Jangan Lupa Untuk Melihat Ke Bawah

"Ini isinya apa?" tanyaku sambil menunjuk gorengan di atas meja.
"Ini ayam, ini kue nangka," jawab mamaku menjelaskan.
Ku makan gorengan-gorengan itu dan yah, gorengan itu tidak bisa ku bilang gorengan yang enak juga. Terlalu berminyak. Dan memang pada dasarnya aku tidak terlalu suka gorengan (setelah mengecualikan pisang goreng).

Aku tahu siapa penjual gorengan-gorengan itu. Namanya Misja, aku baru tahu bahwa umurnya sudah sekitar 75 tahun, tetapi masih saja setiap hari Misja berkeliling dari rumah ke rumah menjajakan gorengan jualannya. Aku tahu kalau Misja sudah lama sekali berjualan seperti itu. Dulu waktu SD, Misja sering mampir berjualan ke sekolahku dan seringnya aku membeli nasi kuning dan bakwan, waktu itu harganya masih 500 perak. Tempo hari mamaku membeli nasi kuning dari Misja dan harganya dua ribu. Aku ingat kalau aku langsung berteriak heboh mendengar angka dua ribu diucapkan.
"Ya ampun, murah amat!! Dapat untung dari mana jual nasi kuning dua ribu??"
Seriusan, padahal sudah sekian tahun berlalu tapi naik hanya cenggo, Shihlin aja sudah naik lebih dari ceban sejak aku pertama kali beli.
"Memang gorengan ini Misja yang bikin?" tanyaku lagi.
"Bukan, dia boleh ngambil dari orang, dapet komisi. Paling 200 atau 250 perak dia dapet per gorengan." penjelasan mamaku lagi-lagi membuatku memberikan respon heboh.
"Udah tua dia, anaknya udah pada gede tapi cucunya sakit-sakitan. Istrinya juga suka sakit. Kadang suka minjem duit 'neng boleh gak minjem 50ribu aja? Nanti besok abis dagang diganti'", kata mamaku lagi.
"Ya ampun, buat dia 50ribu aja berat banget, ya," kataku.
Sedetik kemudian, aku tersadar oleh perkataanku sendiri. Aku langsung merasa malu pada diriku sendiri yang beberapa hari terakhir ini terus-terusan mengeluh tentang uang transport untuk lemburan. Aku mengeluhkan pekerjaanku pada teman-temanku sambil minum chatime dan mie seharga 73ribu. Ya ampun.. Maksudku, aku membeli makanan-makanan mahal, lalu mengeluh bahwa cari uang susah, sementara ada orang-orang lain yang mencari sesuap nasi pun sulit. Tak pantaslah rasanya diriku mengeluh.
Jadi ini maksud dari kalimat "Lihat ke bawah, maka kau akan tahu betapa beruntungnya dirimu."

Comments

Post a Comment

Popular Posts