A Man Called Ove - Sepaket Penuh Cinta dan Ketidakegoisan

Buku ini cukup lama bertengger di dalam bucketlist ku, tapi baru bisa ku lahap habis beberapa hari (atau beberapa minggu) terakhir, itu pun berkat pinjaman buku dari iJak. Ku akui bahwa cukup lama aku menyelesaikan buku ini. Bukan berarti buku ini jelek atau membosankan (yah, walau memang terjemahan bahasa Indonesianya menurutku agak rancu dan sedikit membingungkan), tapi karena aku sedang berada dalam zona di mana mood ku naik turun untuk membaca. Tapi, aku cukup menyesal karena tidak membaca habis buku ini cepat-cepat, karena aku jadi lupa dengan beberapa tokoh sisipan (yang makin mendekati akhir buku semakin banyak bermunculan).

Orang akan menilai Ove sebagai lelaki tua pemarah yang suka menggerutu dan mengumpat saat mereka pertama kali bertemu dengan Ove, dan pada dasarnya Ove adalah lelaki tua pemarah yang suka menggerutu dan mengumpat, walau dia akan marah jika disebut sebagai lelaki tua. Setiap hari Ove menjalani rutinitas yang sama, makan sarapan yang sama, melakukan pekerjaan yang sama. Wajahnya pun selalu tampak sama, datar dengan lekukan bibir yang cenderung turun.
 
Hasil gambar 
 
Gaya penulisan dua alur buku ini sebenarnya membuatku terbuai dan merasakan emosi yang berbeda setiap memasuki bab baru. Terutama, aku menyukai bab-bab yang mengulas masa lalu Ove. Masa kecilnya yang hidup dengan ayahnya, betapa ayahnya menjunjung prinsip untuk tidak sekali-sekali menjadi seorang pengadu (lalu prinsip itu diwariskan kepada Ove yang pada akhirnya ia junjung selama ia hidup). Masa ketika Ove pertama kali menaiki kereta yang tak jelas tujuannya dan menunggu beberapa jam demi wanita yang dicintainya. Masa ketika ia berusaha memikat hati calon mertuanya dengan gaya pria muda yang kaku. Masa ketika ia menghabiskan hari-harinya bersama dengan wanita yang ia cintai.

Ove seolah diciptakan untuk menggerutu dan mengumpat (terutama saat harus membayar parkir dan saat kendaraan bermotor memasuki pemukiman), namun hatinya diciptakan berbanding terbalik dengan umpatan-umpatan yang selalu ia lontarkan. Orang-orang akan menilai Ove sebagai lelaki tua pemarah yang suka menggerutu dan mengumpat, tetapi orang yang mengenal Ove akan memberikan banyak sekali cerita betapa Ove adalah lelaki yang berhati lembut dan layak untuk dicintai.
"Orang dinilai dari apa yang mereka lakukan. Bukan dari apa yang mereka katakan," kata Ove
Namun, Ove adalah lelaki yang sudah terlalu sering menghadapi kehilangan, sampai akhirnya ia menghadapi kehilangan orang terakhir baginya. Saat istrinya, Sonja, meninggal, Ove berhenti hidup. Ove mulai melewati hari-harinya dengan bermain-main dengan kehidupan dan memasuki ruang tunggu di mana kematian akan datang menjemputnya. Namun, kematian seperti enggan menghampiri Ove. Kematian seolah berkata bahwa masih banyak hal yang perlu Ove kerjakan.

Permulaan pertama ditandai dengan hadirnya tetangga baru; seorang perempuan hamil, seorang pria kerempeng kikuk yang tidak bisa memundurkan karavan, seorang gadis kecil 7 tahun, dan seorang gadis kecil 3 tahun yang senang menggambar Ove dengan banyak sekali warna.

Sejak saat itu, apa pun usaha Ove untuk menggapai kematian selalu gagal. Ove pernah mengurungkan niatnya untuk mati dengan cara tertabrak kereta karena matanya bertemu dengan mata sang masinis yang ternyata masih muda! Ove tidak ingin kematiannya menimbulkan kengerian dan bencana yang bisa merusak hidup orang lain.
"Kematian adalah sesuatu yang ganjil. Orang menjalani seluruh kehidupan mereka seakan kematian itu tidak ada, tapi kematian seringkali menjadi salah satu motivasi terbesar untuk hidup."
"Kita merasa gentar terhadap kematian, tapi sebagian besar dari kita merasa paling takut jika kematian itu membawa pergi orang lain. Sebab, yang selalu menjadi ketakutan terbesar adalah jika kematian itu melewatkan kita dan meninggalkan kita di sana sendirian."
Semakin memasuki bab akhir buku ini, timbul semacam kelegaan bertahap yang ku rasakan. Karena akhirnya Ove kembali menata hatinya yang dia pikir sudah hancur dan hilang hingga pada kepingan terakhir, karena akhirnya Ove kembali menerima kehidupan yang datang memberi seulas senyum, karena akhirnya Ove menunda pertemuannya dengan istrinya di alam baka, tentunya Sonja pun tidak menginginkan Ove pergi dalam keadaan penuh dengan keputus asaan karena ia tidak lagi bisa memahami kehidupan.

Satu kata untuk buku ini dan tokoh utamanya dan penulis buku ini (tentu saja): A.W.E.S.O.M.E

Comments

Popular Posts