Fenomena Body Shaming

"Eh loe kok gendutan?"
"Wah makin kurus aja badan loe"
"Kok loe iteman sih?"
Pernah gak dengar komentar-komentar yang nyerepet fisik kayak gitu? Pernah, kan. Aku sering banget dengar komentar-komentar serupa sampai aku pikir komentar semacam itu adalah template bagi orang yang sudah lama gak ketemu untuk berbasa basi baso goreng.

Kebanyakan orang sih pastinya keki kalau diterpa komentar semacam itu, apalagi para kaum cewek yang sensitif (macam testpack #eeh) kalau ngomongin masalah body. Siapa sih yang mau dibilang gendutan, apalagi kalau ternyata memang lagi ngejalanin proses diet, atau badannya emang susah kurus. Orang-orang kurus pun ternyata keki kalau dibilang badannya kurus banget padahal sudah sampai makan 5x sehari ditambah ngemil tengah malam. Atau dibilang iteman apalagi kalau dibilangnya item dekil macem bocah kampung, sampai ada temanku yang mau ke mall samping kantor pun dia payungan karena katanya takut item, duh elah.

Beberapa waktu lalu, obrolan ini sempat ngehits di instastory nya si Kokoh Amrazing. Kalau kata temanku, dia 'membuka pintu kemarahan para netijen' karena begitu topik ini dikumandangkan banyak banget yang DM si Kokoh ceritain tentang pengalaman mereka tentang body shaming ini. X'D Jadi, awalnya si Kokoh Amrazing ini keki karena orang-orang banyak yang kepo urusan fisik dan asal jeblak aja ngomongin fisik orang padahal udah lama gak ketemu atau bahkan gak kenal-kenal amat sama orang yang diakomentari fisiknya, padahal bisa jadi orang yang dikomentari itu habis diet mati-matian tapi gak ngaruh, mungkin ada juga yang kurus kering kayak orang kurang gizi padahal aslinya sudah makan banyak. Dan giliran orang yang dikomentari itu marah malah dibilang "yaelah gitu aja baper". Hmm

Tempo hari ada temanku yang galau saat mau bertemu dengan kawan lamanya. Galau karena dia yakin bahwa kawan lamanya akan berkomentar "Loe kok gendutan?" sementara kawan-kawannya yang lain malah terlihat lebih singset di Instagram semenjak mereka terakhir ketemu. Tapi, memang galauin omongan orang yang belum terjadi itu bisa bikin berat badanmu turun?

Aku termasuk orang yang cuek bebek merepet kalau dikomenin soal fisik, udah biasa gitu rasanya ya dikatain gendut. Tapi, tengsin juga kalau disangka lagi hamil waktu aku naik busway.
"Mbak, sini mbak duduk. Lagi hamil, kan? Duduk aja sini" teriak salah satu ibu-ibu di tengah-tengah kerumunan orang yang hendak pulang ke rumah sore itu.
Itu perasaan campur aduk, lho. Antara mau kesel tapi mau memaklumi juga, karena ibunya kan gak tau kalo perut buncitku isinya bukan baby tapi nasi padang. >.< Yah, saat itu aku cuma menolak sambil tersenyum kikuk saja lalu pakai headset sambil melihat keluar jendela. Aku berusaha berpikir begini, "baguslah aku masih ketemu sama orang-orang yang care," walau care nya salah arti sih, ya. #meirapopo :'")

Dulu waktu aku masih jadi bocah lucuk nan menggemaskan (hoek), aku sering manyun kalau diejek-ejek sama teman sekolahku. Tapi, mamaku selalu bilang "memangnya diejek itu lecet? kan engga, jadi gak usah kesel, biarin aja nanti juga mereka capek sendiri." Petuah mamaku itu selalu ku ingat sampai sekarang badanku segede ini. Salah satu pelopor aku untuk gak ngurusin komentar-komentar yang bikin buang-buang waktu kalau dipikirkan.

Tapi, gak semua orang itu cuek bebek merepetnya kayak aku, kan? Gak sedikit orang yang sakit hati dibilang gendutan atau makin kurus, siapa pun orang yang komentar, entah itu teman sendiri atau orang yang sekadar kenalan atau bahkan keluarga. Terutama para kaum cewek kan sensitif ya kalau diomongin ukuran badan.

Banyak orang yang kesel keki dikomentari tentang fisik, bahkan gak sedikit yang sampai down frustasi karena dikatain gendut. Gak sedikit yang sampai kena anorexia karena menginginkan badan yang menurut orang-orang itu 'normal'. Gak sedikit yang menutup diri dari dunia luar karena merasa malu dengan tubuhnya, seolah-olah tubuhnya itu dipenuhi oleh penyakit kusta.

Ada cerita orang gendut yang dianggap remeh oleh guru tarinya dan dianggap gak cocok ikut kelas tari, padahal banyak orang gendut yang bisa menari dengan lincah. Bahkan ada seorang teman yang memang memiliki size yang agak besar, sementara mama papa dan adik-adiknya itu kurus. Habislah dia dikata-katain oleh para saudara dan tetangga. Dikatain beda banget lah sama keluarganya, dipandang sebelah mata. Padahal, hei what's wrong with those people? Memang kalau badan dia kurus atau gendut itu mempengaruhi hidup mereka? Kalau badan dia gendut bisa bikin income mereka turun gitu?

Tapi memang di satu sisi, kita kan gak bisa melarang orang lain berkomentar juga. Toh mulut-mulut mereka sebenarnya. Jadi, tinggal bagaimana cara kita bereaksi saja terhadap komentar ngekiin macam itu. Cuek bebek aja, toh orang-orang itu kan gak ngasih kita duit buat jajan tiket pesawat. Kalau cuek bebek masih juga terasa sulit bagi sebagian orang yang memangnya masih panas kupingnya kalau dikata-katain, cara lainnya adalah dengan menerima dirimu sendiri apa adanya. Terdengar klise banget memang. Tapi, pengaplikasiannya dalam hidup gak semudah diucapkan.

Kebanyakan orang gendut diet mati-matian biar kurus karena mereka gak suka dikatain gendut. Lalu orang kurus berusaha mati-matian menambah angka timbangan karena mereka dikatain ceking cungkring. Duh, kenapa sih ya orang-orang rela mati-matian merubah diri karena perkataan orang, karena takut diejek? Motivasinya gak asik amat, ya.

Tempo hari yang lain, ada temanku yang iseng menghitung BMI (Body Mass Index) di kantor, lalu begitu muncul hasilnya dia teriak-teriak agak histeris, "aku overweight!!" lalu aku berkomentar dengan nada santai, "aku juga overweight. Aku selalu overweight" yang disambut dengan gelak tawa. It's okay kok overweight, habis nasi padang sama bakso Samrat kan enak, ya.

Kalau aku malah termotivasi saat melihat orang yang gendut banget. Maksudku bukan menghina atau apa, tapi kalau aku melihat orang yang gndut banget itu aku seolah tersadarkan kalau ada banyak penyakit yang akan mendatangiku sambil nyengir kegirangan. Jadi, daripada nanti uangnya kuhamburkan buat masuk kantong rumah sakit kan lebih baik makan makanan sehat dan olahraga yang murah meriah, kan. Habis itu bisa jalan-jalan, deh~



Marilyn Monroe Quotes (2)

Dan seperti yang diwanti-wanti oleh Sang Primadona abad ke-20, "Always, always, always believe in yourself. Because if you don't, then who will?" You're stronger than you expect, jadi jangan terus menerus membuang 86.400 detik yang kita punya setiap hari dengan memberengut dan berkubang dengan perkataan orang yang gak ngasih duit ke kita.Karena menurutku masih ada berjuta-juta hal yang jauh lebih penting daripada mikirina komentar "loe gendutan, ya?", ngasih makan burung misalnya. #eeh

Comments

  1. hahaha gw juga sekarang lagi sering dibilang "gendutan". Tapi dengan itu gw jadi termotivasi buat rajin olahraga lagi. Habisnya..yang masuk lebih banyak daripada yang keluar akhir-akhir ini. Ga seimbang dan nantinya malah bikin ga baik untuk tubuh. Mungkin ada kalanya jangan terlalu cuek juga si Mei. Dari kritikan orang itu, kadang2 kita jadi bisa sadar buat memperbaiki diri lebih baik lagi. Heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Pik. Kalo dibilang gendutan bisa jadi termotivasi buat jadi rajin olahraga kan motifnya baik gitu, lbh positif. Bukan destruction ampe stres karena gendut gitu. Haha
      Thank you masukannya, btw

      Delete
    2. iya kadang emg ada yg dibilang gendutan trus marah trus bete dan stress sampai jadi diet ketat trus jadi maag. ==" imbasnya malah jadi sakit2an kan ckck

      iya sama-sama Mei!

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts