The Perks of Traveling

Ada kalanya aku lelah dengan rutinitas. Ada kalanya aku jenuh dengan pekerjaan yang kujalani setiap hari, berkutat di belakang meja dari jam 8.30 sampai jam 5.30. Ada kalanya aku harus bersusah payah mengumpulkan serpihan semangat yang seolah terus menguap untuk bangun pagi dan melangkahkan kaki ke kantor setiap hari.

Tapi, gak apa-apa. Bagiku semuanya itu manusiawi. Gak apa-apa kalau aku gak melulu bersikap positif setiap hari, toh menurutku sikap gak positif seperti itu bukanlah sifat yang buruk-buruk amat kalau mampirnya hanya sesekali. Gak apa-apa. Aku berusaha menikmati segala rasa yang datang. Jenuh, bosan, lelah. Karena saat-saat seperti itulah yang akan membuat setiap perjalanan jauhku terasa lebih berarti.



Setiap aku hendak pergi memulai perjalananku yang baru (orang lebih suka menyebut dengan istilah 'berlibur'), rasanya ada kelegaan yang menjalar. "Ah, senangnya bisa lihat laut lagi", "Ah, senangnya hari Senin gak ngantor", "Ah, senangnya bisa mengisi hariku dengan hal lain selain duduk di belakang meja." Dan kelegaan-kelegaan lain yang setipe. Setelah itu, barulah aku bersiap bertualang dan berusaha untuk membawa pulang sesuatu untuk diriku sendiri.

Kokoh Amrazing pernah bilang di salah satu postnya di Instagram kalau tipe turis itu ada 3: (1) tiba di sebuah tempat pose dengan berbagai gaya di depan landmark, lanjut ke tempat lain; (2) tiba di sebuah tempat, masuk ke dalam landmark, foto-foto, lanjut ke tempat lain; (3) tiba di sebuah tempat, masuk ke dalam landmark, bengong sekian menit, keliling tempat itu, keliling lagi cari angle lucu sambil dengerin audio guide tentang sejarah tempatnya, foto-foto, ngeliatin orang, bengong lagi, keluar dari tempat tersebut dengan wajah super puas.



Mungkin aku termasuk ke dalam kategori turis ketiga karena selama perjalanan, aku selalu berusaha untuk mencari sesuatu. Mencari-cari hal unik yang bisa ditelaah, mencari-cari tempat yang sekiranya bisa memberikan pengalaman baru bagiku bukan hanya tempat yang sedang ngehits di Instagram bukan hanya tempat yang orang bilang bagus untuk di foto. Setiap masuk ke suatu tempat, aku pasti plangak plongok dulu, beberapa menit menyisihkan waktu untuk mengaggumi setiap hal yang ku lihat dan menelaah setiap sisinya, setelah aku puas menganalisa barulah ku abadikan dengan kameraku sebagai buah tangan untuk diriku sendiri. Perjalanan baru yang ku lakukan bukan sekadar untuk merefresh diri atau sekadar mengunjungi tempat-tempat yang lagi in di kalangan people jaman now. 

Saat aku beranjak pulang, benakku akan selalu bertanya-tanya mengenai perjalananku. Apa saja yang ku lakukan selama perjalanan, cerita apa saja yang bisa ku bawa pulang sebagai buah tangan, kejadian apa saja yang bisa membuatku melihat dunia dari lensa lain, pengalaman-pengalaman apa saja yang akan ku buatkan ruang khusus di hati.

Dan perasaan yang berbeda selalu muncul setiap kali pesawat atau keretaku kembali tiba di Ibu Kota. Kadangkala aku merasa seperti sudah dicharge kembali, siap memulai hari esok dengan baterai yang sudah terisi penuh. Kadangkala aku merasakan petualangan yang membuat lelah tapi kelelahan yang menyenangkan. Tapi, perjalananku yang terakhir menimbulkan rasa syukur yang teramat sangat. Beryukur karena aku masih bisa menorehkan cerita baru bersama keluargaku walau perjalanan kami tentu diwarnai dengan drama klasik. Beryukur karena aku bisa membuat mamaku mengalami pengalaman pertamanya mencoba snorkeling diumur 50an, ya emak emak jaman now gak boleh kalah dengan anak muda jaman now, ya. Beryukur karena aku bisa mengeksplor tempat lain di belahan bumi lain, bisa merasakan kesederhanaan seorang manusia tanpa sinyal hp. Dan aku juga bersyukur karena aku bisa melek saat pesawat lepas landas dan landing. Wohoo~ what a great achievement!! Ya mengingat aku punya rasa takut yang agak berlebihan saat aku berada di tempat tinggi, ya.

Setiap kali perjalananku berakhir, aku malah ingin berjalan semakin jauh lagi. Membuatku ingin terus merasakan pengalaman yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Karena rasanya perjalanan ke tempat baru itu seperti candu yang membuai. Perjalanan membuatku ingin menelaah setiap 'khas' yang dipunyai setiap daerah. Perjalanan membuatku merasakan keinginan untuk 'let it flow'; kalau pergi ke tempat outdoor lalu hujan, yasudah; kalau lagi jalan-jalan lalu kena macet, yasudah; kalau pesawat delay, yasudah; kalau nyasar, yasudah stay cool aja.

Keinginan untuk melakukan solo traveling seringkali muncul belakangan ini. Ingin rasanya melakukan perjalanan sendiri ke tempat-tempat yang ingin ku datangi, gak terpaku pada itinerary atau tempat yang lagi ngehits di Instagram. Ingin rasanya mengeksplorasi dunia dan menemukan gayaku sendiri dalam berpetualang. Jalan-jalan sendiri tanpa mengandalkan teman yang cariin tiket murah atau mengandalkan mamaku yang beresin koper.

Tapi, setiap melihat mamaku ikut melakukan perjalanan, keinginanku untuk solo traveling menguap entah kemana. Dulu aku pernah berjanji begini, "selama mami masih bisa jalan, aku akan ajak jalan-jalan terus ke tempat baru" dan semakin ke sini, janji itu semakin ingin ku penuhi. Karena nyatanya, aku ini manusia yang gak bisa menerawang tentang apa yang akan terjadi nanti, kan.


Comments

  1. mantap mei!!!
    jadi di sana pake tur juga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pik tur juga tapi tur lokal sana haha

      Delete
    2. iya aku juga tur lokal sana haha
      tour guidenya juga emang orang sana hehehe
      seru ya jalan-jalan di sana ^^

      Delete
    3. Iya, masih asli gitu suasananya, jauh dari kata rame pula gak kayak Bali. Kan jadi enak keliling2nya wkwkwk

      Delete
    4. iyaa kaga kena macet sama sekaliii
      tapi waktu ku kesana sih ramai di pantai dan tempat wisatanya
      musim liburan sih

      Delete

Post a Comment

Popular Posts