Everything Everything - Nicola Yoon

Siklus aku baca buku ini:
baca - senyum-senyum sendiri - cekikikan - mengernyit - lalu bengong dengan sekian banyak pikiran dalam kepala - lalu baca lagi - senyum-senyum sendiri lagi - cekikikan lagi - mengernyit lagi - lalu bengong lagi dengan sekian banyak pikiran dalam kepala
Begitu aja terus sampai aku membaca kata 'TAMAT'

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_c9228NhgvopS5Ai59Euh85DBHc2T52594qWJhwXjxrHa63Ydl81HmzxRzcEZsJ0sLPzzSwlTWRVJIqPNzhHz8BDRAJ8Qaz1WAQYWNXElsBjrAM02OaZteJEuHVWOPWKZyiGj8j3nYmRx/s1600/P_20170206_073917_HDR.jpg

Buku ini berkisah tentang Madeline F. Whittier -F. nya adalah Furukawa, dia blasteran dari banyak negara, Afrika-Amerika dan Jepang- yang mengidap penyakit langka. Penyakit SCID namanya. Penyakit ini tidak mengijinkan penderitanya untuk berhubungan dengan Dunia Luar, karena partikel debu atau kuman atau kotoran sekecil apa pun bisa membuat penderitanya sakit parah, bahkan meninggal. Maka dari itu, Madeline tinggal 7x24 jam di rumah yang amat sangat steril, sebut saja filter udara yang menyaring udara luar sedemikian rupa, ruang kedap udara yang berfungsi mensterilkan orang yang baru saja tiba dari Dunia Luar, bahkan Madeline hanya membaca buku-buku hardcover yang sterilkan (katanya dia gak level sama buku-buku softcover yang penuh kuman).

Tinggal 7x24 jam di rumah; hanya ditemani ibunya dan Carla, perawatnya; belajar di rumah via SKYPE; membaca buku; membuat tugas arsitektur. Dan Madeline bilang bahwa ia bahagia. Beberapa lembar pertama aja udah bisa membuatku terkagum-kagum pada sosok Madeline yang sepertinya mengerti betul tentang kondisinya, jadi sebisa mungkin, ia meredam semua hal yang ia pikir mustahil untuk dilakukan.

Ya, Madeline tidak pernah menginginkan apa pun sampai dia memiliki tetangga baru. Olly dan keluarganya pindah tepat ke sebelah rumah Madeline.
"Mungkin kita tidak bisa memprediksi masa depan, tapi kita bisa memprediksi beberapa hal. Contohnya, aku yakin kalau aku akan jatuh cinta pada Olly. Dan sudah pasti hal itu akan menjadi bencana."
Seperti yang dikatakan Madeline, ia jatuh cinta pada Olly dan begitu juga sebaliknya. (Olly memanggilnya Maddy). Tingkah mereka lucu, kocak, agak menggelikan, dan juga menggemaskan. Sedikit mengingatkanku pada masa-masa saat aku pertama kali jatuh cinta. #gakadaindikasicurhat

Tingkah mereka berdua ini yang membuatku terus tersenyum-senyum sendiri saat baca. Bukan perkara mudah bagi mereka untuk bisa bertatap muka satu sama lain. Olly harus melewati serangkaian tes kesehatan dan harus menahan rasa dingin saat melewati ruang sterilisasi. Tapi, cowok itu melewatinya dan kemudian ingin bertemu dengan Madeline lagi dan lagi. Sampai-sampai Maddy terkena gejala Histeria Perut Rhopalocera (bahasa ilmiah dari idiom 'Butterflies in my stomach'). Oh, aku juga suka sama Olly..

Saat itulah, untuk pertama kalinya Madeline menginginkan sesuatu. Ia menginginkan Olly, ia ingin melihat Dunia Luar yang dilihat Olly.
"Menginginkan satu hal hanya akan membawa ke lebih banyak lagi keinginan. Keinginan itu tidak pernah ada ujungnya."
Awalnya ceritanya sederhana, tapi menarik, tapi sederhana, tapi menarik. Kalimat-kalimatnya sederhana, mudah dipahami, namun mengena. Membuatku ingin terus-terusan membalik lembar demi lembar buku ini. Buku ini bisa saja ku habiskan dalam sekali duduk, kalau saja mamaku gak ngomel-ngomel gara-gara aku terlalu sering baca. Bzz..

Sudut pandang 'aku' membuatku bisa ikut merasakan hari-hari yang dilalui Maddy, hari-hari saat ia mulai jatuh cinta, hari-hari saat ia ketakutan, hari-hari saat ia marah, dan hari-hari saat ia kembali mengulas senyum bahagia.

Plot twist? Oh, tentu.. Dan plot twist nya amat sangat kurang ajar (menurutku). Bikin aku teriak-teriak "OMAIGAT!! OMAIIGAAT!!" terus tengah malam (sekarang juga masih teriak-teriak begitu kalau ingat-ingat ceritanya lagi).

Halaman pertama buku ini sukses membuat aku iri dan halaman terakhirnya membuatku sangat bersyukur.

Aku iri karena Maddy punya banyak sekali koleksi buku berhardcover!! Dan tentu saja, dia punya banyak sekali waktu luang untuk membaca buku.
"Aku sudah membaca buku lebih banyak darimu. Tidak peduli berapa banyak buku yang kau baca, buku yang kubaca pasti lebih banyak."
Tapi, pada akhirnya aku bersyukur karena aku masih bisa melihat pohon-pohon beneran dan merasakan terpaan angin beneran, bukan cuma melihat dan menyentuh pohon-pohon imitasi dan merasakan angin sepoi-sepoi buatan dalam Ruangan Matahari. Walau, tempat yang paling ku sukai dalam rumah Maddy adalah Ruangan Matahari. Ada hal lain yang membuatku bersyukur, tapi kalau ku sebutkan jadinya malah spoiler. :p

Cover depannya cakep dan bagian dalamnya ada cukup banyak halaman yang memuat ilustrasi-ilustrasi yang juga cakep.

Aku kasih 2 x 5 bintang untuk buku ini. Karena buku ini sukses membuatku mengikuti arus cerita Maddy, sampai hanyut, sampai akhirnya tenggelam dalam emosi Maddy dan keinginan-keinginan Maddy yang perlahan-lahan muncul. 5 bintang aja gak cukup..

Ada banyak sekali quotes yang ku suka dan beberapa diantaranya akan ku bahas di post yang berbeda.
"Semua beresiko. Tidak melakukan apa-apa juga beresiko. Semua terserah padamu."

Comments

Popular Posts