Teman, Pensil Warna, Kursi

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai memerhatikanmu di sekolah. Aku tidak tahu kapan tepatnya mataku mulai sering mencuri-curi pandang ke arahmu disela-sela jam pelajaran. Aku tidak tahu kapan tepatnya senyumku mulai merekah dengan sendirinya setiap kali aku melihat sosokmu berjalan di dekatku.

Selama ini aku berpikir bahwa aku bukanlah orang yang punya waktu untuk memikirkan hal menye-menye seperti cinta. Saat itu, orang dewasa kerapkali menyebutnya sebagai cinta monyet.
"Ah, kamu masih kecil. Masih cinta monyet." Begitulah yang seringkali ku dengar.
Yah, sebenarnya aku juga tak tahu pasti orang-orang menyebut perasaan ini sebagai apa. Perasaan senang berlebihan setiap kali aku melihat batang hidungmu. Perasaan seolah ada gendang di dalam dada setiap kali aku berpapasan denganmu, antara ingin menyapa tapi suaraku tertahan. Perasaan seperti ada segerombolan kupu-kupu yang menari-nari di dalam perut saat aku mendengar dirimu mengucap namaku.

Well, sebelum bertemu denganmu aku tidak tahu maksud sesungguhnya dari kalimat "kupu-kupu di dalam perut" atau bahkan menari-nari dalam perut! Aku berpikir bahwa itu adalah hal teraneh yang pernah ku dengar. Tapi, anehnya lagi, aku bersedia jadi orang aneh asal aku bisa melihat tatapan hangat dan senyum manismu sepanjang hari.

Sampai akhirnya, aku nekat untuk meminta nomormu pada seorang teman yang ku yakini memiliki nomormu. Dan benar saja!
Segera, aku memikirkan 1001 alasan untuk mengirimimu pesan singkat begitu nomormu tersimpan dalam kontak handphoneku.

Namun, setelah lama memeras otak, kalimat-kalimat yang terlintas hanyalah kalimat-kalimat menggelikan seperti, "Hai, apa kabar?" "Hai, lagi ngapain?"

Rasanya, ingin sekali aku menenggelamkan diri ke dasar laut paling dalam jika ku ingat-ingat lagi kata-kata dalam pesan-pesan yang ku kirim. Pantas kamu tak pernah membalas..

Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba!
Saat sudah hilang akalku untuk bisa dekat denganmu, guru bahasa daerah masuk ke dalam kelas dan mengatur susunan tempat duduk dengan semena-mena. Cewek duduk dengan cowok untuk meminimalisir kebisingan yang terjadi dalam kelas.

Saat itu aku duduk dengan teman cewek dan dia sudah uring-uringan kalau-kalau tempat duduknya dipindah dan dia harus duduk dengan cowok yang dia gak suka. Melihat dia panik, aku pun jadi ikut harap-harap cemas.

Namun, entah ada angin apa yang membuat si guru bahasa daerah menunjukku dan menyuruhku untuk duduk di sebelahmu! Aku ingat bahwa saat itu aku mati-matian memasang wajah datar walau rasanya ingin sekali aku nyengir lebar-lebar saking senangnya.

Kelas bahasa daerah yang hanya berlangsung satu kali dalam seminggu langsung menjadi jam pelajaran favoritku. Yah, walau tetap saja aku berada dalam posisi 3 besar murid dengan nilai terjelek di kelas.

Tapi, mungkin sejak saat itulah aku mulai bisa berbicara denganmu tanpa terlalu menujukkan rasa senangku yang berlebihan, walau kenyataannya aku ingin sekali melompat-lompat saking girangnya saat kamu memberikan sekotak pensil warna dan memintaku untuk memilihkan warna yang cocok untuk gambarmu.

Kamu tentu tidak tahu betapa senangnya hatiku saat kamu memintaku untuk menjadi partnermu dalam dialog bahasa Inggris! Kamu juga pasti tidak tahu bahwa kalimat-kalimat yang sudah ku hafalkan menguap begitu saja karena mataku hanya tertuju pada wajahmu yang mulai terlihat panik karena mengira kalau aku tak hafal dialognya.

Ada sekian ribu lelucon yang ku dengar, tapi lelucon yang selalu ku ingat adalah leluconmu.
"Naik apa yang gak bisa turun?"
Saat itu aku tidak mau repot-repot membagi konsentrasiku untuk memikirkan jawaban sementara mataku terpaku pada wajahmu yang menorehkan senyum jahil. Tapi, aku pura-pura berpikir sejenak walau tidak lama kemudian aku malah balik bertanya, "apa?"
"Naik haji."
Kamu menjawab dengan cengiran lebar. Mau tidak mau, aku ikut nyengir juga walau sebenarnya leluconmu itu tak kalah garing dari kerupuk.

Aku mulai lebih bersemangat berangkat sekolah, walau di sekolah aku hanya mengobrol singkat dan bercanda ringan denganmu. Aku mulai lebih giat belajar karena kamu pasti tidak suka pada cewek bodoh, walau aku tahu pasti bahwa kamu menyukai cewek dari kelas lain. Aku mulai suka nongkrong sampai sore di sekolah bersama teman-temanku, walau yang ku perhatikan adalah dirimu yang asik bermain sepeda atau bermain bola.

Aku tahu bahwa rumor tentang diriku yang menyukaimu sudah tersebar di seantero sekolah dan rumor itu pun sudah sampai ke telingamu. Sampai akhirnya kamu bertanya, 'lu kok suka ngeliatin gue?"
Saat itu mataku langsung berusaha untuk melihat ke arah lain, sementara otakku kalang kabut mencari alasan yang cukup masuk akal untuk mengelak. "Engga, kok. Ngeliatin jam." Sebuah jawaban yang bikin aku reflek memukul jidatku saat itu juga.

Tapi, sepertinya itu adalah saat terakhir kali aku berbicara denganmu. Tak lama setelah itu, kursimu kosong. Sehari, seminggu, sebulan, setahun.

Kecelakaan itu membuat kursimu kosong untuk selamanya dan membuat sekolah tak lagi terasa sama.

Setiap tahun, kenangan tentang dirimu selalu muncul dengan semena-mena.
Aku selalu menerka-nerka, kursi mana yang akan kamu duduki saat ujian semester. Aku selalu menerka-nerka, nomor urut berapa yang akan kamu dapatkan saat Ujian Nasional. Aku selalu menerka-nerka, jurusan apa yang akan kamu ambil saat SMA. Aku selalu menerka-nerka, apa yang akan kamu lakukan begitu lulus sekolah.

Dulu, aku tidak tahu perasaan apa yang membuatku senang setiap kali aku memikirkanmu.
Sekarang, aku tidak tahu perasaan apa yang membuatku sedih dan senang secara bersamaan setiap kali aku mengenangmu.

Sampai tak terasa sepuluh tahun sudah waktu bergulir.

Happy birthday!! Sebenarnya, hanya itu yang ingin ku sampaikan hari ini.
.
.
.
.
Sebenarnya, aku memang mau nulis post hari ini walau sama sekali tak ada niat nulis cerpen. Tapi, biasanya inspirasi memang muncul secara spontan.. :p

Comments

  1. Replies
    1. Hmm.. Bisa dibilang begitu. Ceritanya kisah nyata dari cewek culun yang pertama kali suka sama cowok.

      Delete
    2. aaa mei
      aku baru tau ini!!
      aku tauuuu siapa cowo ituuu!!! >.<
      sweet bangeeettt

      Delete

Post a Comment

Popular Posts