Totto-chan - Nasihat Kepala Sekolah

Akhir-akhir ini aku sedang membangkitkan kembali semangatku dalam membaca kalimat demi kalimat dari sebuah buku. Aku bilang kalau salah satu hobiku adalah membaca buku. Tapi, sepertinya lebih tepat jika dikatakan bahwa hobiku adalah membeli buku. Aku punya bertumpuk-tumpuk buku yang masih baru, masih tersegel rapat, namun seringkali aku kembali menenteng-nenteng buku ke kasir saat sedang jalan-jalan ke Gramedia. Kalau di Jepang, orang-orang semacam diriku ini disebut sebagai Tsundoku, orang yang senang beli buku tapi gak dibaca. :')

Jadi, ku tetapkan hati sambil memaki diri sendiri, karena entah sudah berapa banyak uang yang keluar dari dompet dengan semena-mena. Aku seringkali berpikir bahwa aku ingin uangku ku tukar dengan sesuatu yang kelihatan wujudnya. Tapi, kalau gak dibaca sama aja bohong besar.

Jadi, tanpa perlu bertele-tele lebih panjang lagi, buku yang sedang ku baca saat ini adalah Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Dulu, waktu baru ku beli buku ini, orang-orang kantorku berkomentar.
"Kok, kamu beli buku ini?? Kamu kan bukan anak kecil."
"Kamu memangnya umur berapa beli buku begini??"
 Hasil gambar untuk totto chan
 ronakhatulistiwa.wordpress.com

Ku pikir lucu juga, mereka mengira bahwa buku ini buku anak-anak. Memang menceritakan tentang kehidupan seorang anak kecil, tapi buku ini juga secara tidak langsung memberikan nasihat-nasihat tentang kehidupan. Sebenarnya, buku ini masih dalam tahap penyelesaian, belum benar-benar selesai ku baca. Well, setengahnya saja belum. :p

Tapi, beberapa saat lalu (kemarin malam tepatnya) ku temukan kalimat-kalimat yang begitu menggugah. Jadi, sebelum aku lupa untuk merangkai kata dan hati ini menetapkan rencana yang seringkali berujung menjadi wacana, lebih baik ku tulis saja sekarang disela-sela jam istirahatku.

Kalimat yang ku katakan menggugah hatiku berada pada halaman 106 pada bab mengenai Euritmik, berikut kutipannya: 
"Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati, tapi tak pernah tergerak dan karena itu tak pernah terbakar."

Penyakit orang-orang jaman sekarang adalah tidak mempergunakan indra mereka dengan baik dan benar. Mata hanya untuk sekedar melihat, tapi tidak benar-benar mengamati. Telinga hanya untuk mendengar, tapi tidak dipakai untuk mendengarkan. Pikiran digunakan untuk menganalisis hal-hal negatif, tidak digunakan untuk memahami fakta dan kebenaran. Hati dibiarkan dingin, tertutup rapat hingga simpati dan empati tidak bisa menerobos masuk.

Penyakit tersebut bisa juga dibilang sebagai ketidakpedulian. Orang-orang jaman sekarang lebih memilih untuk memelihara individualisme, terutama orang-orang yang tinggal di perkotaan, yang menganggap diri mereka sudah memiliki segala kemudahan. Sikap solidaritas dan toleransi menjadi tumpul karena hati tak kunjung diasah.

Lihat saja yang terjadi akhir-akhir ini di Ibu Kota. Belum lama ini terjadi demo besar-besaran. Bukti bahwa mata hanya digunakan untuk melihat yang terlihat, telinga digunakan hanya untuk mendengar suara provokasi, pikiran hanya digunakan untuk mengikuti arah yang salah, tanpa mau meneliti kembali apa yang terasa salah.

Kata-kata dari kepala sekolah, Sosaku Kobayashi dalam buku Totto-chan tersebut membuatku ingin menginggalkan semua aktivitas orang-orang jaman sekarang yang seringkali mengkritisi tanpa tahu benar apa yang sebenarnya mereka kritisi.

Aku akan berusaha untuk tidak hanya melihat apa yang terlihat tapi juga melihat apa yang ada dibalik semua yang tampak. Aku akan berusaha agar telingaku digunakan untuk mendengarkan, bukan hanya sekedar mendengar. Aku akan berusaha agar pikiranku terbuka untuk memahami kebenaran yang memang seharusnya dipahami. Aku akan berusaha untuk menghangatkan hatiku dan memenuhi ruang-ruangnya dengan simpati dan empati.

Sudah diketahui dari jaman dahulu kala, bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu, penyakit yang bernama ketidakpedulian harus segera dilenyapkan. Sikap solidaritas dan toleransi harus kembali ditajamkan. Untuk membuat manusia yang layak untuk disebut sebagai manusia.

Ini adalah sedikit ulasan dari beberapa kalimat yang ku temui sampai pada saat aku memasuki lembar ke 106 buku ini. Masih ada kira-kira 165 halaman lagi yang perlu ku telaah. Dan bisa jadi, aku akan membuat postingan mengenai buku ini lagi di lain waktu.

Comments

Popular Posts