cukup menjadi cantik seperti dirimu apa adanya. Because one thing that I know that everybody is beautiful in their own way.
"If you were compared to a painting it would be the kind that no money can buy, no price would be high enough to show what you are worth. We are beyond price tags and limitations. At times life can makes us feel that we are worthless, but we must remember that such thoughts are negative energy trying to bring us down, its falsehood. You are a masterpiece, you are priceless"

Comments

Post a Comment

Popular Posts