Fenomena Busway

Hujan baru saja berhenti mengguyur dan langit masih terlihat sendu saat aku berdiri mengantri di halte busway sepulang kerja. Halte busway nya ramai. Ramai banget malah. Bejibun. Ah, halte busway ramai mah wes biasa. Saat itu aku berdiri di antrian belakang (kalau kerumunan orang itu bisa disebut sebagai antrian). Tepatnya, aku berdiri di pinggir agar nggak menghalangi orang yang lalu lalang (dengan susah payah juga lalu lalangnya) dan supaya aku bisa curi-curi pandang juga. Curi-curi pandang, kali-kali ada busway yang mendekat maksudnya..

Headset terpasang di telingaku. Saat lagu baru mengalun, sebuah busway datang. Ketika pintu busway terbuka langsung terjadi keributan. Kerumunan orang di halte bergerak, meringsek masuk, tak peduli ada penumpang yang mau turun atau tidak. Ricuh. Ku lepas headsetku sebelah, lalu terdengar teriakan dari kerumunan orang di depanku.
"Mbak, geser, mbak!!"
"Mbak, jangan dorong-dorong, dong!!"
Orang yang mengantre paling depan benar-benar harus mencari pegangan yang kuat, kalau nggak bisa-bisa body busway yang dicium, bukan suami yang sedang menunggu di rumah. Tak mau kalah, gerutuan penumpang yang mau turun pun terdengar. Penumpang yang ingin turun nggak dapat celah untuk melangkah karena penumpang yang tidak sabaran maju terus sradak sruduk.

Teriakan, gerutuan, makian terdengar silih berganti. Orang-orang merangsek masuk, tanpa peduli orang yang antre di depan mau nyungsep atau nggak. Petugas busway berusaha menenangkan antrean. Tapi, apa daya, suaranya kalah telak dengan kekeras kepalaan orang-orang yang nggak sabaran.

Memang hari itu hujan habis mengguyur, tapi banyak juga busway yang datang. Jadi, ku pikir nggak ada alasan untuk bertindak nggak sabar. Toh, bukan cuma 1-2 orang saja yang mau pulang. Semuanya juga mau pulang. Fenomena itu cukup membuatku, dan beberapa penumpang lainnya, menggelengkan kepala.

Memang, setiap waktu itu berharga. Tapi, sepertinya banyak orang yang menghargai waktu dengan cara yang salah. Mereka memang ingin cepat pulang. Tapi, sikap mereka yang nggak sabaran, dan nggak mempedulikan sekitar malah membuat keadaan menjadi sebaliknya. Maunya cepat, malah jadi lama karena nggak mau ngalah. Mau cepat, tapi ngalangin penumpang yang mau kelaur. Ngana fikir bisa jalan busway nya??
Keadaan tersebut terus berulang setiap kali ada busway yang datang. Berulang terus sampai lebih dari setengah jam kemudian.

Setelah keadaan cukup tenang, barulah aku mengambil langkah untuk masuk. Saat itu, aku juga bisa dibilang sedang buru-buru. Film yang mau ku tonton akan mulai beberapa menit lagi. Tapi, aku lebih rela ketinggalan beberapa menit adegan pertama daripada hidungku pesek gara-gara menabrak body busway atau nyungsep kejepit di antara busway dan halte, lalu gak bisa keluar. Kan, gak lucu!!
"Permisi.. sorry, permisi.."
Aku meneriakan kata-kata itu saat hendak masuk. Kata-kata yang sama sekali nggak ku dengar selama 'kericuhan' tadi berlangsung.

Orang-orang bisa menggerutu, memaki, berteriak dengan nada tinggi, tapi nggak bisa mengucap kata "permisi". Padahal satu kata itu bisa banyak buanget menghemat waktu dan tenaga.
Yah, abis ujan tuh enaknya minum coklat panas sambil selimutan di kamar, ini malah buang-buang energi di halte busway. Piye toh??

Comments

Popular Posts